Huiny menimang amplop putih yang belum dibukanya. Entah amplop yang ke berapa. Amplop yang menuntut jawaban. Tak begitu sulit, ia tinggal mengatakan “ya” atau “tidak”. Namun permasalahannya tak semudah itu. Tak sesederhana itu. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum ia memberi keputusan.
Ada rasa bersalah menggumpal di dadanya. Sudah berapa amplop yang datang kepadanya, dan berakhir dengan jawaban “tidak”. Amplop yang berisi biodata. Yang selalu membuat kepalanya pusing. Yang selalu berujung pada perasaan bersalah. Ia tak bisa menipu hatinya sendiri. Sungguh ia memang belum siap memberi jawaban “ya”. Meski almarhum bapak Huiny pernah menyuruh Huiny menikah sambil kuliah. Tak usah menunggu lulus dulu, nanti keburu tua. Sebaiknya menikah muda dan bisa melahirkan anak-anak sekitar usia 20 sampai 30 tahun. Nasehat itu masih diingatnya betul. Tidak usah khawatir soal rizki, begitu kata bapak, bijak. Saat itu bapak sudah mulai sakit-sakitan. Namun ia masih sangat memperhatikan Huiny dan selalu memberi nasehat. Dalam rasa sakit yang sering tak dihiraukannya.
Tiba-tiba mata bening itu berembun, “Bapak…” Huiny memanggil laki-laki tercinta itu dalam hati. Ada kerinduan menyeruak, dadanya tiba-tiba terasa begitu sesak. Dalam sekejab ia larut dalam isak. Rindu itu membuncah dan mengiris-iris hatinya.
Andai saja bapak masih ada, mungkin ia tak akan sebingung ini. Anda saja bapak masih hidup, mungkin ia bisa bertanya atau sekedar bertukar pikiran,. Kini ia harus menanggung semuanya sendirian. Tak ada tempat untuk sekedar menumpahkan keluh. Andai saja bapak dan ibu masih ada.
“Bapak, siapakah laki-laki yang terbaik untukku? Siapakah laki-laki yang pantas mendampingi anakmu ini? Yang dengannya aku akan menghabiskan sisa hidupku. Laki-laki yang benar-benar mencintaiku secara ikhlas menerimaku apa adanya. Yang bisa menghargai kelebihan-kelebihan dan tak berkeberatan dengan kekuranganku. Apakah ia ada?”
Huiny menghapus air matanya. Dalam hati ia memohon semoga Allah mengampuni dosa-dosa bapak. Doa seorang anak untuk orang tuanya yang sudah tiada, doa yang terucap dari lubuk hati, mudah-mudahan allah mendengarnya. Huiny sadar ia tak boleh larut dalam kesedihan. Meski semua terasa lebih berat.
Dengan pelan diletakkannya amplop itu di atas meja belajarnya. Masih utuh. Karena ia belum ingin membukanya. Meski ada setitik rasa ingin tahu. Mbak Fathya –kakak tingkatnya yang sekaligus pemberi amplop itu- hanya mengatakan bahwa pengirim amplop itu adalah seorang laki-laki sholeh. Seorang aktivis dakwah yang sudah siap berumah tangga.
Huiny menarik nafas dalam. Entah mengapa. Ia belum siap memikirkan untuk mengakhiri masa lajang. Mungkin lebih tepatnya, ia belum siap mencintai. Cinta? Tiba-tiba nyeri itu hadir kembali. Mencabik-cabik.
Cinta itu bunga
Bunga yang tumbuh mekar dalam taman hati kita
Taman itu adalah kebenaran
Apa yang dengan kuat menumbuhkan
Mengembangkan dan memekarkan bunga itu adalah
Air dan matahari
Air dan matahari adalah kebaikan
Air memberinya kesejukan dan ketenangan
Tapi matahari memberinya gelora kehidupan
Cinta dengan begitu
Merupakan dinamika yang bergulir secara sadar
Di atas latar wadah perasaan kita *
Huiny tertegun. Jika cinta itu bunga, ia ingin bunga yang tak hanya indah namun juga harum. Bunga yang akan menyejukkan hati siapa saja yang memandangnya. Bunga yang mampu mengusir pedih. Bunga yang tak berduri, yang tak melukai. Adakah?
Huiny sadar, ia bukanlah tipe perempuan yang mudah mencintai. Bukan tipe wanita yang mudah jatuh cinta. Mungkin karena ia belum menemukan orang yang tepat. Cinta itu –andai ada- mungkin masih tersimpan rapat.
Karena Bram?
Huiny menggeleng, ragu. Mungkin ya, mungkin tidak. Entahlah. Dia hanya tak ingin mengalami nyeri yang sama. Orang yang paling bisa melukai hati kita adalah orang yang paling kita cintai. Nyeri itu masih terasa hingga kini. Ia tak tahu apakah cinta itu masih bertahta di hatinya.
Ia coba yakinkan bahwa Bram tak pernah mencintainya. Jadi ia sungguh ingin memulai semuanya dari awal. Ia ingin melangkah dengan ringan. Jelang hari esok dan hari-hari yang kan hampiri hidupnya.
“Bantu aku ya Allah, tunjukkan yang terbaik untukku. Aku ingin ikhlas jalani semua takdirmu. Berikan yang terbaik, meskipun itu air mata…”
Mata bening itu terpejam. Khusyuk dalam sujud panjang. Sujud cinta. Sujud kerinduan akan bening kasih-Nya…
*) Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga, M Anis Matta
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar