Kamis, 26 Juni 2008

4 HUINY

Lembut, pendiam, pintar, berjilbab. Dan mungkin juga cantik. Itulah perempuan yang selalu disebut-sebut Bram. Perempuan yang begitu beruntung karena berhasil menempati ruang istimewa di hati Bram.

Dee selalu berusaha menyembunyikan bara yang berkobar di hatinya, setiap melihat binar di mata Bram, saat lelaki tampan itu bercerita tentang Huiny. Kelihatan sekali kalau Bram sangat mencintai gadis itu. Huiny. Huiny. Selalu Huiny. Begitu istimewakah gadis bernama Huiny itu?

Tapi, kenapa ia harus cemburu pada Huiny? Bram bukan apa-apanya, hanya seorang teman, tak lebih. Dan sudah ada Mas Tommy, seseorang yang pasti amat menyayanginya. Meski itu hasil perjodohan antar orang tua. Tapi melihat Bram yang selalu bercerita tentang Huiny, mau tak mau ada juga rasa cemburu terbersit di hati gadis tomboy itu.

“Ini hadiah dari Huiny,” kata laki-laki itu, sambil tangannya menunjuk sebentuk syal. Saat itu mereka sedang melakukan pendakian bersama. Dee melihat syal hijau lumut yang tampak melingkar di leher Bram. Ada nama Bram dan Huiny yang tertera cantik di kedua ujung syal itu. Dee tersenyum, menutupi rasa cemburu yang tiba-tiba memenuhi rongga dadanya.

“Dia merajut syal ini sendiri, katanya sih, neneknya yang mengajari merajut. Lucu ya, hari gini, masih ada gadis yang bisa merajut. Dia bahkan merancang dan menjahit sendiri baju-bajunya,” kata Bram dengan tersenyum. Dee menangkap kebanggaan dalam nada bicara Pras.

“Kok kamu nggak ngajak Huiny naik gunung sih Bram? Apa dia tidak suka?” tanya Dee mengalihkan pembicaraan.

“Huiny? Pasti dia akan senang sekali kalau bisa ikut. Merasakan letihnya pendakian dan menikmati segala keindahan dari puncaknya. Hm…segar sekali di sini, aku janji akan membawakan edelweiss untuknya,” jawab Bram sambil tangannya melihat hamparan rumput menghijau.

“Selama ini ia cukup puas melihat semua keindahan itu melalui foto.Atau lewat majalah National Geographic, majalah kesukaannya. Bapak huiny cukup tegas. Dia amat menjaga dua anak perempuannya, Huiny dan kakaknya. Jangankan naik gunung, dibonceng naik motor sama teman laki-laki saja tidak boleh,” jawab Bram sambil tertawa kecil.

“Masih kolot ya bapak Huiny itu. Kenapa ia tidak dipingit saja sekalian?” kata Dee.

Bram hanya mengangkat bahu. “Mungkin kolot sih tidak ya, malah menurutku cukup demokratis, mau ambil jurusan apa saja silakan, asal bertanggung jawab. Tapi untuk hal-hal tertentu memang agak tegas, misalnya SMA Huiny harus kos, agar belajar mandiri dan belajar hidup terpisah dengan orang tua. Buat latihan karena kuliah kan adanya di luar kota, supaya tidak kaget berjauhan dengan orang tua. Boleh juga sih ikut ekskul pramuka, boleh juga pergi berkemah. Dengan syarat kegiatan itu yang mengadakan pihak sekolah dan ada guru yang ikut serta bertanggung jawab,” kata Bram panjang lebar.

Dee hanya tersenyum. Mencoba membandingkan ayah Huiny dengan papanya. Papa tak pernah melarang sedikit pun. Dee bebas melakukan apa saja yang dia kehendaki. Bahkan papa sepertinya tampak biasa saja, saat Dee minta ijin beliau untuk pergi mendaki gunung dengan Pras dan empat teman lelakinya. Hanya Dee yang perempuan. Papa biasa saja, tidak tampak khawatir dan percaya padanya. Papa percaya Dee bisa menjaga diri, dan Dee juga berusah menjaga kepercayaan yang sudah diberikan papanya. Apalagi bagi keluarga Dee, Bram bukan orang lain. Kebetukan mama Dee mempunyai usaha kos-kosan dan Bram adalah adik kandung Mbak Tiara, anak kos kesayangan mama Dee. Mbak Tiara sangat memperhatikan kebersihan kamar, sikapnya sopan dan lembut. Juga karena Mbak Tiara selalu tepat membayar uang sewa kos, tidak seperti penyewa lain yang harus ditagih-tagih baru bayar. Itulah kenapa mama Dee sangat saying pada Mbak Tiara dan sudah menganggapnya sebagai keluarga sendiri. Apalagi Mbak Tiara sudah cukup lama kos di tempat mama Dee, dari masuk kuliah hingga sekarang hampir wisuda. Jadi, orang tua Dee pun sepertinya sudah menganggap Bram bagian dari keluarga mereka.

Bram sering main ke tempat kakaknya. Saat itulah ia kenal dengan Dee. Meskipun anak orang kaya, Dee tidak sombong. Pembawaannya yang selalu ceria dan supel,membuat gadis periang itu mempunyai teman cukup banyak. Tidak sulit bersahabat dengan Dee, karena ia juga pandai bergaul. Bram merasa cukup nyaman berteman dengan Dee. Dee yang terbuka dan apa adanya. Dee yang ekspresif dan sangat perhatian. Berbeda dengan Huiny yang agak pendian dan sedikit tertutup. Bersama Dee, ia merasa bebas bercerita apa saja. Bebas mengungkapkan segala hal yang menyesakkan jiwa. Dee yang baik dan perhatian, selalu setia mendengar segala ceritanya. Pun tentang hubungannya dengan Huiny yang terasa kian jauh, Bram bebas menceritakannya pada Dee.

Bagi Bram, Dee adalah seorang teman yang menyenangkan. Bram tahu bahwa orang tua Dee telah menjodohkan gadis itu dengan Tommy, anak relasi bisnisnya. Selain itu juga jauh di lubuk hatinya, sudah ada sebentuk nama yang mengisi ruang istimewa di hatinya, nama itu adalah Huiny. Huiny adalah cinta pertama yang singgah di hatinya. Huiny yang pendiam dan sungguh sulit teraih. Huiny, cinta yang membuat malam-malamnya resah dan singnya gelisah. Sungguh sulit rasanya membuka kominikasi dengan Huiny. Mereka kuliah di kota yang sama. Tapi, mereka jarang sekali berkomunikasi kalau boleh dibilang hampir tak ada komunikasi. Kesibukan kuliah? Ego yang masih sulit disingkirkan?

Kadang Bram merasa, Huiny begitu sempurna. Kadang ia merasa Huiny tak pantas untuknya. Bram tidak pernah tahu apa yang ada di hati Huiny. Gadis itu sungguh sulit didekati. Perasaannya sulit ditebak. Kadang ia merasa Huiny sangat sayang dan perhatian padanya. Namun di saat yang sama, ada kekhawatiran bahwa ia tak akan mampu membahagiakan Huiny kelak.

Huiny pun tampak menjaga jarak. Apalagi saat ia mulai aktif ikut kajian di kampus dan memakai jilbab. Hal itu membuat Bram merasa agak sungkan dan kadang terbersit rasa tak pantas.

Bram terpekur, membayangkan percakapannya dengan Ikhwan saat mereka berdua sholat di masjid kampus.

“Kenapa kalian tidak menikah saja?” tanya Ikhwan, temannya yang aktif di rohis fakultas.

“Maksudmu Wan?”

“Kamu lamar Huiny dan kalian menikah, beres kan?”

“Tapi, Wan…”

Ikhwan tersenyum dan menepuk bahunya lembut. Ia mencoba memahami masalah yang membuat kawannya gelisah akhir-akhir ini.

“Aku bisa mengerti mengapa Huiny tampak menjaga jarak denganmu. Bukankah memang sudah seharusnya begitu? Seorang muslimah harus menjaga kehormatannya dari laki-laki yang bukan mahramnya. Bila kamu memang sudah mantap, aku sarankan lebih baik menikah saja. Menikah adalah ibadah, sunnah rasul, jalan untuk memelihara kesucian diri, mengasah tanggung jawab dan akan mematangkan proses pendewasaan diri.”

Sejak itu Bram dan Ikhwan sering terlibat diskusi tentang pernikahan. Selain itu Bram juga menyaksikan sendiri, banyak kakak tingkat dan teman-temannya sesame mahasiswa yang melakukan pernikahan di usia muda. Nikah sambil kuliah. Istilah untuk mereka yang memutuskan menikah sambil meneruskan aktivitasnya kuliah. Dunia yang penuh dengan pernak perniknya. Bukan sesuatu yang mudah, tapi memang setiap keputusan selalu ada konsekuensinya. Setiap pilihan ada resikonya.

Untuk lebih memantapkan hatinya, Bram banyak membaca buku-buku yang berhubungan dengan pernikahan. Hingga suatu saat hatinya sudah bulat. Ia ingin melamar Huiny dan mereka akan menikah. Mengarungi bahtera rumah tangga. Merasakan pahit manisnya kehidupan. Bersama-sama.

Ia ingin memberikan surprise pada gadis itu. Bram sengaja tak menceritakan rencananya itu pada Huiny. Ia sangat mencintai gadis itu dan merasa yakin Huiny juga pasti akan menerima pinangannya. Sikap Huiny sudah jelas. Ia tidak pernah melihat Huiny menjalin hubungan dengan pemuda lain. Bahkan sebelum Huiny aktif ikut kajian dan mengenakan jilbab. Gadis itu sangat menjaga dirinya. Mungkin hanya dialah satu-satunya teman dekat Huiny di masa kecil. Bersama jalani masa SMP dan SMA. Huiny yang tertutup dan pendiam. Entah kenapa cinta itu tumbuh begitu saja. Pada sosok yang biasa dan sederhana.

Tidak ada komentar: