Kamis, 26 Juni 2008

1 ATAS NAMA KENANGAN

Tak ada yang lebih indah selain mengenang masa kecil. Tertawa atau menangis dalam kesendirian. Hanya atas nama kenangan. Merasakan lembut elusan tangan ibunda. Atau isak yang luluh di pelukannya. Ibu. Ia adalah sumber kedamaian dan ketenangan. Sumber cinta dan kasih sayang.

“Ibu. Tak ada yang lebih indah selain mengenangmu. Tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat senyummu. Senyum kebanggaan saat anakmu mampu berbuat sesuatu yang membuatmu bahagia. Ibu, aku datang menjengukmu. Meski di sini kuhanya beremu dengan nisan beku. Diiring desir angina musim kemarau yang kering. Biarlah Bu, kuingin tumpahkan segala rindu itu. Hari ini anakmu datang menjengukmu. Dengan setangkup cinta dan rindu. Andai saja aku bisa memelukmu, Ibu. Mencium tanganmu yang mungkin mulai keriput. Tapi kau tetap cantik, Bu. Kau tak kan pernah keriput.”

Huiny menahan cairan hangat yang tiba-tiba membasahi dua bola matanya. Sudah lama perempuan itu menyimpan keinginan untuk mengunjungi makam ibunya. Wanita yang telah meregang nyawa, melahirkan dan membesarkannya. Wanita yang amat dicintainya, yang hanya tersimpan dalam kenangan masa kecilnya.

Entah sudah berpuluh tahun dipendamnya asa itu. Bukan jarak yang menahan langkahnya. Tapi segala sesak di dada, kenangan yang telah meluluhlantakkan segalanya. Semuanya.

Di sini, matanya menyapu semua yang tampak di sekelilingnya. Kampungnya telah banyak berubah. Jalan setapak itu telah rapi diaspal. Rumah-rumah penduduk pun sudah banyak yang bagus. Bergaya simple minimalis. Tak kalah dengan model rumah-rumah yang ada di kota besar. Jaman memang telah berubah.

Sesungguhnya setiap hari adalah perubahan. Bayi tumbuh menjadi anak, remaja, dewasa dan akhirnya tua. Circle of life. Lingkaran kehidupan yang semua orang pasti menjalani. Takdir alam yang tak bisa dihindari. Bukan masalah suka atau tak suka. Tak ada kesempatan untuk bertanya. Atau sekedar menawar. Atau sekedar menahan meski hanya satu detik. Waktu senantiasa berputar. Dari tidak ada menjadi ada. Dari ada kembali menjadi tiada.

Seperti cinta. Dari tidak ada menjadi ada. Dari ada menjadi tidak ada. Ada dan tiada. Hanya kata semata. Tapi perlu kesiapan lebih untuk mensikapinya. Dari tidaka ada menjadi ada, pun sebaliknya.

Misalnya saja, dari tidak ada cinta menjadi ada cinta. Perlu proses penyesuaian. Dari ada yang dicintai menjadi tak ada yang dicintai. Tepatnya, orang yang dicintai itu pergi, tinggalkan dirinya. Pun perlu proses penyesuaian. Selain ketegaran dan ketabahan. Karena dari ada menjadi tidak ada selalu menyisakan rasa kehilangan. Kecuali memang ketiadaan itu yang diharapkan.

Dari tidak ada kenangan menjadi ada kenangan. Dari ada kenangan menjadi tak ada kenangan. Mungkinkah? Sanggupkah? Bisakah seseorang menghapus sebuah kenangan dalam hidupnya? Kenangan yang telah tertulis pada lembar-lembar perjalanan hidupnya. Kenangan yang telah mengikutinya sekian lama. Seumur hidup itu sendiri?

Seperti tulisan. Jika kenangan tergores tak cukup dalam, mungkin akan cepat terlupa. Tapi jika kenangan terlukis cukup dalam di dasar hati, mungkin selamanya akan terukir. Seperti fosil yang tinggalkan jejaknya hingga kini. Mungkinkah kenangan seperti itu?

Atau, mungkin yang perlu dilakukan manusia adalah jangan sampai kenangan itu mencegahnya melakukan perbaikan-perbaikan dalam hidupnya. Bukankah manusia harus belajar dari pengalaman? Dari sejarah? Agar tak jatuhpada lubang yang sama. Pada penderitaan yang sama.

Wanita itu rela menempuh jarak cukup jauh, untuk melepas semua kenangan. Yang telah meluluhlantakkan hatinya. Ia tak yakin akan mampu lalui semuanya. Karena kenangan itu memang tak pernah tinggal di suatu tempat. Meski ada tempat-tempat tertentu yang menyimpan kenangan bagi seseorang. Sesungguhnya kenangan itu tempatnya di hati. Semua berpulang pada diri sendiri, apakah mau terkunci kenangan atau melepaskan ikatannya. Yang pasti, semua itu tak mudah dan butuh usaha.

Langkah kecil itu tertatih. Dalam ketegaran yang dipaksakan. Huiny berdiri. Senja turun, menyisakan semburat merah indah di ujungnya. Ingin ia nikmati semua kenangan masa kecil yang tersisa. Akhirnya angan mengantarkannya ke sini. Tanah yang menyimpan bayak kenangan. Kebahagiaan masa kecil Kenangan yang selalu membuatnya menangis.

“Ibu, mengenangmu adalah air mata. Meski berat, aku akan berusaha lalui semuanya, Bu. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik, yang mampu aku lakukan.”

Tubuh ringkih itu berjalan, meninggalkan tanah makam yang berangsur sepi. Para peziarah mulai pulang satu persatu. Tinggalkan tempat peristirahatan abadi itu kembali berkawan sunyi.

Tidak ada komentar: