Kamis, 26 Juni 2008

2 DUNIA YANG BERPALING

Andai saja bisa, ia ingin melupakan semua kenangan itu. Andai saja mampu, ingin ia mengubur semua dalam-dalam. Sekarang ia hanya ingin jalani hidupnya. Tanpa bayang-bayang masa lalu itu. Susah payah ia bangkit dan bertekad akan jalani sisa usia yang mungkin tak lama.

Huiny menarik nafas dalam. Ada rasa perih yang tersisa. Sms-sms Dee masih tersimpan rapi di hand phone-nya. Kenapa jua kenangan itu menyeretnya kembali, memaksanya memasuki lorong-lorong waktu yang telah berlalu. Memaksanya kembali merasakan semua perih jiwa itu.

Harusnya ia tak perlu menanggapi telepon dan juga sms-sms Dee. Toh ia bisa mengabaikannya. Bisa menolak dengan halus, tanpa harus ada rasa bersalah. Harusnya ia tak perlu menjawab telepon-telepon Dee. Toh ia merasa tak punya urusan dan masalah dengan perempuan itu. Perempuan yang telah mengambil Bram dari kehidupannya! Atau Bram yang telah memberikan hatinya pada perempuan itu? Apa bedanya? Apa pedulinya? Toh ia tak pernah kenal dan tak perlu merasa kenal dengan perempuan itu. Siapa pun dia, Huiny merasa tak perlu tahu. Bukan urusannya.

Bukankah Bram telah memilih? Bukankah demi perempuan itu, Bram tega mencampakkannya? Perselingkuhan selalu menyakitkan. Tapi semua tetap lebih baik sebelum semuanya terlambat. Meskipun perih dan amat sakit, dia harus realistis. Kenyataan telah terpampang di depan mata. Semua sudah jelas, sejelas sinar mentari pagi. Apa yang bisa diharapkan dari sebentuk hati yang telah berpaling? Telah mendua?

Samar diingatnya lirik lagu Iwan Fals,

“…tak mungkin menerimamu bila
ternyata kau mendua membuatku terluka…”

Sejatinya ia tak pernah menyalahkan Bram, atau menyalahkan siapa pun. Dia hanya merasa amat bodoh. Seharusnya ia tak perlu percaya pada laki-laki yang telah membuatnya terbang ke awan itu. Yang pada saat yang sama menghempaskannya ke lembah paling menyakitkan. Harusnya ia tak perlu memberikan seluruh hatinya pada laki-laki itu. Seluruh cinta dan kesetiaan. Cinta yang dirasanya cukup kuat. Ternyata ia salah. Bram bukanlah lelaki seperti yang ia duga. Bram yang penuh cinta, penuh perhatian dan lembut. Cinta pertama berakhir sudah. Bram dengan sadar telah menikam hati perempuan itu hingga berdarah-darah. Hancur berkeping-keping.

Bram tak pernah menghargai semua kasih sayang dan kesetiaannya. Sungguh menyedihkan. Amat menyakitkan. Hatinya telah mendua. Entah mengapa. Sebuah syal yang dirajutnya penuh cinta, ternyata tak cukup kuat mnengikat hati laki-laki itu untuk tidak berpaling pada bunga yang lain. Ternyata begitu mudah bagi Bram untuk pindah ke lain hati.

Mengenang semua itu, Huiny merasakan nyeri luar biasa di dasar hatinya. Ia harus berjuang menyingkirkan rasa tercampak dan terbuang. Ia harus meyakinkan dirinya sendiri, bahwa hidupnya masih punya makna. Bahwa dirinya masih cukup berharga. Sesungguhnya saat itu ia berada di titik nadir. Rasa kehilangan, rasa tercampak, rasa terbuang. Semua rasa itu melemparkannya ke jurang paling dalam. Ia sempat kehilangan kepercayaan dirinya. Sempat kehilangan semangat hidup. Saat itu ia merasa dunia telah berpaling darinya.

Setiap bangun tidur, ia selalu berharap bahwa semua itu hanya mimpi. Tapi semua nyata. Inginnya ia percaya bahwa semua nyata adanya. Tak ada lagi Bram untuknya. Setiap malam, hanya air mata yang setia menemani kesedihannya. Ia sembunyikan luka itu seorang diri. Ia tutup hatinya rapat-rapat. Seandainya cinta itu tak pernah mampir di hatinya, mungkin ia tak akan merasakan sakit yang amat.

Atau, mungkinkah ia yang selama ini salah mengartikan semua sikap dan perhatian Bram padanya? Mungkin saja lelaki itu tak pernah benar-benar mencintainya. Mungkin saja hanya sebentuk rasa kasihan, atas nasibnya yang malang. Mungkin saja hanya naluri sebagai seorang kakak yang ingin melindungi adiknya. Ya, mungkin saja. Huiny coba mengingat-ingat.

Lalu apa arti puisi-puisi indah yang terselip dibuku catatan sekolahnya, saat buku itu dipinjam Bram? Apa arti seuntai bunga edelweiss segar yang selalu dibawa Bram? Saat laki-laki itu pulang dari setiap pendakiannya? Hadiah-hadiah ulang tahun yang ekspresif dan setumpuk perhatian Bram pada dirinya?

“Bram, mungkinkah cinta itu memang tak pernah hadir di hatimu? Sementara ruang hatiku telah penuh mencintaimu. Cinta pertama dan satu-satunya. Tak ada nama selain namamu. Mungkinkah selama ini aku yang terlalu berharap, yang salah mengartikan segala perhatian dan kebaikan hatimu?”

Huiny tak pernah tahu.

Tidak ada komentar: