Sudah beberapa hari ini Dee merasakan badannya pusing dan berat. Setiap bangun tidur perutnya sering terasa mual dan selalu ingin muntah. Seperti pagi itu, setengah berlari ia masuk kamar mandi. Tak lama kemudian terdengar bunyi muntahan keluar.
Mama Dee bukannya tak memperhatikan perubahan yang terjadi pada putri semata wayang mereka. Nalurinya sebagai seorang ibu mengatakan ada sesuatu yang lain dengan anak gadisnya itu.
“Kamu sakit, Dee?” tanya Mama Dee begitu dilihatnya Dee keluar dari kamar mandi dan berjalan melewati ruang makan.
“Iya Ma, mungkin hanya masuk angin,” jawab Dee. Mukanya kelihatan pucat.
“Sekarang ganti baju dan ikut Mama periksa ke Dokter Basri,” kata Mama Dee lembut namun tegas. Segera wanita paruh baya yang masih tampak cantik dan energik itu menyuruh Pak Bejo, sopir keluarga mereka untuk bersiap-siap.
Di klinik Dokter Basri, Dee segera melakukan serangkaian pemeriksaan dan berbagai tes. Mama Dee sangat mengkhawatirkan keadaan putrinya itu. Sore harinya Mama Dee kembali ke klinik Dokter Basri untuk mengambil hasil tes. Tak seperti biasanya, sore itu Dokter Basri mengajaknya bicara empat mata. Dokter keluarga itu menyuruh perawat yang ada di ruangan untuk keluar.
“Bagaimana hasil tes anak saya, Dokter?”
“Hasil tes darah dan urin semuanya baik. Memang kadar Hb-nya agak rendah, tapi tidak apa-apa. Hal ini biasa terjadi pada pasien yang…” Dokter Basri tampak menghentikan penjelasannya.
“Ada apa dengan aanak saya, Dokter?” Mama Dee kelihatan begitu cemas.
“Dee positif, Bu. Putri Ibu kadar HCG-nya tinggi,” kata Dokter Basri hati-hati, sambil menunjukkan hasil pemeriksaan HCG test pack.
“Apa Dokter?! Maksud Dokter anak saya hamil?! Apa tidak salah?!” Mama Dee langsung histeris.
“Sabar Bu, tenang dulu. Berdasarkan hasil pemeriksaan ini, kadar HCG putri Ibu memang tinggi. Tingginya kadar HCG biasanya terjadi pada wanita hamil dan wanita dengan kelainan hormone tertentu. Coba nanti saya akan memeriksa lebih lanjut. Apakah benar putrid Ibu sedang hamil atau memang sedang mengalami kelainan hormonal…” jelas Dokter Basri panjang lebar. Apapun penjelasan Dokter Basri, Mama Dee sudah tidak bisa konsentrasi lagi.
Nalurinya sebagai seorang Ibu mengatakan kalau Dee sedang hamil. Perubahan bentuk tubuh Dee akhir-akhir ini. Sikapnya yang tidak seperti biasanya. Dee yang biasanya ceria dan periang akhir-akhir ini tampak lebih pendiam. Semula ia mengira Dee sedang tidak enak badan. Semula ia mengira Dee agak stress karena sekarang putrinya sedang mengikuti tes masuk beberapa perguruan tinggi. Dee baru lulus SMA dan begitu bersemangat melanjutkan kuliah. Sebagai orang tua yang baik, Mama Dee sangat mendukung niat putrinya itu.
Mama Dee sibuk mengira-ira. Mungkinkah Dee hamil? Dengan siapa? Tommykah? Orang tua macam apa hingga tak bisa menjaga anaknya? Mama macam apa? Apakah salah bila selama ini ia memberi kebebasan penuh pada Dee? Ia hanya tak ingin Dee merasa terkungkung dan terkurung. Selama ini ia tak pernah membatasi teman-teman Dee. Bahkan Dee pernah beberapa kali pergi keluar kota bersama teman laki-lakinya, selain dengan Tommy. Dee juga sering bepergian dengan Tommy, toh keduanya sudah dijodohkan. Mama Dee sangat percaya Dee bisa menjaga diri. Dia juga percaya Tommy akan menjaga Dee dengan baik. Mama Dee ingat, terakhir kali Dee pergi keluar kota bersama Pras. Saat itu Dee sedang mendaftar kuliah. Bram yang selama ini dikenal baik dan sopan. Mungkinkah Bram?
Mama Dee masih ingat, saat akan berangkat ke Malang untuk mendaftar kuliah di kota apel itu, Dee sempat marah pada Tommy. Bukannya mengantar Dee, saat itu Tommy malah pergi dengan teman-temannya ke Bandung. Akhirnya Dee pergi bersama Pras, yang kebetulan sedang liburan semester. Sepulang dari Malang, Mama Dee merasakan perubahan pada putrinya. Saat itu ia hanya berpikir Dee sedang stress karena memikirkan akan kuliah di mana. Ia khawatir tidak diterima di Fakultas Ekonomi. Ya, sejak kecil Dee memang menyimpan keinginan menjadi seorang akuntan.
Mama Dee tak pernah menduga putrinya mengalami ‘kejadian yang mengkhawatirkan’ selama di Malang. Selama ini ia hanya menduga Dee sedang stress memikirkan kuliah. Itu saja. Bukan hal-hal yang tak pernah dibayangkannya!
“Dee, apa yang terjadi padamu?!” pertanyaan itu bertalu-talu memenuhi pikiran Mama Dee.
Mama Dee memutuskan segera pulang ke rumah. Keinginannya hanya satu, menanyakan kebenaran pada putrinya itu. Jika memang Dee hamil, ia bersiap dengan aib besar yang akan mencoreng nama baik keluarganya yang terpandang.
“Dee, apakah benar kamu hamil, Anakku?! Dengan siapa? Katakan semua pada Mama!”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar