Kamis, 26 Juni 2008

7 CINTA TAK HARUS MEMILIKI

“Aku ingin jadi dokter,” mata bening itu berbinar.

Bram tersenyum, “Semua cita-citamu akan tercapai. Aku yakin itu.”

Mata bening itu membulat. “Oya, kenapa kau seyakin itu?”

“Karena…” Bram sengaja tak melanjutkan kalimatnya. Di depannya, Huiny tampak tak sabar menunggu kalimat Bram selanjutnya.

“Ayo Bram, kenapa? Karena aku pintar ya…hehe…” kata Huiny sambil tertawa.

Bram menggeleng. Huiny cemberut, dan Bram senang melihat ekspresi perempuan yang amat dicintainya itu. Lucu sekali.

“Ih, jangan terlalu percaya diri. Siapa bilang kamu pintar?”

“Terus, apa dong?”

“Aku yakin, suatu saat nanti kamu akan jadi dokter. Dan aku juga yakin semua yang kau cita-citakan akan tercapai. Karena…” Bram berhenti, mukanya tampak serius.

“Karena kau akan selalu mendoakanku,” lanjut Huiny, sudah hafal dengan apa yang akan dikatakan Bram.

“Ya betul, karena aku akan selalu mendoakanmu…” jawab Bram sambil tersenyum, begitu yakin dan percaya.

Mata bening itu tertawa. Dan Bram senang melihat senyum di wajah Huiny. “Terima kasih Bram, kau baik sekali…”

Bram amat paham mengapa Huiny ingin sekali menjadi dokter. Gadis pendiam itu begitu terobsesi dengan cita-citanya.tak ada yang dilakukannya selain belajar dan belajar. Meraih nilai terbaik dalam setiap mata pelajaran. Hatinya pun mudah tersentuh oleh penderitaan orang lain. Jiwa sosialnya amat tinggi. Jika ada teman yang sakit, ia akan mengkoordinir teman-teman untuk menengoknya. Atau mengumpulkan dana untuk mengadakan bakti sosial pengobatan gratis di tempat-tempat yang membutuhkan. Kebetulan ia kenal baik dengan Dokter Yuniar, dokter puskesmas yang juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Jadilah mereka sebuah tim yang kompak.

Namun yang lebih penting dari semua itu, Huiny kecil pernah merasakan kehilangan yang sangat, saat ibu yang amat dicintainya meninggal dunia. Saat itu kebetulan dokter jaga sedang menolong kelahiran di suatu tempat, dan ibu Huiny terlambat mendapatkan pertolongan . Kehilangan itu amat memukul jiwa Huiny kecil. Saat itulah ia bertekad menjadi dokter. Ia hanya tak ingin ada Huiny-Huiny kecil lain yang kehilangan ibu yang sangat dicintainya, hanya karena terlambat mendapatkan pertolongan seorang dokter!!

“Seandainya saat itu ibu cepat mendapatkan pertolongan dokter, mungkin…..” mata bening Huiny tampak berkabut.

Ingin Bram merengkuh tubuh ringkih yang sedang bersedih itu. Namun seakan ia tak bisa bergerak dari tempat duduknya.

“Aku berjanji akan membuatmu bahagia. Aku akan melakukan apa saja untuk membuatmu tak menangis lagi.” Bram berjanji pada dirinya sendiri. Mata bening itu menyimpan kesedihan, sunyi dan murung. Huiny yang pemalu dan pendiam. Entah kenapa ia sangat mencintai gadis itu. Ia ingin melindungi gadis rapuh itu. Pada saat yang sama, gadis itu bisa tertawa sekaligus menangis bila ingat kesedihannya. Seperti saat itu.

Dan kini, doa Bram terwujud. Sekarang Huiny sedang kuliah di kedokteran, seperti cita-citanya waktu kecil dulu. Seperti keyakinan Bram saat itu. Namun janji itu tinggal janji. Bram tak pernah memenuhi janjinya untuk selalu membuat Huiny bahagia. Untuk selalu menemani gadis itu dalam suka dan duka. Sesuatu yang terjadi saat itu telah menciptakan jarak tak tertempuh antara dirinya dengan Huiny. Hanya dalam hitungan detik, entah sadar entah tidak. Tak ada jalan kembali, meski hanya sekejab.

“Maafkan aku, Huiny. Meski kutahu, segunung kata maaf dariku tak kan mampu mengusir lara di hatimu.”

Selalu ada kalut, saat ingatannya terpaut pada gadis bermata bening itu. Bahkan Bram tidak tahu, dimana dan bagaimana Huiny kini. Andai ia bukanlah seorang pengecut. Andai ia tak harus melukai mata bening itu. Rasa bersalah it uterus mengikutinya. Sangat tidak adil perlakuannya terhadap Huiny selama ini. Tapi sungguh, ia tak berdaya.

“Aku hanyalah seorang pengecut yang tak punya nyali, yang tak pernah berani. Bahkan untuk sekedar menatap mata beningmu. Semoga kau mengerti. Semoga suatu saat nanti. Aku bukan yang terbaik untukmu, meski aku sangat mencintaimu…”

Ada perih saat lamat-lamat dari kejauhan terdengar sepenggal lirik Roman Picisan milik Dewa

“….cintaku tak harus…miliki dirimu….”

Mata Bram berkabut, jiwanya mendung. Ada hampa di ruang hatinya.

Tidak ada komentar: