Kamis, 26 Juni 2008

11 SECERCAH BIMBANG

“Bagaimana Huiny, sudah ada keputusan?”

Huiny diam menahan nafas. Di depannya, tampak Fathya, sabar menunggu adik tingkatnya itu memberi jawaban. Ini adalah proposal yang keenam. Perempuan itu berharap suatu hari nanti Huiny segera menemukan jodoh yang tepat. Huiny sudah sering menolak. Tapi ia tak bisa menyalahkan Huiny. Jodoh tak bisa dipaksa, apalagi bila saat istikharah belum mantap.

Huiny menyerahkan amplop yang belum dibukanya. Di depannya Fathya tersenyum bijak. Sejak pertama kali bertemu, Huiny sudah mencuri perhatiannya. Seorang gadis muda yang begitu bersemangat belajar Islam. Tak ada rasa rendah diri meskipun saat pertama kali bergabung Huiny belum bisa membaca Al Qur’an. Dengan tekun ia mulai belajar Iqro’ 1, mengejanya dengan terbata-bata. Namun semua itu tak mengurangi semangatnya. Huiny juga rajin dating ke majelis ilmu. Aktif dalam organisasi kampus dan mempunyai jiwa seni yang lumayan. Dia adalah anggota inti team teater muslimah dan team nasyid muslimah SKI fakultas. Sering membuat naskah drama dan menciptakan lirik nasyid. Aktivitas gadis itu lumayan padat, namun IP-nya selalu beranjak dari nilai 3,5. Subhanallah.

“Belum dibuka?”

Huiny menggeleng. “Saya takut salah langkah, Mbak,” jawab Huiny lirih. Selama ini semua nama yang datang padanya adalah nama-nama yang sudah dikenalnya. Sudah tak asing baginya.

“Bolehkah bila saya ingin menikah dengan seseorang yang belum saya kenal, Mbak?” tanya Huiny hati-hati.

Fathya tersenyum, “Boleh, namun Rasulullah menyarankan kita mengenal calon pasangan kita.”

“Mungkin saya berlebihan, tapi saya khawatir mereka hanya melihat apa yang tampak dari saya. Saya takut mengecewakan Mbak, bila nanti ternyata saya tidak seperti apa yang diharapkan. Apalagi untuk yang sudah ada rasa, bukankah cinta itu sebaiknya hadir setelah adanya pernikahan?”

Fathya tersenyum. Huiny bersikeras ingin menikah dengan seseorang yang belum dikenalnya. Keyakinan itu tak tergoyahkan, meski ada beberapa aktivis kampus yang coba meminangnya. Bahkan ada beberapa yang dengan jujur mengatakan bahwa ia mencintai Huiny dan minta tolong Fathya untuk menyampaikan maksudnya pada gadis itu. Tapi Huiny tetap teguh pada pendiriannya.

“Saya hanya ingin menjaga hati saya Mbak. Saya hanya ingin mencintai suami karena Allah. Saya ingin cinta hadir setelah penikahan. Apakah itu salah Mbak?”

Fathya menggeleng, “Insya Allah yang ada di amplop itu seseorang yang belum kamu kenal, Huiny. Seorang pemuda yang suami Mbak sudah kenal dengan baik. Tidak ada salahnya dibuka, dan istikharahlah. Jangan khawatir, bila kau menolaknya, tak berarti itu menyakiti hatinya. Dia sudah siap dengan jawaban apapun darimu. Itu adalah ujian baginya dan dia harus ikhlas menerimanya. Bila memang Allah memberikan kemantapan, itu juga sebuah ujian bagi kalian berdua.”

“Mbak, maaf boleh saya bertanya?” tanya Huiny hati-hati.

Fathya mengangguk dan tersenyum.

“Apa artinya bila kita menolak pinangan seorang pemuda yang sholeh dan baik akhlaknya? Apakah kita berdosa? Apakah akan ada kerusakan di muka bumi?”

Fathya tersenyum, “Menikah adalah ibadah. Cepat-cepat menikah bila memang sudah siap, adalah bagian dari berlomba-lomba dalam kebaikan. Bila kita menemukan pemuda yang baik, yang menurut kita sungguh baik, dan ada yang menjodohkan kita dengannya, maka kenapa kita harus menolaknya? Kalau kita menolaknya, mungkin pemuda itu akan menikah dengan gadis yang lain. Mungkin juga belum tentu kita menemukan jodoh yang lebih baik. Meskipun jodoh ada yang mengaturnya, yaitu Allah. Tapi kan kita harus ikhtiar. Di antara bentuk ikhtiar, ketika menemukan yang baik kita harus bersyukur. Bagaimana bentuk syukurnya? Menerimanya dan menikah untuk membentuk keluarga yang islami. Berikhtiar dan menikahnya juga harus sesuai ajaran agama.”

“Lalu bagaimana kalau misalnya kita tidak mencintai suami kita atau sebaliknya? Apakah Mbak Fathya pernah mendengar sebuah pernikahan tanpa cinta?”

“Cinta membuat rumah tangga hangat dan hidup. Tapi ada yang lebih penting dari cinta, yaitu komitmen.”

“Bagi saya sendiri, kadang muncul kekhawatiran Mbak. Apakah saya sudah menemukan orang yang tepat atau tidak? Saya ingin menikah sekali saja seumur hidup. Apakah saya akan bisa menghabiskan sisa hidup saya dengan seseorang. Orang yang sama, Mbak. Yang akan jadi imam saya. Yang akan menjadi ayah dari anak-anak saya.”

Fathya tersenyum. “Kekhawatiran itu amat wajar dan manusiawi. Yang penting kita sudah berusaha, selebihnya kita serahkan pada Allah. Karena Dia yang mengenggam hati kita, juga hati pasangan kita.”

“Apa yang harus saya lakukan, Mbak?”

“Huiny, setiap orang yang memasuki usia menikah pasti punya kekhawatiran-kekhawatiran. Sebenarnya yang lebih penting adalah kesamaan misi dan visi. Insya Allah masalah suku, sifat dan latar belakang yang berbeda, semua akan bisa diatasi. Bukan berarti bisa berubah secara tiba-tiba, namun semangat untuk saling memahami, semangat untuk belajar mencintai, belajar menerima pasangan kita apa adanya, Insya Allah semua itu akan menghadirkan ikatan yang kokoh dan kuat. Yang mampu melahirkan kebaikan, tak hanya bagi keluarga itu sendiri, namun kebaikan itu akan memancar ke lingkup yang lebih lebar, yaitu masyarakat dan lingkungan.”

Huiny tampak serius mendengarkan penuturan kakak tingkatnya itu. Sesungguhnya ia juga sedang belajar, berproses memperbaiki diri. Proses yang akan terjadi seumur hidup, hingga tangan maut menjemput.

Tidak ada komentar: