“Biarlah hati-hati yang terluka, mencari kesembuhannya sendiri. Percayalah, waktu pasti akan membantu, sembuhkan luka jiwa itu.”
Huiny membaca coretan pada sampul depan buku tulis sekolahnya. Tulisan tangannya, entah kapan. Sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil, ia suka menulis apa pun di halaman buku-buku sekolahnya. Halaman depan buku tulisnya selalu ia hiasi dengan tulisan-tulisan. Apa saja. Apa yang ada di benaknya saat itu, spontan saja tertulis.
Sebenarnya semua tulisan itu adalah untuk mengemangati dirinya sendiri. Setelah semua kehilangan itu. Setelah orang-orang terkasih itu pergi dari hidupnya. Tinggalkan ia dalam kesendirian. Kesunyian yang hampa. Yang kadang menyakitkan. Ia coba nikmati semua sakit dan perih jiwa itu. Ia coba salami dan pahami semua yang mungkin sudah jadi jatah dalam hidupnya. Luka yang hiasi perjalanan hidup. Pahit yang mesti ditelannya.
Kini mungkin hatinya jauh merasa lebih tenang. Setelah ia coba berlapang dada menerima semuanya. Ia belajar memaafkan Bram. Mencoba empati. Seandainya ia jadi Bram, mungkin ia akan mengambil langkah yang sama, meski dengan itu harus ada sepotong hati yang terluka.
Sejak Huiny tahu bahwa Bram sudah menjatuhkan pilihannya, ia memutuskan untuk mundur dari kehidupan Bramastya. Pun ia memutuskan untuk menutup ruang hati dan hidupnya untuk makhluk bernama Bram. Tak ada kompromi. Ia harus membenahi hidupnya. Men-set ulang semua cita-cita dan harapannya.
Jujur, apa yang telah dilakukan Bram membuat Huiny terpuruk. Namun perempuan itu segera sadar, ia tak boleh larut dan hanyut dalam kesedihan berlama-lama. Perempuan itu coba memahami dan memaafkan semua yang membuat batinnya terluka. Perempuan itu coba menghibur dirinya sendiri. Ia coba yakinkan hatinya, bahwa sebenarnya Bram tak pernah bermaksud menyakiti dan menghancurkan hatinya. Ia yakinkan dirinya bahwa “kejadian" itu bisa terjadi pada siapa saja. Yang kurang hati-hati dalam menjaga diri.
Jauh di lubuk hatinya, sesungguhnya ia merasa tak sampai hati melihat ‘penderitaan’ yang harus dijalani Bram. Tapi ia juga tak tahu pasti, bagaimana perasaan Bram saat itu. Bahagiakah? Atau, mungkin saja Bram menerima semua ‘kejadian’ itu bukan sebagai penderitan, tapi sebuah ujian dan perjuangan. Ya, mungkin saja. Bram masih harus menyelesaikan kuliahnya, sementara ia juga harus bertanggung jawab sebagai seorang calon ayah. Sebuah tanggung jawab dan tantangan yang tak ringan. Perlu perjuangan dan usaha untuk mampu jalani kedua peran itu dengan baik.
Bagaimanapun Huiny tak mengingkari, ia pernah dekat dengan Bram. Dan mungkin, saat itu Bram adalah satu-satunya sahabat terbaik yang pernah ia miliki. Yang telah menemaninya melewati masa kecil yang indah. Bram, telah banyak memberi warna masa kecilnya. Dan, Bram adalah salah satu dari sedikit orang yang mampu memahami dirinya. Seorang gadis kecil yang pendiam dan tertutup, pandai menyimpan perasaan dan sering ragu-ragu karena tak ingin menyakiti orang lain.
“Bram, aku tak pernah menyalahkanmu. Aku berusaha memahamimu. Aku tahu, mungkin saja kau sudah terhukum dengan perasaan bersalah itu. Aku memaafkanmu, saat itu juga, tanpa kau perlu memohon dan harus memintanya dariku –andai kau merasa bersalah, entah andai tidak-. Aku memaafkanmu bukan karena aku orang yang baik, tapi aku merasa mungkin saja ini memang jalan yang harus kita tempuh. Garis takdir yang harus kita jalani sendiri-sendiri.
Kita tak pernah tahu, bisa jadi kita menganggap sesuatu baik buat kita, namun ternyata yang kita anggap baik itu belum tentu baik. Ada kalanya kita menganggap sesuatu itu buruk, namun sesungguhnya ia baik buat kita. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.
Maafkan bila mulai saat itu kau tak akan bisa menemuiku lagi. Aku bukan hendak menghukummu, tapi aku tak ingin menjadi duri dalam kebahagiaan kalian. Aku tak ingin merusak apa yang baru kalian bangun.
Biarlah aku pergi, mencari ketenangan dan kesembuhan perih yang belum jua pudar. Aku akan melangkah sendiri, meneruskan perjalanan dan perjuangan yang belum usai. Yang entah akan berakhir di mana. Dimanapun akhir dari perjalananku ini, aku berharap semoga ini yang terbaik.”
Huiny membaca sekali lagi tulisan yang tertera pada buku diary-nya. Dihapusnya air mata terakhir. Huiny memang sangat kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Bram. Namun ia tak bisa memungkiri, bahwa di sudut hatinya, rasa itu masih ada. Rasa yang dulu terasa hangat dan indah, kini menjelma menjadi nyeri yang mengiris-iris.
Setiap orang bisa saja melakukan kesalahan dan kekhilafan. Ia tak ingin menghakimi, atau menghukum Bram. Tidak. Tak ada seorangpun yang tahu apa yang akan terjadi esok hari.
Dalam hati Huiny berdoa, semoga Pras belajar dari kesalahan yang telah diperbuatnya. Bertanggung jawab dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Bram adalah serpihan masa lalu yang harus segera dilupakannya. Ia tak ingin terjebak dalam luka dan bertekad akan melanjutkan hidupnya. Membuka lembaran baru. Membuang semua yang sudah usang.
Dengan sadar, Huiny menyingkirkan benda-benda yang mengingatkannya pada Bram. Semuanya. Seperti antibiotik yang membunuh semua bibit penyakit sampai ke akar-akarnya. Ia hanya ingin kehidupannya steril dari virus bernama Bram. Itu saja. Ia hanya ingin melanjutkan hidupnya.
Diraihnya diary itu, sebuah perjalanan hati yang harus segera diakhirinya.
‘Cinta adalah pengorbanan
memutuskan mencintai berarti memutuskan berani berkorban
cinta sejati tak pernah egois
pecinta sejati akan bahagia bila orang yang dicintainya bahagia
tak peduli bersama siapa
semoga kebahagiaan akan selalu menyertaimu
siapa pun yang dampingi hidupmu kini
kuharap dia yang terbaik untukmu
meskipun itu
bukan aku
biarlah aku meniti sepi seorang diri
kala mencintaimu adalah perih
saat kusadari bahwa
tak pernah ada
aku
dihatimu
Selamat tinggal Bram
Selamat tinggal kenangan’
Air mata Huiny menetes. Terdengar senandung lirih dari tembang lawas milik Ebiet G Ade, coba menghibur lara di hatinya. Tegarkan sebentuk jiwa yang patah, yang sedang berdarah.
“…ternyata mengagungkan cinta
harus ditebus dengan duka lara
tetapi akan tetap kuhayati
makna sakit hati ini
telah sempurnakah kekejamanmu..”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar