Tak ada alasan untuk menolak pinangan seorang pemuda yang baik. Huiny memutuskan untuk menindaklanjuti proposal terakhir yang datang padanya. Meski kadang muncul sebuah rasa bimbang. Berkali-kali ia sholat istikharah, menyandarkan masa depan ke hadapan Sang Khalik. Menyandarkan semua beban kehidupan, harapan dan cita-cita.
Ia memutuskan untuk melanjutkan proses pinangan Fahri Hamzah, setelah melalui pergulatan batin yang panjang. Ia akan coba membuka komunikasi dengan Fahri, pemuda kelahiran Jakarta, baru lulus dari Fakultas Akuntansi sebuah sekolah tinggi yang bernaung di bawah sebuah departemen pemerintah. Selembar foto yang menyertai biodata itu cukup memantapkan langkahnya. Rahang yang kokoh, sepasang mata lembut dan ciri fisik yang lain. Cukup menyejukkan. Huiny tersenyum. Ya, Allah, berilah aku suami yang indah dalam pandanganku. Tak hanya indah fisik, tapi juga akhlaknya. Begitu selalu doanya dulu. Tak perlu ganteng atau tampan menurut orang lain, yang penting menurut pandangan kita cukup menyejukkan. Terserah bila menurut orang lain jelek. Begitu candanya dulu dengan Aisha –teman kostnya- saat Aisha menanyakan kriteria suami idaman. Apakah wajah juga masuk kriteria utama dalam memilih suami?
Tak perlu waktu lama. Di rumah Mbak Fathya, Huiny dan Fahri pertama kali bertemu. Tentu dengan batas hijab. Ia hanya mendengar suara berat Fahri, tanpa bisa melihat sosoknya. Demikian juga dengan Fahri. Mereka berbicara apa saja. Tentang latar belakang keluarga masing-masing, juga harapan-harapan setelah menikah nanti. Fahri ditemani Mas Arif, suami Mbak Fathya. Sedang ia berada di ruang tengah bersama Mbak Fathya dan si kecil Alifya.
“Bagi saya mencari nafkah adalah tugas seorang suami. Saya ingin istri yang di rumah. Seorang ibu rumah tangga. Tak usah bekerja di luar. Menjaga anak-anak saja dan mengurus keluarga.”
Tanpa sadar Huiny ternganga. Dipandangnya Mbak Fathya yang tampak menahan senyum. Tak salahkah pendengarannya?
“Tapi saya ingin menjadi ibu yang juga bekerja. Bila ibu hanya di rumah saja, anak-anak akan manja dan sulit mandiri. Ibu yang bekerja tak selalu harus menelantarkan keluarganya. Justru membuat anak-anak mandiri dan tak tergantung pada orang lain.”
Terlalu banyak perbedaan. Baik dari pemikiran maupun latar belakang. Diliriknya Mbak Fathya, “Pernikahan adalah menyatukan perbedaan menjadi kekuatan yang indah. Saling melengkapi.”
Huiny tertegun. Benarkah keputusannya sudah bulat? Terlalu banyak perbedaan. Dugaannya, calon suaminya adalah anak mama yang mendapat perhatian penuh dari ibunya yang selalu ada di rumah. Yang selalu siap kapan saja anaknya membutuhkan kehadirannya. Ibu yang selalu siap saat anaknya membutuhkan pertolongan. Model ketergantungan yang tinggi. Sementara ia adalah produk ibu bekerja, yang terlatih mandiri sejak kecil. Ibu Huiny bekerja membantu bapak Huiny mengelola penggilingan padi. Waktu kerja orang tua Huiny tidak mengenal waktu. Kadang dari pagi sampai sore. Bila musim panen padi tiba, sering mereka bekerja sampai larut malam. Anak-anak tinggal di rumah dengan nenek ditemani si mbak. Mereka sudah terbiasa belajar mandiri. Kedua orang tuanya selalu menanamkan bahwa mereka harus bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Menekankan pentingnya mencari ilmu setinggi langit. Dalam kehidupan Huiny kecil, naik kelas dan lulus adalah hal biasa. Menjadi kebanggaan kalau bisa menyandang gelar juara dan diterima di sekolah favorit, di universitas terbaik. Kedua orang tua Huiny sangat berharap kehidupan anak-anaknya akan lebih baik dari orang tuanya. Dan hal itu hanya bisa dicapai dengan memberi pendidikan yang baik. Mereka tidak pernah menuntut anaknya harus menjadi ini dan itu. Hanya berharap menjadi yang terbaik. Dengan pendidikan yang juga lebih baik. Kecintaan menuntut ilmu sudah tertanam dalam diri Huiny sejak kecil.
Bapak dan ibu Huiny memang telah lama tiada. Namun hal itu tak menghalangi Huiny kecil untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Kecintaan dan kerinduan itu sering tersalurkan dengan belajar dan belajar. Ia harus lulus dengan cum laude. Memberikan persembahan terbaik untuk orang tua yang amat dicintainya.
Ada kebimbangan. Calon suaminya mendukung penuh ia menyelesaikan kuliahnya. Tapi tidak boleh bekerja. Duh.
Ia memang ingin jadi ibu rumah tangga. Tapi ia juga ingin bekerja. Setidaknya mengamalkan ilmu yang didapat dengan susah payah. Dan yang lebih penting lagi, ia ingin bisa bermanfaat untuk orang lain. Alasan yang lainnya, ia juga ingin punya penghasilan sendiri. Apakah itu salah?
Selama ini ia berpendapat bahwa wanita pun sebaiknya bisa menghasilkan uang, tanpa harus menelantarkan suami dan anak-anak. Meski banyak orang mengatakan bahwa uang bukan segala-galanya, atau banyak hal yang lebih penting dan lebih mulia dari pada uang. Tetap ada rasa tidak enak bila kita tidak mempunyai uang, lebih-lebih dalam kondisi darurat. Huiny sudah teramat sering mengalaminya. Hal itu juga yang memacunya untuk mandiri dan tidak mau tergantung pada orang lain. Baik secara materi maupun emosi.
“Tenang Huiny, semua bisa dibicarakan. Kita tidak harus mendapatkan suami yang sama persis dengan kita,” Fathya berkata lembut, seakan tahu kebimbangan di hati Huiny.
Bagaimana bisa tenang? Ia sedang mempertaruhkan masa depannya. Masa depan dunia dan akheratnya. Bukankah seorang suami adalah imam dalam rumah tangga? Bukankah suami adalah pemimpin istri? Pemimpin yang harus dipatuhi dan ditaati. Yang bisa membawa istrinya pada kebaikan, di bawah kepemimpinannya.
“Dulu Mas Arif juga keras, tapi sabar saja. Kita bisa memberi pengertian sedikit demi sedikit pada suami kita,” kata Fathya.
Benarkah?! Selama ini Huiny percaya, ia tak akan pernah berharap bisa mengubah seseorang. Karena karakter seseorang memang tak bisa diubah. Pun dengan menikah. Karena pernikahan memang bukan untuk mengubah seseorang. Jadi?!
“Akan saya pertimbangkan lagi Mbak,” kata Huiny lirih.
Tak ada yang bisa dipaksakan. Ia hanya tak ingin mengambil keputusan secara gegabah. Baik menolak maupun menerima. Ia harus melakukan istikharah lagi. Kembali mengadukan bimbang itu ke Yang Maha Memiliki Hati. Andai ia menerima, ia harus siap dengan segala konsekuensinya. Pun andai menolak, harus siap dengan segala resikonya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar