“Sah. Ya, hari ini aku telah sah menjadi seorang istri dan tentunya calon ibu dari bayi yang ada dalam kandunganku. Setelah semua kemarahan papa dan kekecewaan mama. Mungkin juga cibiran tetangga. Juga tanya usil teman-teman. MBA. Married By Accident. Nikah karena kecelakaan. Maksudnya bukan kecelakaan di jalan, tapi di kamar. Karena hamil duluan. Mungkin memalukan. Dan mungkin tak seorangpun menginginkan mengalami hal seperti ini. Ya, aku malu. Tapi mau apa lagi?”
Dee memegang kepalanya yang terasa berat. Kata-kata itu masih berputar-putar di kepalanya. Seisi lingkungan gempar. Teman-temannya gempar. Gosip selalu mencuri perhatian. Apalagi bila sudah dibumbui. Tapi ini bukan gossip, ini benar!
Silakan mengatakan apa saja. Telinga Dee sudah kebal. Semua itu jadi cambuk bagi dirinya. Akan dibuktikannya pada semua yang hari ini melecehkannya, menghinakannya. Bahwa suatu saat nanti ia akan menjadi manusia yang berhasil ia akan lakukan apa saja untuk mandiri, tak tergantung pada siapa pun. Tak juga pada papa dan mama.
Dee tak tahu apa yang ada dalam pikiran Mas Tommy. Ada sebentuk rasa bersalah menggumpal di hatinya. Ia pun tak tahu apa yang ada dalam pikiran Bram. Setelah semuanya! Berhasilkah ia?! Berhasilkah ia membuat laki-laki itu mencintainya?! Berhasilkah Dee menempati ruang istimewa di hati laki-laki yang diam-diam amat dicintainya itu?
“Jangan takut, aku akan selalu menemanimu. Aku akan bertanggung jawab. Kau tak sendiri, ada aku yang akan selalu ada di sisimu,” rahang kokoh itu berkata dengan mantap. Sanggup memberi ketegaran pada sebentuk hati yang gamang.
“Biarlah orang mau bilang apa. Biarlah mereka melaknat, menghujat, menghakimi. Aku akan meniti jalanku sendiri,” tekad Dee dalam hati.
Bram, suami. Ya, Bram adalah ayah bayi yang kini ada dalam kandungannya. Laki-laki itu cukup berjiwa besar dan bertanggung jawab. Ada rasa lega akhirnya ia bisa menikah dengan Bram, meski untuk itu pasti ada yang dikorbankan. Tapi tak apa, demi Bram yang diam-diam amat dicintainya. Bram yang hari ini sudah utuh jadi suaminya. Tak ada. Tak ada lagi yang bakal mengambil Bram dari sisinya. Tak juga Huiny. Perempuan yang telah mengobarkan api cemburu itu. Bram kini sudah jadi miliknya. Ayah dari bayi yang dikandungnya.
“Biarlah. Aku akan lalui beban berat ini. Toh aku tak melaluinya seorang diri. Akan ada Bram yang selalu ada untukku.”
Dee tersenyum. Seberat apapun beban hidup yang menghadang di depan mata, semua akan terasa ringan baginya. Selama ada Bram di sampingnya. Cintanya pada laki-laki itu semakin besar. Dee mengelus perutnya lembut. Kini ia sudah siap menjadi seorang ibu. Pun siap menjadi istri Bram. Nyonya Dini Deevianty Bramastya. Dee tersenyum. Adakah yang lebih indah selain mengarungi hidup bersama sang belahan hati?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar