Kamis, 26 Juni 2008

9 CINTA YANG MASIH BERTAHTA

“Aku ingin menikah dengan Huiny”

Berapa kali sudah kalimat itu mengusik hatinya. Dee sungguh tak mengerti. Apa yang ada dalam pikiran Bram?

“Ya, aku ingin menikah dengan Huiny. Boleh kan, kau tak keberatan?”

Bagaimana mungkin?!

Setelah semuanya?! Kenapa cinta itu masih bertahta di hati Bram?! Mungkinkah karena Bram didera perasaan bersalah. Mungkinkah selama ini Bram merasa tidak tenang karena telah meninggalkan Huiny begitu saja?

Dee sungguh tak mengerti. Sudah hampir lima bulan Bram tidak pulang. Bila memang Bram tidak mencintainya, setidaknya Dee berharap Bram akan berbelas kasih pada bayi mungil darah dagingnya sendiri.

Jika memang atas nama pernikahan, atas nama Vio -buah hati mereka- , sudah tak bisa mempertahankan Bram untuk tetap ada di sisinya, apa lagi yang bisa diharapkan?

Tiba-tiba Dee seperti baru tersadar, kenapa dulu Bram menikahinya. Mungkin bukan atas nama cinta, mungkin hanya sebentuk tanggung jawab. Atas konsekuensi apa yang telah mereka lakukan malam itu. Sesuatu yang memaksa laki-laki itu menikahinya.

Mungkin selama ini di hati Bram memang hanya ada satu nama. Dan itu bukan namanya. Nama itu adalah Huiny. Huiny lagi! Tiba-tiba ia merasa sangat benci pada gadis bernama Huiny itu. Apa sih kelebihan Huiny hingga ia masih saja menempati ruang istimewa di hati Bram!! Dan mengapa juga Bram masih begitu mencintai gadis itu? Rasa cemburu dan kebencian menguasai hati Dee, membuat dadanya sesak. Mengubahnya menjadi amarah. Dee merasa tak berdaya, tapi ia bertekad tak akan menyerah!

“Seharusnya akulah yang paling berhak menempati ruang istimewa di hati Bram. Aku istrinya. Bukan Huiny!”

Perempuan itu benar-benar terluka.

“Baiklah Bram, bila itu maumu, aku akan menerima.”

Perempuan itu meradang.

“Ceraikan aku dulu. Setelah itu, kau boleh menikah dengan Huiny!”

Dengan berat hati, diucapkannya kalimat itu pada Bram. Bila itu memang membuat Pras bahagia. Tak apa. Ia bisa melalui segalanya. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tak ada yang perlu ditakutkan. Keputusannya sudah bulat. Ia sudah sangat siap. Biarlah Bram memilih.

“Bagaimana Bram?!”

Laki-laki yang amat dicintainya itu menggeleng.

“Kau tetaplah istri dan ibu dari anakku. Aku tak mungkin dapat melepasmu.”

Hanya itu. Untuk selanjutnya laki-laki itu terdiam. Entah apa yang dipikirkannya.

Sampai pada suatu ketika, Dee mendengar kabar yang sungguh mengejutkan. Kabar yang sekaligus membuatnya lega.

Huiny menikah. Kabar yang ia dengar, Huiny menikah dengan laki-laki pilihan neneknya dan sekarang Huiny tinggal di kota yang sangat jauh. Mudah-mudahan dengan menikahnya Huiny membuat Bram segera melupakan gadis itu. Mengembalikan perhatian dan cinta Bram utuh padanya. Demi kebahagiaan keluarga kecil yang baru terbina.

Sekuat tenaga Dee berusaha menyimpan rasa cemburu yang membakar. Bagaimana mungkin Bram masih mencintai Huiny? Benarkah karena Huiny adalah cinta pertama Bram? First love is never die. Benarkah?! Atau karena sosok Huiny begitu berkesan di hati Bram?

Dee tak mengerti. Dan wanita itu berusaha tegar saat Bram terluka mendengar berita bahwa Huiny sudah menikah!

10 CINTA DALAM SELEMBAR BIODATA

Huiny menimang amplop putih yang belum dibukanya. Entah amplop yang ke berapa. Amplop yang menuntut jawaban. Tak begitu sulit, ia tinggal mengatakan “ya” atau “tidak”. Namun permasalahannya tak semudah itu. Tak sesederhana itu. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum ia memberi keputusan.

Ada rasa bersalah menggumpal di dadanya. Sudah berapa amplop yang datang kepadanya, dan berakhir dengan jawaban “tidak”. Amplop yang berisi biodata. Yang selalu membuat kepalanya pusing. Yang selalu berujung pada perasaan bersalah. Ia tak bisa menipu hatinya sendiri. Sungguh ia memang belum siap memberi jawaban “ya”. Meski almarhum bapak Huiny pernah menyuruh Huiny menikah sambil kuliah. Tak usah menunggu lulus dulu, nanti keburu tua. Sebaiknya menikah muda dan bisa melahirkan anak-anak sekitar usia 20 sampai 30 tahun. Nasehat itu masih diingatnya betul. Tidak usah khawatir soal rizki, begitu kata bapak, bijak. Saat itu bapak sudah mulai sakit-sakitan. Namun ia masih sangat memperhatikan Huiny dan selalu memberi nasehat. Dalam rasa sakit yang sering tak dihiraukannya.

Tiba-tiba mata bening itu berembun, “Bapak…” Huiny memanggil laki-laki tercinta itu dalam hati. Ada kerinduan menyeruak, dadanya tiba-tiba terasa begitu sesak. Dalam sekejab ia larut dalam isak. Rindu itu membuncah dan mengiris-iris hatinya.

Andai saja bapak masih ada, mungkin ia tak akan sebingung ini. Anda saja bapak masih hidup, mungkin ia bisa bertanya atau sekedar bertukar pikiran,. Kini ia harus menanggung semuanya sendirian. Tak ada tempat untuk sekedar menumpahkan keluh. Andai saja bapak dan ibu masih ada.

“Bapak, siapakah laki-laki yang terbaik untukku? Siapakah laki-laki yang pantas mendampingi anakmu ini? Yang dengannya aku akan menghabiskan sisa hidupku. Laki-laki yang benar-benar mencintaiku secara ikhlas menerimaku apa adanya. Yang bisa menghargai kelebihan-kelebihan dan tak berkeberatan dengan kekuranganku. Apakah ia ada?”

Huiny menghapus air matanya. Dalam hati ia memohon semoga Allah mengampuni dosa-dosa bapak. Doa seorang anak untuk orang tuanya yang sudah tiada, doa yang terucap dari lubuk hati, mudah-mudahan allah mendengarnya. Huiny sadar ia tak boleh larut dalam kesedihan. Meski semua terasa lebih berat.

Dengan pelan diletakkannya amplop itu di atas meja belajarnya. Masih utuh. Karena ia belum ingin membukanya. Meski ada setitik rasa ingin tahu. Mbak Fathya –kakak tingkatnya yang sekaligus pemberi amplop itu- hanya mengatakan bahwa pengirim amplop itu adalah seorang laki-laki sholeh. Seorang aktivis dakwah yang sudah siap berumah tangga.

Huiny menarik nafas dalam. Entah mengapa. Ia belum siap memikirkan untuk mengakhiri masa lajang. Mungkin lebih tepatnya, ia belum siap mencintai. Cinta? Tiba-tiba nyeri itu hadir kembali. Mencabik-cabik.

Cinta itu bunga
Bunga yang tumbuh mekar dalam taman hati kita
Taman itu adalah kebenaran
Apa yang dengan kuat menumbuhkan
Mengembangkan dan memekarkan bunga itu adalah
Air dan matahari
Air dan matahari adalah kebaikan
Air memberinya kesejukan dan ketenangan
Tapi matahari memberinya gelora kehidupan
Cinta dengan begitu
Merupakan dinamika yang bergulir secara sadar
Di atas latar wadah perasaan kita *

Huiny tertegun. Jika cinta itu bunga, ia ingin bunga yang tak hanya indah namun juga harum. Bunga yang akan menyejukkan hati siapa saja yang memandangnya. Bunga yang mampu mengusir pedih. Bunga yang tak berduri, yang tak melukai. Adakah?

Huiny sadar, ia bukanlah tipe perempuan yang mudah mencintai. Bukan tipe wanita yang mudah jatuh cinta. Mungkin karena ia belum menemukan orang yang tepat. Cinta itu –andai ada- mungkin masih tersimpan rapat.

Karena Bram?

Huiny menggeleng, ragu. Mungkin ya, mungkin tidak. Entahlah. Dia hanya tak ingin mengalami nyeri yang sama. Orang yang paling bisa melukai hati kita adalah orang yang paling kita cintai. Nyeri itu masih terasa hingga kini. Ia tak tahu apakah cinta itu masih bertahta di hatinya.

Ia coba yakinkan bahwa Bram tak pernah mencintainya. Jadi ia sungguh ingin memulai semuanya dari awal. Ia ingin melangkah dengan ringan. Jelang hari esok dan hari-hari yang kan hampiri hidupnya.

“Bantu aku ya Allah, tunjukkan yang terbaik untukku. Aku ingin ikhlas jalani semua takdirmu. Berikan yang terbaik, meskipun itu air mata…”

Mata bening itu terpejam. Khusyuk dalam sujud panjang. Sujud cinta. Sujud kerinduan akan bening kasih-Nya…

*) Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga, M Anis Matta

11 SECERCAH BIMBANG

“Bagaimana Huiny, sudah ada keputusan?”

Huiny diam menahan nafas. Di depannya, tampak Fathya, sabar menunggu adik tingkatnya itu memberi jawaban. Ini adalah proposal yang keenam. Perempuan itu berharap suatu hari nanti Huiny segera menemukan jodoh yang tepat. Huiny sudah sering menolak. Tapi ia tak bisa menyalahkan Huiny. Jodoh tak bisa dipaksa, apalagi bila saat istikharah belum mantap.

Huiny menyerahkan amplop yang belum dibukanya. Di depannya Fathya tersenyum bijak. Sejak pertama kali bertemu, Huiny sudah mencuri perhatiannya. Seorang gadis muda yang begitu bersemangat belajar Islam. Tak ada rasa rendah diri meskipun saat pertama kali bergabung Huiny belum bisa membaca Al Qur’an. Dengan tekun ia mulai belajar Iqro’ 1, mengejanya dengan terbata-bata. Namun semua itu tak mengurangi semangatnya. Huiny juga rajin dating ke majelis ilmu. Aktif dalam organisasi kampus dan mempunyai jiwa seni yang lumayan. Dia adalah anggota inti team teater muslimah dan team nasyid muslimah SKI fakultas. Sering membuat naskah drama dan menciptakan lirik nasyid. Aktivitas gadis itu lumayan padat, namun IP-nya selalu beranjak dari nilai 3,5. Subhanallah.

“Belum dibuka?”

Huiny menggeleng. “Saya takut salah langkah, Mbak,” jawab Huiny lirih. Selama ini semua nama yang datang padanya adalah nama-nama yang sudah dikenalnya. Sudah tak asing baginya.

“Bolehkah bila saya ingin menikah dengan seseorang yang belum saya kenal, Mbak?” tanya Huiny hati-hati.

Fathya tersenyum, “Boleh, namun Rasulullah menyarankan kita mengenal calon pasangan kita.”

“Mungkin saya berlebihan, tapi saya khawatir mereka hanya melihat apa yang tampak dari saya. Saya takut mengecewakan Mbak, bila nanti ternyata saya tidak seperti apa yang diharapkan. Apalagi untuk yang sudah ada rasa, bukankah cinta itu sebaiknya hadir setelah adanya pernikahan?”

Fathya tersenyum. Huiny bersikeras ingin menikah dengan seseorang yang belum dikenalnya. Keyakinan itu tak tergoyahkan, meski ada beberapa aktivis kampus yang coba meminangnya. Bahkan ada beberapa yang dengan jujur mengatakan bahwa ia mencintai Huiny dan minta tolong Fathya untuk menyampaikan maksudnya pada gadis itu. Tapi Huiny tetap teguh pada pendiriannya.

“Saya hanya ingin menjaga hati saya Mbak. Saya hanya ingin mencintai suami karena Allah. Saya ingin cinta hadir setelah penikahan. Apakah itu salah Mbak?”

Fathya menggeleng, “Insya Allah yang ada di amplop itu seseorang yang belum kamu kenal, Huiny. Seorang pemuda yang suami Mbak sudah kenal dengan baik. Tidak ada salahnya dibuka, dan istikharahlah. Jangan khawatir, bila kau menolaknya, tak berarti itu menyakiti hatinya. Dia sudah siap dengan jawaban apapun darimu. Itu adalah ujian baginya dan dia harus ikhlas menerimanya. Bila memang Allah memberikan kemantapan, itu juga sebuah ujian bagi kalian berdua.”

“Mbak, maaf boleh saya bertanya?” tanya Huiny hati-hati.

Fathya mengangguk dan tersenyum.

“Apa artinya bila kita menolak pinangan seorang pemuda yang sholeh dan baik akhlaknya? Apakah kita berdosa? Apakah akan ada kerusakan di muka bumi?”

Fathya tersenyum, “Menikah adalah ibadah. Cepat-cepat menikah bila memang sudah siap, adalah bagian dari berlomba-lomba dalam kebaikan. Bila kita menemukan pemuda yang baik, yang menurut kita sungguh baik, dan ada yang menjodohkan kita dengannya, maka kenapa kita harus menolaknya? Kalau kita menolaknya, mungkin pemuda itu akan menikah dengan gadis yang lain. Mungkin juga belum tentu kita menemukan jodoh yang lebih baik. Meskipun jodoh ada yang mengaturnya, yaitu Allah. Tapi kan kita harus ikhtiar. Di antara bentuk ikhtiar, ketika menemukan yang baik kita harus bersyukur. Bagaimana bentuk syukurnya? Menerimanya dan menikah untuk membentuk keluarga yang islami. Berikhtiar dan menikahnya juga harus sesuai ajaran agama.”

“Lalu bagaimana kalau misalnya kita tidak mencintai suami kita atau sebaliknya? Apakah Mbak Fathya pernah mendengar sebuah pernikahan tanpa cinta?”

“Cinta membuat rumah tangga hangat dan hidup. Tapi ada yang lebih penting dari cinta, yaitu komitmen.”

“Bagi saya sendiri, kadang muncul kekhawatiran Mbak. Apakah saya sudah menemukan orang yang tepat atau tidak? Saya ingin menikah sekali saja seumur hidup. Apakah saya akan bisa menghabiskan sisa hidup saya dengan seseorang. Orang yang sama, Mbak. Yang akan jadi imam saya. Yang akan menjadi ayah dari anak-anak saya.”

Fathya tersenyum. “Kekhawatiran itu amat wajar dan manusiawi. Yang penting kita sudah berusaha, selebihnya kita serahkan pada Allah. Karena Dia yang mengenggam hati kita, juga hati pasangan kita.”

“Apa yang harus saya lakukan, Mbak?”

“Huiny, setiap orang yang memasuki usia menikah pasti punya kekhawatiran-kekhawatiran. Sebenarnya yang lebih penting adalah kesamaan misi dan visi. Insya Allah masalah suku, sifat dan latar belakang yang berbeda, semua akan bisa diatasi. Bukan berarti bisa berubah secara tiba-tiba, namun semangat untuk saling memahami, semangat untuk belajar mencintai, belajar menerima pasangan kita apa adanya, Insya Allah semua itu akan menghadirkan ikatan yang kokoh dan kuat. Yang mampu melahirkan kebaikan, tak hanya bagi keluarga itu sendiri, namun kebaikan itu akan memancar ke lingkup yang lebih lebar, yaitu masyarakat dan lingkungan.”

Huiny tampak serius mendengarkan penuturan kakak tingkatnya itu. Sesungguhnya ia juga sedang belajar, berproses memperbaiki diri. Proses yang akan terjadi seumur hidup, hingga tangan maut menjemput.

12 SEBUAH AWAL

Tak ada alasan untuk menolak pinangan seorang pemuda yang baik. Huiny memutuskan untuk menindaklanjuti proposal terakhir yang datang padanya. Meski kadang muncul sebuah rasa bimbang. Berkali-kali ia sholat istikharah, menyandarkan masa depan ke hadapan Sang Khalik. Menyandarkan semua beban kehidupan, harapan dan cita-cita.

Ia memutuskan untuk melanjutkan proses pinangan Fahri Hamzah, setelah melalui pergulatan batin yang panjang. Ia akan coba membuka komunikasi dengan Fahri, pemuda kelahiran Jakarta, baru lulus dari Fakultas Akuntansi sebuah sekolah tinggi yang bernaung di bawah sebuah departemen pemerintah. Selembar foto yang menyertai biodata itu cukup memantapkan langkahnya. Rahang yang kokoh, sepasang mata lembut dan ciri fisik yang lain. Cukup menyejukkan. Huiny tersenyum. Ya, Allah, berilah aku suami yang indah dalam pandanganku. Tak hanya indah fisik, tapi juga akhlaknya. Begitu selalu doanya dulu. Tak perlu ganteng atau tampan menurut orang lain, yang penting menurut pandangan kita cukup menyejukkan. Terserah bila menurut orang lain jelek. Begitu candanya dulu dengan Aisha –teman kostnya- saat Aisha menanyakan kriteria suami idaman. Apakah wajah juga masuk kriteria utama dalam memilih suami?

Tak perlu waktu lama. Di rumah Mbak Fathya, Huiny dan Fahri pertama kali bertemu. Tentu dengan batas hijab. Ia hanya mendengar suara berat Fahri, tanpa bisa melihat sosoknya. Demikian juga dengan Fahri. Mereka berbicara apa saja. Tentang latar belakang keluarga masing-masing, juga harapan-harapan setelah menikah nanti. Fahri ditemani Mas Arif, suami Mbak Fathya. Sedang ia berada di ruang tengah bersama Mbak Fathya dan si kecil Alifya.

“Bagi saya mencari nafkah adalah tugas seorang suami. Saya ingin istri yang di rumah. Seorang ibu rumah tangga. Tak usah bekerja di luar. Menjaga anak-anak saja dan mengurus keluarga.”

Tanpa sadar Huiny ternganga. Dipandangnya Mbak Fathya yang tampak menahan senyum. Tak salahkah pendengarannya?

“Tapi saya ingin menjadi ibu yang juga bekerja. Bila ibu hanya di rumah saja, anak-anak akan manja dan sulit mandiri. Ibu yang bekerja tak selalu harus menelantarkan keluarganya. Justru membuat anak-anak mandiri dan tak tergantung pada orang lain.”

Terlalu banyak perbedaan. Baik dari pemikiran maupun latar belakang. Diliriknya Mbak Fathya, “Pernikahan adalah menyatukan perbedaan menjadi kekuatan yang indah. Saling melengkapi.”

Huiny tertegun. Benarkah keputusannya sudah bulat? Terlalu banyak perbedaan. Dugaannya, calon suaminya adalah anak mama yang mendapat perhatian penuh dari ibunya yang selalu ada di rumah. Yang selalu siap kapan saja anaknya membutuhkan kehadirannya. Ibu yang selalu siap saat anaknya membutuhkan pertolongan. Model ketergantungan yang tinggi. Sementara ia adalah produk ibu bekerja, yang terlatih mandiri sejak kecil. Ibu Huiny bekerja membantu bapak Huiny mengelola penggilingan padi. Waktu kerja orang tua Huiny tidak mengenal waktu. Kadang dari pagi sampai sore. Bila musim panen padi tiba, sering mereka bekerja sampai larut malam. Anak-anak tinggal di rumah dengan nenek ditemani si mbak. Mereka sudah terbiasa belajar mandiri. Kedua orang tuanya selalu menanamkan bahwa mereka harus bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Menekankan pentingnya mencari ilmu setinggi langit. Dalam kehidupan Huiny kecil, naik kelas dan lulus adalah hal biasa. Menjadi kebanggaan kalau bisa menyandang gelar juara dan diterima di sekolah favorit, di universitas terbaik. Kedua orang tua Huiny sangat berharap kehidupan anak-anaknya akan lebih baik dari orang tuanya. Dan hal itu hanya bisa dicapai dengan memberi pendidikan yang baik. Mereka tidak pernah menuntut anaknya harus menjadi ini dan itu. Hanya berharap menjadi yang terbaik. Dengan pendidikan yang juga lebih baik. Kecintaan menuntut ilmu sudah tertanam dalam diri Huiny sejak kecil.

Bapak dan ibu Huiny memang telah lama tiada. Namun hal itu tak menghalangi Huiny kecil untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Kecintaan dan kerinduan itu sering tersalurkan dengan belajar dan belajar. Ia harus lulus dengan cum laude. Memberikan persembahan terbaik untuk orang tua yang amat dicintainya.

Ada kebimbangan. Calon suaminya mendukung penuh ia menyelesaikan kuliahnya. Tapi tidak boleh bekerja. Duh.

Ia memang ingin jadi ibu rumah tangga. Tapi ia juga ingin bekerja. Setidaknya mengamalkan ilmu yang didapat dengan susah payah. Dan yang lebih penting lagi, ia ingin bisa bermanfaat untuk orang lain. Alasan yang lainnya, ia juga ingin punya penghasilan sendiri. Apakah itu salah?

Selama ini ia berpendapat bahwa wanita pun sebaiknya bisa menghasilkan uang, tanpa harus menelantarkan suami dan anak-anak. Meski banyak orang mengatakan bahwa uang bukan segala-galanya, atau banyak hal yang lebih penting dan lebih mulia dari pada uang. Tetap ada rasa tidak enak bila kita tidak mempunyai uang, lebih-lebih dalam kondisi darurat. Huiny sudah teramat sering mengalaminya. Hal itu juga yang memacunya untuk mandiri dan tidak mau tergantung pada orang lain. Baik secara materi maupun emosi.

“Tenang Huiny, semua bisa dibicarakan. Kita tidak harus mendapatkan suami yang sama persis dengan kita,” Fathya berkata lembut, seakan tahu kebimbangan di hati Huiny.

Bagaimana bisa tenang? Ia sedang mempertaruhkan masa depannya. Masa depan dunia dan akheratnya. Bukankah seorang suami adalah imam dalam rumah tangga? Bukankah suami adalah pemimpin istri? Pemimpin yang harus dipatuhi dan ditaati. Yang bisa membawa istrinya pada kebaikan, di bawah kepemimpinannya.

“Dulu Mas Arif juga keras, tapi sabar saja. Kita bisa memberi pengertian sedikit demi sedikit pada suami kita,” kata Fathya.

Benarkah?! Selama ini Huiny percaya, ia tak akan pernah berharap bisa mengubah seseorang. Karena karakter seseorang memang tak bisa diubah. Pun dengan menikah. Karena pernikahan memang bukan untuk mengubah seseorang. Jadi?!

“Akan saya pertimbangkan lagi Mbak,” kata Huiny lirih.

Tak ada yang bisa dipaksakan. Ia hanya tak ingin mengambil keputusan secara gegabah. Baik menolak maupun menerima. Ia harus melakukan istikharah lagi. Kembali mengadukan bimbang itu ke Yang Maha Memiliki Hati. Andai ia menerima, ia harus siap dengan segala konsekuensinya. Pun andai menolak, harus siap dengan segala resikonya.

13 TENTANG CINTA

...........

14 AKU INGIN

.............

15 KARENA ENGKAU ISTRIKU

.............