Kamis, 26 Juni 2008

5 IJINKAN AKU, IBU

“Apa? Menikah?” alis ibu naik beberapa millimeter. Perempuan setengah baya itu tampak terkejut.

“Ada apa sih, Bram? Coba cerita sama Ibu,” dengan lembut direngkuhnya Bram untuk mendekat. Ibu selalu begitu. Hangat dan penuh perhatian.

“Bram ingin menikah, Bu…” suara Bram tercekat di tenggorokan. Wanita yang masih tampak cantik di usia senja itu tersenyum.

“Dengan Huiny?”

Bram mengangguk sambil tersipu. Ada debar di hatinya. Ia tahu ibu sangat menyayangi Huiny. Ibu juga tahu kalau selama ini anak laki-lakinya itu sudah lama menaruh hati pada Huiny, teman SMP-nya. Nalurinya sebagai seorang ibu, mengatakan kalau anak laki-lakinya tersayang itu sedang jatuh cinta.

“Bram,” ibu sengaja menggantung kalimatnya, “Ibu dan juga bapakmu memang sangat mengharapkan suatu saat nanti kamu akan menikah dengan seorang wanita yang baik. Yang kamu sayangi dan pastinya juga wanita yang mencintai kamu. Yang bisa kamu ajak mengarungi suka dan duka. Wanita yang membuat kamu merasa tenteram. Yang akan menjadi ibu dari anak-anakmu.”

Bram tersenyum, namun ia tetap menunggu kalimat ibunya. “Tapi Bram…” ibu tampak menghela nafas dalam-dalam.

“Tapi apa, Bu?” tanya Bram tak sabar. Selama ini ia tak pernah menyela pembicaraan ibunya. Ia sungguh menyayangi dan menghormati wanita yang telah melimpahinya dengan cinta dan kasih saying itu.

“Mungkin waktunya tidak sekarang. Nanti kalau kalian sudah lulus. Kamu baru semester enam. Masih kuliah dan belum bekerja. Mau dikasih makan apa istrimu nanti?”

“Tapi, Bu…” pandangan mata ibu menyiratkan ibu tak mau disela.

“Menikah itu tidak gampang, Bram. Sabarlah dulu. Orang tuanya Huiny juga belum tentu mengijinkan. Kuliah Huiny kan juga belum selesai. Mungkin lebih baik kamu konsentrasi dulu, belajar yang rajin menyelesaikan kuliahmu dan cepat mencari pekerjaan. Mudah-mudahan semua berjalan lancer. Nah, setelah kamu bekerja dan punya penghasilan sendiri, Ibu janji akan melamar Huiny buat kamu.”

“Tapi, Bu…” bibir Bram terasa kelu.

“Tidak ada tapi lagi. Ibu juga malu melamar Huiny, sementara kamunya masih belum berpenghasilan. Kalau bapaknya Huiny tanya, mau dikasih makan apa anaknya, Ibu harus bilang apa? Ibu percaya, huiny adalah wanita yang baik buat kamu. Huiny pasti akan sabar menunggumu. Ibu rasa, dia juga sangat mencintai kamu…”

Bram diam mematung. Ibu tidak salah, Ibu benar. Tapi Huiny. Ia mencintai gadis itu, sejak pertama kali melihatnya. Saat ia masih kelas 5 SD dan sekolah mereka mengadakan pertandingan persahabatan. Cinta pada pandangan pertama. Huiny. Gadis sederhana itu tiba-tiba saja memenuhi ruang di hatinya.

Kebetulan mereka diterima di SMP yang sama dan kebetulan satu kelas saat kelas satu. Dia bisa mengenal gadis itu lebih dekat. Cinta yang hadir semakin tumbuh dan bersemi. Huiny, seorang gadis yang sederhana, pemalu, pendiam dan tidak genit seperti gadis-gadis lainnya. Justru dia cenderung tertutup. Dan mata bening itu. Mata yang menyiratkan sinar kesedihan, sunyi dan murung. Bram ingin sekali tahu, ada apa di balik mata bening Huiny.

Gadis sederhana dan pemalu. Entah kenapa hatinya terpenjara setiap melihat gadis berambut panjang itu. Ada rasa ingin melindungi dan rasa ingin membuat mata bening itu tak lagi murung.

“Ijinkan aku, Ibu. Ijinkan aku merengkuh perempuan terkasih itu. Dalam ikatan suci yang diridhoi-Nya. Aku hanya ingin membuatnya bahagia. Mata bening itu, menyimpan duka yang entah apa. Ijinkan aku, Ibu. Bilakah?”

Bram coba mengurai dadanya yang agak terasa sesak. Hidup adalah pilihan. Dan kini hidup menghadapkannya pada dua pilihan yang begitu berat. Antara dua wanita yang amat dikasihinya. Bram hanya dapat menarik nafas dalam. Keputusan ibunya sudah bulat.

Tidak ada komentar: