“Aku ingin menikah dengan Huiny”
Berapa kali sudah kalimat itu mengusik hatinya. Dee sungguh tak mengerti. Apa yang ada dalam pikiran Bram?
“Ya, aku ingin menikah dengan Huiny. Boleh kan, kau tak keberatan?”
Bagaimana mungkin?!
Setelah semuanya?! Kenapa cinta itu masih bertahta di hati Bram?! Mungkinkah karena Bram didera perasaan bersalah. Mungkinkah selama ini Bram merasa tidak tenang karena telah meninggalkan Huiny begitu saja?
Dee sungguh tak mengerti. Sudah hampir lima bulan Bram tidak pulang. Bila memang Bram tidak mencintainya, setidaknya Dee berharap Bram akan berbelas kasih pada bayi mungil darah dagingnya sendiri.
Jika memang atas nama pernikahan, atas nama Vio -buah hati mereka- , sudah tak bisa mempertahankan Bram untuk tetap ada di sisinya, apa lagi yang bisa diharapkan?
Tiba-tiba Dee seperti baru tersadar, kenapa dulu Bram menikahinya. Mungkin bukan atas nama cinta, mungkin hanya sebentuk tanggung jawab. Atas konsekuensi apa yang telah mereka lakukan malam itu. Sesuatu yang memaksa laki-laki itu menikahinya.
Mungkin selama ini di hati Bram memang hanya ada satu nama. Dan itu bukan namanya. Nama itu adalah Huiny. Huiny lagi! Tiba-tiba ia merasa sangat benci pada gadis bernama Huiny itu. Apa sih kelebihan Huiny hingga ia masih saja menempati ruang istimewa di hati Bram!! Dan mengapa juga Bram masih begitu mencintai gadis itu? Rasa cemburu dan kebencian menguasai hati Dee, membuat dadanya sesak. Mengubahnya menjadi amarah. Dee merasa tak berdaya, tapi ia bertekad tak akan menyerah!
“Seharusnya akulah yang paling berhak menempati ruang istimewa di hati Bram. Aku istrinya. Bukan Huiny!”
Perempuan itu benar-benar terluka.
“Baiklah Bram, bila itu maumu, aku akan menerima.”
Perempuan itu meradang.
“Ceraikan aku dulu. Setelah itu, kau boleh menikah dengan Huiny!”
Dengan berat hati, diucapkannya kalimat itu pada Bram. Bila itu memang membuat Pras bahagia. Tak apa. Ia bisa melalui segalanya. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tak ada yang perlu ditakutkan. Keputusannya sudah bulat. Ia sudah sangat siap. Biarlah Bram memilih.
“Bagaimana Bram?!”
Laki-laki yang amat dicintainya itu menggeleng.
“Kau tetaplah istri dan ibu dari anakku. Aku tak mungkin dapat melepasmu.”
Hanya itu. Untuk selanjutnya laki-laki itu terdiam. Entah apa yang dipikirkannya.
Sampai pada suatu ketika, Dee mendengar kabar yang sungguh mengejutkan. Kabar yang sekaligus membuatnya lega.
Huiny menikah. Kabar yang ia dengar, Huiny menikah dengan laki-laki pilihan neneknya dan sekarang Huiny tinggal di kota yang sangat jauh. Mudah-mudahan dengan menikahnya Huiny membuat Bram segera melupakan gadis itu. Mengembalikan perhatian dan cinta Bram utuh padanya. Demi kebahagiaan keluarga kecil yang baru terbina.
Sekuat tenaga Dee berusaha menyimpan rasa cemburu yang membakar. Bagaimana mungkin Bram masih mencintai Huiny? Benarkah karena Huiny adalah cinta pertama Bram? First love is never die. Benarkah?! Atau karena sosok Huiny begitu berkesan di hati Bram?
Dee tak mengerti. Dan wanita itu berusaha tegar saat Bram terluka mendengar berita bahwa Huiny sudah menikah!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar