Kamis, 26 Juni 2008

1 ATAS NAMA KENANGAN

Tak ada yang lebih indah selain mengenang masa kecil. Tertawa atau menangis dalam kesendirian. Hanya atas nama kenangan. Merasakan lembut elusan tangan ibunda. Atau isak yang luluh di pelukannya. Ibu. Ia adalah sumber kedamaian dan ketenangan. Sumber cinta dan kasih sayang.

“Ibu. Tak ada yang lebih indah selain mengenangmu. Tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat senyummu. Senyum kebanggaan saat anakmu mampu berbuat sesuatu yang membuatmu bahagia. Ibu, aku datang menjengukmu. Meski di sini kuhanya beremu dengan nisan beku. Diiring desir angina musim kemarau yang kering. Biarlah Bu, kuingin tumpahkan segala rindu itu. Hari ini anakmu datang menjengukmu. Dengan setangkup cinta dan rindu. Andai saja aku bisa memelukmu, Ibu. Mencium tanganmu yang mungkin mulai keriput. Tapi kau tetap cantik, Bu. Kau tak kan pernah keriput.”

Huiny menahan cairan hangat yang tiba-tiba membasahi dua bola matanya. Sudah lama perempuan itu menyimpan keinginan untuk mengunjungi makam ibunya. Wanita yang telah meregang nyawa, melahirkan dan membesarkannya. Wanita yang amat dicintainya, yang hanya tersimpan dalam kenangan masa kecilnya.

Entah sudah berpuluh tahun dipendamnya asa itu. Bukan jarak yang menahan langkahnya. Tapi segala sesak di dada, kenangan yang telah meluluhlantakkan segalanya. Semuanya.

Di sini, matanya menyapu semua yang tampak di sekelilingnya. Kampungnya telah banyak berubah. Jalan setapak itu telah rapi diaspal. Rumah-rumah penduduk pun sudah banyak yang bagus. Bergaya simple minimalis. Tak kalah dengan model rumah-rumah yang ada di kota besar. Jaman memang telah berubah.

Sesungguhnya setiap hari adalah perubahan. Bayi tumbuh menjadi anak, remaja, dewasa dan akhirnya tua. Circle of life. Lingkaran kehidupan yang semua orang pasti menjalani. Takdir alam yang tak bisa dihindari. Bukan masalah suka atau tak suka. Tak ada kesempatan untuk bertanya. Atau sekedar menawar. Atau sekedar menahan meski hanya satu detik. Waktu senantiasa berputar. Dari tidak ada menjadi ada. Dari ada kembali menjadi tiada.

Seperti cinta. Dari tidak ada menjadi ada. Dari ada menjadi tidak ada. Ada dan tiada. Hanya kata semata. Tapi perlu kesiapan lebih untuk mensikapinya. Dari tidaka ada menjadi ada, pun sebaliknya.

Misalnya saja, dari tidak ada cinta menjadi ada cinta. Perlu proses penyesuaian. Dari ada yang dicintai menjadi tak ada yang dicintai. Tepatnya, orang yang dicintai itu pergi, tinggalkan dirinya. Pun perlu proses penyesuaian. Selain ketegaran dan ketabahan. Karena dari ada menjadi tidak ada selalu menyisakan rasa kehilangan. Kecuali memang ketiadaan itu yang diharapkan.

Dari tidak ada kenangan menjadi ada kenangan. Dari ada kenangan menjadi tak ada kenangan. Mungkinkah? Sanggupkah? Bisakah seseorang menghapus sebuah kenangan dalam hidupnya? Kenangan yang telah tertulis pada lembar-lembar perjalanan hidupnya. Kenangan yang telah mengikutinya sekian lama. Seumur hidup itu sendiri?

Seperti tulisan. Jika kenangan tergores tak cukup dalam, mungkin akan cepat terlupa. Tapi jika kenangan terlukis cukup dalam di dasar hati, mungkin selamanya akan terukir. Seperti fosil yang tinggalkan jejaknya hingga kini. Mungkinkah kenangan seperti itu?

Atau, mungkin yang perlu dilakukan manusia adalah jangan sampai kenangan itu mencegahnya melakukan perbaikan-perbaikan dalam hidupnya. Bukankah manusia harus belajar dari pengalaman? Dari sejarah? Agar tak jatuhpada lubang yang sama. Pada penderitaan yang sama.

Wanita itu rela menempuh jarak cukup jauh, untuk melepas semua kenangan. Yang telah meluluhlantakkan hatinya. Ia tak yakin akan mampu lalui semuanya. Karena kenangan itu memang tak pernah tinggal di suatu tempat. Meski ada tempat-tempat tertentu yang menyimpan kenangan bagi seseorang. Sesungguhnya kenangan itu tempatnya di hati. Semua berpulang pada diri sendiri, apakah mau terkunci kenangan atau melepaskan ikatannya. Yang pasti, semua itu tak mudah dan butuh usaha.

Langkah kecil itu tertatih. Dalam ketegaran yang dipaksakan. Huiny berdiri. Senja turun, menyisakan semburat merah indah di ujungnya. Ingin ia nikmati semua kenangan masa kecil yang tersisa. Akhirnya angan mengantarkannya ke sini. Tanah yang menyimpan bayak kenangan. Kebahagiaan masa kecil Kenangan yang selalu membuatnya menangis.

“Ibu, mengenangmu adalah air mata. Meski berat, aku akan berusaha lalui semuanya, Bu. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik, yang mampu aku lakukan.”

Tubuh ringkih itu berjalan, meninggalkan tanah makam yang berangsur sepi. Para peziarah mulai pulang satu persatu. Tinggalkan tempat peristirahatan abadi itu kembali berkawan sunyi.

2 DUNIA YANG BERPALING

Andai saja bisa, ia ingin melupakan semua kenangan itu. Andai saja mampu, ingin ia mengubur semua dalam-dalam. Sekarang ia hanya ingin jalani hidupnya. Tanpa bayang-bayang masa lalu itu. Susah payah ia bangkit dan bertekad akan jalani sisa usia yang mungkin tak lama.

Huiny menarik nafas dalam. Ada rasa perih yang tersisa. Sms-sms Dee masih tersimpan rapi di hand phone-nya. Kenapa jua kenangan itu menyeretnya kembali, memaksanya memasuki lorong-lorong waktu yang telah berlalu. Memaksanya kembali merasakan semua perih jiwa itu.

Harusnya ia tak perlu menanggapi telepon dan juga sms-sms Dee. Toh ia bisa mengabaikannya. Bisa menolak dengan halus, tanpa harus ada rasa bersalah. Harusnya ia tak perlu menjawab telepon-telepon Dee. Toh ia merasa tak punya urusan dan masalah dengan perempuan itu. Perempuan yang telah mengambil Bram dari kehidupannya! Atau Bram yang telah memberikan hatinya pada perempuan itu? Apa bedanya? Apa pedulinya? Toh ia tak pernah kenal dan tak perlu merasa kenal dengan perempuan itu. Siapa pun dia, Huiny merasa tak perlu tahu. Bukan urusannya.

Bukankah Bram telah memilih? Bukankah demi perempuan itu, Bram tega mencampakkannya? Perselingkuhan selalu menyakitkan. Tapi semua tetap lebih baik sebelum semuanya terlambat. Meskipun perih dan amat sakit, dia harus realistis. Kenyataan telah terpampang di depan mata. Semua sudah jelas, sejelas sinar mentari pagi. Apa yang bisa diharapkan dari sebentuk hati yang telah berpaling? Telah mendua?

Samar diingatnya lirik lagu Iwan Fals,

“…tak mungkin menerimamu bila
ternyata kau mendua membuatku terluka…”

Sejatinya ia tak pernah menyalahkan Bram, atau menyalahkan siapa pun. Dia hanya merasa amat bodoh. Seharusnya ia tak perlu percaya pada laki-laki yang telah membuatnya terbang ke awan itu. Yang pada saat yang sama menghempaskannya ke lembah paling menyakitkan. Harusnya ia tak perlu memberikan seluruh hatinya pada laki-laki itu. Seluruh cinta dan kesetiaan. Cinta yang dirasanya cukup kuat. Ternyata ia salah. Bram bukanlah lelaki seperti yang ia duga. Bram yang penuh cinta, penuh perhatian dan lembut. Cinta pertama berakhir sudah. Bram dengan sadar telah menikam hati perempuan itu hingga berdarah-darah. Hancur berkeping-keping.

Bram tak pernah menghargai semua kasih sayang dan kesetiaannya. Sungguh menyedihkan. Amat menyakitkan. Hatinya telah mendua. Entah mengapa. Sebuah syal yang dirajutnya penuh cinta, ternyata tak cukup kuat mnengikat hati laki-laki itu untuk tidak berpaling pada bunga yang lain. Ternyata begitu mudah bagi Bram untuk pindah ke lain hati.

Mengenang semua itu, Huiny merasakan nyeri luar biasa di dasar hatinya. Ia harus berjuang menyingkirkan rasa tercampak dan terbuang. Ia harus meyakinkan dirinya sendiri, bahwa hidupnya masih punya makna. Bahwa dirinya masih cukup berharga. Sesungguhnya saat itu ia berada di titik nadir. Rasa kehilangan, rasa tercampak, rasa terbuang. Semua rasa itu melemparkannya ke jurang paling dalam. Ia sempat kehilangan kepercayaan dirinya. Sempat kehilangan semangat hidup. Saat itu ia merasa dunia telah berpaling darinya.

Setiap bangun tidur, ia selalu berharap bahwa semua itu hanya mimpi. Tapi semua nyata. Inginnya ia percaya bahwa semua nyata adanya. Tak ada lagi Bram untuknya. Setiap malam, hanya air mata yang setia menemani kesedihannya. Ia sembunyikan luka itu seorang diri. Ia tutup hatinya rapat-rapat. Seandainya cinta itu tak pernah mampir di hatinya, mungkin ia tak akan merasakan sakit yang amat.

Atau, mungkinkah ia yang selama ini salah mengartikan semua sikap dan perhatian Bram padanya? Mungkin saja lelaki itu tak pernah benar-benar mencintainya. Mungkin saja hanya sebentuk rasa kasihan, atas nasibnya yang malang. Mungkin saja hanya naluri sebagai seorang kakak yang ingin melindungi adiknya. Ya, mungkin saja. Huiny coba mengingat-ingat.

Lalu apa arti puisi-puisi indah yang terselip dibuku catatan sekolahnya, saat buku itu dipinjam Bram? Apa arti seuntai bunga edelweiss segar yang selalu dibawa Bram? Saat laki-laki itu pulang dari setiap pendakiannya? Hadiah-hadiah ulang tahun yang ekspresif dan setumpuk perhatian Bram pada dirinya?

“Bram, mungkinkah cinta itu memang tak pernah hadir di hatimu? Sementara ruang hatiku telah penuh mencintaimu. Cinta pertama dan satu-satunya. Tak ada nama selain namamu. Mungkinkah selama ini aku yang terlalu berharap, yang salah mengartikan segala perhatian dan kebaikan hatimu?”

Huiny tak pernah tahu.

3 KALA MAAF JADI KOSA TERINDAH

“Biarlah hati-hati yang terluka, mencari kesembuhannya sendiri. Percayalah, waktu pasti akan membantu, sembuhkan luka jiwa itu.”

Huiny membaca coretan pada sampul depan buku tulis sekolahnya. Tulisan tangannya, entah kapan. Sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil, ia suka menulis apa pun di halaman buku-buku sekolahnya. Halaman depan buku tulisnya selalu ia hiasi dengan tulisan-tulisan. Apa saja. Apa yang ada di benaknya saat itu, spontan saja tertulis.

Sebenarnya semua tulisan itu adalah untuk mengemangati dirinya sendiri. Setelah semua kehilangan itu. Setelah orang-orang terkasih itu pergi dari hidupnya. Tinggalkan ia dalam kesendirian. Kesunyian yang hampa. Yang kadang menyakitkan. Ia coba nikmati semua sakit dan perih jiwa itu. Ia coba salami dan pahami semua yang mungkin sudah jadi jatah dalam hidupnya. Luka yang hiasi perjalanan hidup. Pahit yang mesti ditelannya.

Kini mungkin hatinya jauh merasa lebih tenang. Setelah ia coba berlapang dada menerima semuanya. Ia belajar memaafkan Bram. Mencoba empati. Seandainya ia jadi Bram, mungkin ia akan mengambil langkah yang sama, meski dengan itu harus ada sepotong hati yang terluka.

Sejak Huiny tahu bahwa Bram sudah menjatuhkan pilihannya, ia memutuskan untuk mundur dari kehidupan Bramastya. Pun ia memutuskan untuk menutup ruang hati dan hidupnya untuk makhluk bernama Bram. Tak ada kompromi. Ia harus membenahi hidupnya. Men-set ulang semua cita-cita dan harapannya.

Jujur, apa yang telah dilakukan Bram membuat Huiny terpuruk. Namun perempuan itu segera sadar, ia tak boleh larut dan hanyut dalam kesedihan berlama-lama. Perempuan itu coba memahami dan memaafkan semua yang membuat batinnya terluka. Perempuan itu coba menghibur dirinya sendiri. Ia coba yakinkan hatinya, bahwa sebenarnya Bram tak pernah bermaksud menyakiti dan menghancurkan hatinya. Ia yakinkan dirinya bahwa “kejadian" itu bisa terjadi pada siapa saja. Yang kurang hati-hati dalam menjaga diri.

Jauh di lubuk hatinya, sesungguhnya ia merasa tak sampai hati melihat ‘penderitaan’ yang harus dijalani Bram. Tapi ia juga tak tahu pasti, bagaimana perasaan Bram saat itu. Bahagiakah? Atau, mungkin saja Bram menerima semua ‘kejadian’ itu bukan sebagai penderitan, tapi sebuah ujian dan perjuangan. Ya, mungkin saja. Bram masih harus menyelesaikan kuliahnya, sementara ia juga harus bertanggung jawab sebagai seorang calon ayah. Sebuah tanggung jawab dan tantangan yang tak ringan. Perlu perjuangan dan usaha untuk mampu jalani kedua peran itu dengan baik.

Bagaimanapun Huiny tak mengingkari, ia pernah dekat dengan Bram. Dan mungkin, saat itu Bram adalah satu-satunya sahabat terbaik yang pernah ia miliki. Yang telah menemaninya melewati masa kecil yang indah. Bram, telah banyak memberi warna masa kecilnya. Dan, Bram adalah salah satu dari sedikit orang yang mampu memahami dirinya. Seorang gadis kecil yang pendiam dan tertutup, pandai menyimpan perasaan dan sering ragu-ragu karena tak ingin menyakiti orang lain.

“Bram, aku tak pernah menyalahkanmu. Aku berusaha memahamimu. Aku tahu, mungkin saja kau sudah terhukum dengan perasaan bersalah itu. Aku memaafkanmu, saat itu juga, tanpa kau perlu memohon dan harus memintanya dariku –andai kau merasa bersalah, entah andai tidak-. Aku memaafkanmu bukan karena aku orang yang baik, tapi aku merasa mungkin saja ini memang jalan yang harus kita tempuh. Garis takdir yang harus kita jalani sendiri-sendiri.

Kita tak pernah tahu, bisa jadi kita menganggap sesuatu baik buat kita, namun ternyata yang kita anggap baik itu belum tentu baik. Ada kalanya kita menganggap sesuatu itu buruk, namun sesungguhnya ia baik buat kita. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.

Maafkan bila mulai saat itu kau tak akan bisa menemuiku lagi. Aku bukan hendak menghukummu, tapi aku tak ingin menjadi duri dalam kebahagiaan kalian. Aku tak ingin merusak apa yang baru kalian bangun.

Biarlah aku pergi, mencari ketenangan dan kesembuhan perih yang belum jua pudar. Aku akan melangkah sendiri, meneruskan perjalanan dan perjuangan yang belum usai. Yang entah akan berakhir di mana. Dimanapun akhir dari perjalananku ini, aku berharap semoga ini yang terbaik.”

Huiny membaca sekali lagi tulisan yang tertera pada buku diary-nya. Dihapusnya air mata terakhir. Huiny memang sangat kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Bram. Namun ia tak bisa memungkiri, bahwa di sudut hatinya, rasa itu masih ada. Rasa yang dulu terasa hangat dan indah, kini menjelma menjadi nyeri yang mengiris-iris.

Setiap orang bisa saja melakukan kesalahan dan kekhilafan. Ia tak ingin menghakimi, atau menghukum Bram. Tidak. Tak ada seorangpun yang tahu apa yang akan terjadi esok hari.

Dalam hati Huiny berdoa, semoga Pras belajar dari kesalahan yang telah diperbuatnya. Bertanggung jawab dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Bram adalah serpihan masa lalu yang harus segera dilupakannya. Ia tak ingin terjebak dalam luka dan bertekad akan melanjutkan hidupnya. Membuka lembaran baru. Membuang semua yang sudah usang.

Dengan sadar, Huiny menyingkirkan benda-benda yang mengingatkannya pada Bram. Semuanya. Seperti antibiotik yang membunuh semua bibit penyakit sampai ke akar-akarnya. Ia hanya ingin kehidupannya steril dari virus bernama Bram. Itu saja. Ia hanya ingin melanjutkan hidupnya.

Diraihnya diary itu, sebuah perjalanan hati yang harus segera diakhirinya.

‘Cinta adalah pengorbanan
memutuskan mencintai berarti memutuskan berani berkorban
cinta sejati tak pernah egois
pecinta sejati akan bahagia bila orang yang dicintainya bahagia
tak peduli bersama siapa
semoga kebahagiaan akan selalu menyertaimu
siapa pun yang dampingi hidupmu kini
kuharap dia yang terbaik untukmu
meskipun itu
bukan aku

biarlah aku meniti sepi seorang diri
kala mencintaimu adalah perih
saat kusadari bahwa
tak pernah ada
aku
dihatimu

Selamat tinggal Bram
Selamat tinggal kenangan’

Air mata Huiny menetes. Terdengar senandung lirih dari tembang lawas milik Ebiet G Ade, coba menghibur lara di hatinya. Tegarkan sebentuk jiwa yang patah, yang sedang berdarah.

“…ternyata mengagungkan cinta
harus ditebus dengan duka lara
tetapi akan tetap kuhayati
makna sakit hati ini
telah sempurnakah kekejamanmu..”

4 HUINY

Lembut, pendiam, pintar, berjilbab. Dan mungkin juga cantik. Itulah perempuan yang selalu disebut-sebut Bram. Perempuan yang begitu beruntung karena berhasil menempati ruang istimewa di hati Bram.

Dee selalu berusaha menyembunyikan bara yang berkobar di hatinya, setiap melihat binar di mata Bram, saat lelaki tampan itu bercerita tentang Huiny. Kelihatan sekali kalau Bram sangat mencintai gadis itu. Huiny. Huiny. Selalu Huiny. Begitu istimewakah gadis bernama Huiny itu?

Tapi, kenapa ia harus cemburu pada Huiny? Bram bukan apa-apanya, hanya seorang teman, tak lebih. Dan sudah ada Mas Tommy, seseorang yang pasti amat menyayanginya. Meski itu hasil perjodohan antar orang tua. Tapi melihat Bram yang selalu bercerita tentang Huiny, mau tak mau ada juga rasa cemburu terbersit di hati gadis tomboy itu.

“Ini hadiah dari Huiny,” kata laki-laki itu, sambil tangannya menunjuk sebentuk syal. Saat itu mereka sedang melakukan pendakian bersama. Dee melihat syal hijau lumut yang tampak melingkar di leher Bram. Ada nama Bram dan Huiny yang tertera cantik di kedua ujung syal itu. Dee tersenyum, menutupi rasa cemburu yang tiba-tiba memenuhi rongga dadanya.

“Dia merajut syal ini sendiri, katanya sih, neneknya yang mengajari merajut. Lucu ya, hari gini, masih ada gadis yang bisa merajut. Dia bahkan merancang dan menjahit sendiri baju-bajunya,” kata Bram dengan tersenyum. Dee menangkap kebanggaan dalam nada bicara Pras.

“Kok kamu nggak ngajak Huiny naik gunung sih Bram? Apa dia tidak suka?” tanya Dee mengalihkan pembicaraan.

“Huiny? Pasti dia akan senang sekali kalau bisa ikut. Merasakan letihnya pendakian dan menikmati segala keindahan dari puncaknya. Hm…segar sekali di sini, aku janji akan membawakan edelweiss untuknya,” jawab Bram sambil tangannya melihat hamparan rumput menghijau.

“Selama ini ia cukup puas melihat semua keindahan itu melalui foto.Atau lewat majalah National Geographic, majalah kesukaannya. Bapak huiny cukup tegas. Dia amat menjaga dua anak perempuannya, Huiny dan kakaknya. Jangankan naik gunung, dibonceng naik motor sama teman laki-laki saja tidak boleh,” jawab Bram sambil tertawa kecil.

“Masih kolot ya bapak Huiny itu. Kenapa ia tidak dipingit saja sekalian?” kata Dee.

Bram hanya mengangkat bahu. “Mungkin kolot sih tidak ya, malah menurutku cukup demokratis, mau ambil jurusan apa saja silakan, asal bertanggung jawab. Tapi untuk hal-hal tertentu memang agak tegas, misalnya SMA Huiny harus kos, agar belajar mandiri dan belajar hidup terpisah dengan orang tua. Buat latihan karena kuliah kan adanya di luar kota, supaya tidak kaget berjauhan dengan orang tua. Boleh juga sih ikut ekskul pramuka, boleh juga pergi berkemah. Dengan syarat kegiatan itu yang mengadakan pihak sekolah dan ada guru yang ikut serta bertanggung jawab,” kata Bram panjang lebar.

Dee hanya tersenyum. Mencoba membandingkan ayah Huiny dengan papanya. Papa tak pernah melarang sedikit pun. Dee bebas melakukan apa saja yang dia kehendaki. Bahkan papa sepertinya tampak biasa saja, saat Dee minta ijin beliau untuk pergi mendaki gunung dengan Pras dan empat teman lelakinya. Hanya Dee yang perempuan. Papa biasa saja, tidak tampak khawatir dan percaya padanya. Papa percaya Dee bisa menjaga diri, dan Dee juga berusah menjaga kepercayaan yang sudah diberikan papanya. Apalagi bagi keluarga Dee, Bram bukan orang lain. Kebetukan mama Dee mempunyai usaha kos-kosan dan Bram adalah adik kandung Mbak Tiara, anak kos kesayangan mama Dee. Mbak Tiara sangat memperhatikan kebersihan kamar, sikapnya sopan dan lembut. Juga karena Mbak Tiara selalu tepat membayar uang sewa kos, tidak seperti penyewa lain yang harus ditagih-tagih baru bayar. Itulah kenapa mama Dee sangat saying pada Mbak Tiara dan sudah menganggapnya sebagai keluarga sendiri. Apalagi Mbak Tiara sudah cukup lama kos di tempat mama Dee, dari masuk kuliah hingga sekarang hampir wisuda. Jadi, orang tua Dee pun sepertinya sudah menganggap Bram bagian dari keluarga mereka.

Bram sering main ke tempat kakaknya. Saat itulah ia kenal dengan Dee. Meskipun anak orang kaya, Dee tidak sombong. Pembawaannya yang selalu ceria dan supel,membuat gadis periang itu mempunyai teman cukup banyak. Tidak sulit bersahabat dengan Dee, karena ia juga pandai bergaul. Bram merasa cukup nyaman berteman dengan Dee. Dee yang terbuka dan apa adanya. Dee yang ekspresif dan sangat perhatian. Berbeda dengan Huiny yang agak pendian dan sedikit tertutup. Bersama Dee, ia merasa bebas bercerita apa saja. Bebas mengungkapkan segala hal yang menyesakkan jiwa. Dee yang baik dan perhatian, selalu setia mendengar segala ceritanya. Pun tentang hubungannya dengan Huiny yang terasa kian jauh, Bram bebas menceritakannya pada Dee.

Bagi Bram, Dee adalah seorang teman yang menyenangkan. Bram tahu bahwa orang tua Dee telah menjodohkan gadis itu dengan Tommy, anak relasi bisnisnya. Selain itu juga jauh di lubuk hatinya, sudah ada sebentuk nama yang mengisi ruang istimewa di hatinya, nama itu adalah Huiny. Huiny adalah cinta pertama yang singgah di hatinya. Huiny yang pendiam dan sungguh sulit teraih. Huiny, cinta yang membuat malam-malamnya resah dan singnya gelisah. Sungguh sulit rasanya membuka kominikasi dengan Huiny. Mereka kuliah di kota yang sama. Tapi, mereka jarang sekali berkomunikasi kalau boleh dibilang hampir tak ada komunikasi. Kesibukan kuliah? Ego yang masih sulit disingkirkan?

Kadang Bram merasa, Huiny begitu sempurna. Kadang ia merasa Huiny tak pantas untuknya. Bram tidak pernah tahu apa yang ada di hati Huiny. Gadis itu sungguh sulit didekati. Perasaannya sulit ditebak. Kadang ia merasa Huiny sangat sayang dan perhatian padanya. Namun di saat yang sama, ada kekhawatiran bahwa ia tak akan mampu membahagiakan Huiny kelak.

Huiny pun tampak menjaga jarak. Apalagi saat ia mulai aktif ikut kajian di kampus dan memakai jilbab. Hal itu membuat Bram merasa agak sungkan dan kadang terbersit rasa tak pantas.

Bram terpekur, membayangkan percakapannya dengan Ikhwan saat mereka berdua sholat di masjid kampus.

“Kenapa kalian tidak menikah saja?” tanya Ikhwan, temannya yang aktif di rohis fakultas.

“Maksudmu Wan?”

“Kamu lamar Huiny dan kalian menikah, beres kan?”

“Tapi, Wan…”

Ikhwan tersenyum dan menepuk bahunya lembut. Ia mencoba memahami masalah yang membuat kawannya gelisah akhir-akhir ini.

“Aku bisa mengerti mengapa Huiny tampak menjaga jarak denganmu. Bukankah memang sudah seharusnya begitu? Seorang muslimah harus menjaga kehormatannya dari laki-laki yang bukan mahramnya. Bila kamu memang sudah mantap, aku sarankan lebih baik menikah saja. Menikah adalah ibadah, sunnah rasul, jalan untuk memelihara kesucian diri, mengasah tanggung jawab dan akan mematangkan proses pendewasaan diri.”

Sejak itu Bram dan Ikhwan sering terlibat diskusi tentang pernikahan. Selain itu Bram juga menyaksikan sendiri, banyak kakak tingkat dan teman-temannya sesame mahasiswa yang melakukan pernikahan di usia muda. Nikah sambil kuliah. Istilah untuk mereka yang memutuskan menikah sambil meneruskan aktivitasnya kuliah. Dunia yang penuh dengan pernak perniknya. Bukan sesuatu yang mudah, tapi memang setiap keputusan selalu ada konsekuensinya. Setiap pilihan ada resikonya.

Untuk lebih memantapkan hatinya, Bram banyak membaca buku-buku yang berhubungan dengan pernikahan. Hingga suatu saat hatinya sudah bulat. Ia ingin melamar Huiny dan mereka akan menikah. Mengarungi bahtera rumah tangga. Merasakan pahit manisnya kehidupan. Bersama-sama.

Ia ingin memberikan surprise pada gadis itu. Bram sengaja tak menceritakan rencananya itu pada Huiny. Ia sangat mencintai gadis itu dan merasa yakin Huiny juga pasti akan menerima pinangannya. Sikap Huiny sudah jelas. Ia tidak pernah melihat Huiny menjalin hubungan dengan pemuda lain. Bahkan sebelum Huiny aktif ikut kajian dan mengenakan jilbab. Gadis itu sangat menjaga dirinya. Mungkin hanya dialah satu-satunya teman dekat Huiny di masa kecil. Bersama jalani masa SMP dan SMA. Huiny yang tertutup dan pendiam. Entah kenapa cinta itu tumbuh begitu saja. Pada sosok yang biasa dan sederhana.

5 IJINKAN AKU, IBU

“Apa? Menikah?” alis ibu naik beberapa millimeter. Perempuan setengah baya itu tampak terkejut.

“Ada apa sih, Bram? Coba cerita sama Ibu,” dengan lembut direngkuhnya Bram untuk mendekat. Ibu selalu begitu. Hangat dan penuh perhatian.

“Bram ingin menikah, Bu…” suara Bram tercekat di tenggorokan. Wanita yang masih tampak cantik di usia senja itu tersenyum.

“Dengan Huiny?”

Bram mengangguk sambil tersipu. Ada debar di hatinya. Ia tahu ibu sangat menyayangi Huiny. Ibu juga tahu kalau selama ini anak laki-lakinya itu sudah lama menaruh hati pada Huiny, teman SMP-nya. Nalurinya sebagai seorang ibu, mengatakan kalau anak laki-lakinya tersayang itu sedang jatuh cinta.

“Bram,” ibu sengaja menggantung kalimatnya, “Ibu dan juga bapakmu memang sangat mengharapkan suatu saat nanti kamu akan menikah dengan seorang wanita yang baik. Yang kamu sayangi dan pastinya juga wanita yang mencintai kamu. Yang bisa kamu ajak mengarungi suka dan duka. Wanita yang membuat kamu merasa tenteram. Yang akan menjadi ibu dari anak-anakmu.”

Bram tersenyum, namun ia tetap menunggu kalimat ibunya. “Tapi Bram…” ibu tampak menghela nafas dalam-dalam.

“Tapi apa, Bu?” tanya Bram tak sabar. Selama ini ia tak pernah menyela pembicaraan ibunya. Ia sungguh menyayangi dan menghormati wanita yang telah melimpahinya dengan cinta dan kasih saying itu.

“Mungkin waktunya tidak sekarang. Nanti kalau kalian sudah lulus. Kamu baru semester enam. Masih kuliah dan belum bekerja. Mau dikasih makan apa istrimu nanti?”

“Tapi, Bu…” pandangan mata ibu menyiratkan ibu tak mau disela.

“Menikah itu tidak gampang, Bram. Sabarlah dulu. Orang tuanya Huiny juga belum tentu mengijinkan. Kuliah Huiny kan juga belum selesai. Mungkin lebih baik kamu konsentrasi dulu, belajar yang rajin menyelesaikan kuliahmu dan cepat mencari pekerjaan. Mudah-mudahan semua berjalan lancer. Nah, setelah kamu bekerja dan punya penghasilan sendiri, Ibu janji akan melamar Huiny buat kamu.”

“Tapi, Bu…” bibir Bram terasa kelu.

“Tidak ada tapi lagi. Ibu juga malu melamar Huiny, sementara kamunya masih belum berpenghasilan. Kalau bapaknya Huiny tanya, mau dikasih makan apa anaknya, Ibu harus bilang apa? Ibu percaya, huiny adalah wanita yang baik buat kamu. Huiny pasti akan sabar menunggumu. Ibu rasa, dia juga sangat mencintai kamu…”

Bram diam mematung. Ibu tidak salah, Ibu benar. Tapi Huiny. Ia mencintai gadis itu, sejak pertama kali melihatnya. Saat ia masih kelas 5 SD dan sekolah mereka mengadakan pertandingan persahabatan. Cinta pada pandangan pertama. Huiny. Gadis sederhana itu tiba-tiba saja memenuhi ruang di hatinya.

Kebetulan mereka diterima di SMP yang sama dan kebetulan satu kelas saat kelas satu. Dia bisa mengenal gadis itu lebih dekat. Cinta yang hadir semakin tumbuh dan bersemi. Huiny, seorang gadis yang sederhana, pemalu, pendiam dan tidak genit seperti gadis-gadis lainnya. Justru dia cenderung tertutup. Dan mata bening itu. Mata yang menyiratkan sinar kesedihan, sunyi dan murung. Bram ingin sekali tahu, ada apa di balik mata bening Huiny.

Gadis sederhana dan pemalu. Entah kenapa hatinya terpenjara setiap melihat gadis berambut panjang itu. Ada rasa ingin melindungi dan rasa ingin membuat mata bening itu tak lagi murung.

“Ijinkan aku, Ibu. Ijinkan aku merengkuh perempuan terkasih itu. Dalam ikatan suci yang diridhoi-Nya. Aku hanya ingin membuatnya bahagia. Mata bening itu, menyimpan duka yang entah apa. Ijinkan aku, Ibu. Bilakah?”

Bram coba mengurai dadanya yang agak terasa sesak. Hidup adalah pilihan. Dan kini hidup menghadapkannya pada dua pilihan yang begitu berat. Antara dua wanita yang amat dikasihinya. Bram hanya dapat menarik nafas dalam. Keputusan ibunya sudah bulat.

6 DEE, APA YANG TERJADI PADAMU?

Sudah beberapa hari ini Dee merasakan badannya pusing dan berat. Setiap bangun tidur perutnya sering terasa mual dan selalu ingin muntah. Seperti pagi itu, setengah berlari ia masuk kamar mandi. Tak lama kemudian terdengar bunyi muntahan keluar.

Mama Dee bukannya tak memperhatikan perubahan yang terjadi pada putri semata wayang mereka. Nalurinya sebagai seorang ibu mengatakan ada sesuatu yang lain dengan anak gadisnya itu.

“Kamu sakit, Dee?” tanya Mama Dee begitu dilihatnya Dee keluar dari kamar mandi dan berjalan melewati ruang makan.

“Iya Ma, mungkin hanya masuk angin,” jawab Dee. Mukanya kelihatan pucat.

“Sekarang ganti baju dan ikut Mama periksa ke Dokter Basri,” kata Mama Dee lembut namun tegas. Segera wanita paruh baya yang masih tampak cantik dan energik itu menyuruh Pak Bejo, sopir keluarga mereka untuk bersiap-siap.

Di klinik Dokter Basri, Dee segera melakukan serangkaian pemeriksaan dan berbagai tes. Mama Dee sangat mengkhawatirkan keadaan putrinya itu. Sore harinya Mama Dee kembali ke klinik Dokter Basri untuk mengambil hasil tes. Tak seperti biasanya, sore itu Dokter Basri mengajaknya bicara empat mata. Dokter keluarga itu menyuruh perawat yang ada di ruangan untuk keluar.

“Bagaimana hasil tes anak saya, Dokter?”

“Hasil tes darah dan urin semuanya baik. Memang kadar Hb-nya agak rendah, tapi tidak apa-apa. Hal ini biasa terjadi pada pasien yang…” Dokter Basri tampak menghentikan penjelasannya.

“Ada apa dengan aanak saya, Dokter?” Mama Dee kelihatan begitu cemas.

“Dee positif, Bu. Putri Ibu kadar HCG-nya tinggi,” kata Dokter Basri hati-hati, sambil menunjukkan hasil pemeriksaan HCG test pack.

“Apa Dokter?! Maksud Dokter anak saya hamil?! Apa tidak salah?!” Mama Dee langsung histeris.

“Sabar Bu, tenang dulu. Berdasarkan hasil pemeriksaan ini, kadar HCG putri Ibu memang tinggi. Tingginya kadar HCG biasanya terjadi pada wanita hamil dan wanita dengan kelainan hormone tertentu. Coba nanti saya akan memeriksa lebih lanjut. Apakah benar putrid Ibu sedang hamil atau memang sedang mengalami kelainan hormonal…” jelas Dokter Basri panjang lebar. Apapun penjelasan Dokter Basri, Mama Dee sudah tidak bisa konsentrasi lagi.

Nalurinya sebagai seorang Ibu mengatakan kalau Dee sedang hamil. Perubahan bentuk tubuh Dee akhir-akhir ini. Sikapnya yang tidak seperti biasanya. Dee yang biasanya ceria dan periang akhir-akhir ini tampak lebih pendiam. Semula ia mengira Dee sedang tidak enak badan. Semula ia mengira Dee agak stress karena sekarang putrinya sedang mengikuti tes masuk beberapa perguruan tinggi. Dee baru lulus SMA dan begitu bersemangat melanjutkan kuliah. Sebagai orang tua yang baik, Mama Dee sangat mendukung niat putrinya itu.

Mama Dee sibuk mengira-ira. Mungkinkah Dee hamil? Dengan siapa? Tommykah? Orang tua macam apa hingga tak bisa menjaga anaknya? Mama macam apa? Apakah salah bila selama ini ia memberi kebebasan penuh pada Dee? Ia hanya tak ingin Dee merasa terkungkung dan terkurung. Selama ini ia tak pernah membatasi teman-teman Dee. Bahkan Dee pernah beberapa kali pergi keluar kota bersama teman laki-lakinya, selain dengan Tommy. Dee juga sering bepergian dengan Tommy, toh keduanya sudah dijodohkan. Mama Dee sangat percaya Dee bisa menjaga diri. Dia juga percaya Tommy akan menjaga Dee dengan baik. Mama Dee ingat, terakhir kali Dee pergi keluar kota bersama Pras. Saat itu Dee sedang mendaftar kuliah. Bram yang selama ini dikenal baik dan sopan. Mungkinkah Bram?

Mama Dee masih ingat, saat akan berangkat ke Malang untuk mendaftar kuliah di kota apel itu, Dee sempat marah pada Tommy. Bukannya mengantar Dee, saat itu Tommy malah pergi dengan teman-temannya ke Bandung. Akhirnya Dee pergi bersama Pras, yang kebetulan sedang liburan semester. Sepulang dari Malang, Mama Dee merasakan perubahan pada putrinya. Saat itu ia hanya berpikir Dee sedang stress karena memikirkan akan kuliah di mana. Ia khawatir tidak diterima di Fakultas Ekonomi. Ya, sejak kecil Dee memang menyimpan keinginan menjadi seorang akuntan.

Mama Dee tak pernah menduga putrinya mengalami ‘kejadian yang mengkhawatirkan’ selama di Malang. Selama ini ia hanya menduga Dee sedang stress memikirkan kuliah. Itu saja. Bukan hal-hal yang tak pernah dibayangkannya!

“Dee, apa yang terjadi padamu?!” pertanyaan itu bertalu-talu memenuhi pikiran Mama Dee.

Mama Dee memutuskan segera pulang ke rumah. Keinginannya hanya satu, menanyakan kebenaran pada putrinya itu. Jika memang Dee hamil, ia bersiap dengan aib besar yang akan mencoreng nama baik keluarganya yang terpandang.

“Dee, apakah benar kamu hamil, Anakku?! Dengan siapa? Katakan semua pada Mama!”

7 CINTA TAK HARUS MEMILIKI

“Aku ingin jadi dokter,” mata bening itu berbinar.

Bram tersenyum, “Semua cita-citamu akan tercapai. Aku yakin itu.”

Mata bening itu membulat. “Oya, kenapa kau seyakin itu?”

“Karena…” Bram sengaja tak melanjutkan kalimatnya. Di depannya, Huiny tampak tak sabar menunggu kalimat Bram selanjutnya.

“Ayo Bram, kenapa? Karena aku pintar ya…hehe…” kata Huiny sambil tertawa.

Bram menggeleng. Huiny cemberut, dan Bram senang melihat ekspresi perempuan yang amat dicintainya itu. Lucu sekali.

“Ih, jangan terlalu percaya diri. Siapa bilang kamu pintar?”

“Terus, apa dong?”

“Aku yakin, suatu saat nanti kamu akan jadi dokter. Dan aku juga yakin semua yang kau cita-citakan akan tercapai. Karena…” Bram berhenti, mukanya tampak serius.

“Karena kau akan selalu mendoakanku,” lanjut Huiny, sudah hafal dengan apa yang akan dikatakan Bram.

“Ya betul, karena aku akan selalu mendoakanmu…” jawab Bram sambil tersenyum, begitu yakin dan percaya.

Mata bening itu tertawa. Dan Bram senang melihat senyum di wajah Huiny. “Terima kasih Bram, kau baik sekali…”

Bram amat paham mengapa Huiny ingin sekali menjadi dokter. Gadis pendiam itu begitu terobsesi dengan cita-citanya.tak ada yang dilakukannya selain belajar dan belajar. Meraih nilai terbaik dalam setiap mata pelajaran. Hatinya pun mudah tersentuh oleh penderitaan orang lain. Jiwa sosialnya amat tinggi. Jika ada teman yang sakit, ia akan mengkoordinir teman-teman untuk menengoknya. Atau mengumpulkan dana untuk mengadakan bakti sosial pengobatan gratis di tempat-tempat yang membutuhkan. Kebetulan ia kenal baik dengan Dokter Yuniar, dokter puskesmas yang juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Jadilah mereka sebuah tim yang kompak.

Namun yang lebih penting dari semua itu, Huiny kecil pernah merasakan kehilangan yang sangat, saat ibu yang amat dicintainya meninggal dunia. Saat itu kebetulan dokter jaga sedang menolong kelahiran di suatu tempat, dan ibu Huiny terlambat mendapatkan pertolongan . Kehilangan itu amat memukul jiwa Huiny kecil. Saat itulah ia bertekad menjadi dokter. Ia hanya tak ingin ada Huiny-Huiny kecil lain yang kehilangan ibu yang sangat dicintainya, hanya karena terlambat mendapatkan pertolongan seorang dokter!!

“Seandainya saat itu ibu cepat mendapatkan pertolongan dokter, mungkin…..” mata bening Huiny tampak berkabut.

Ingin Bram merengkuh tubuh ringkih yang sedang bersedih itu. Namun seakan ia tak bisa bergerak dari tempat duduknya.

“Aku berjanji akan membuatmu bahagia. Aku akan melakukan apa saja untuk membuatmu tak menangis lagi.” Bram berjanji pada dirinya sendiri. Mata bening itu menyimpan kesedihan, sunyi dan murung. Huiny yang pemalu dan pendiam. Entah kenapa ia sangat mencintai gadis itu. Ia ingin melindungi gadis rapuh itu. Pada saat yang sama, gadis itu bisa tertawa sekaligus menangis bila ingat kesedihannya. Seperti saat itu.

Dan kini, doa Bram terwujud. Sekarang Huiny sedang kuliah di kedokteran, seperti cita-citanya waktu kecil dulu. Seperti keyakinan Bram saat itu. Namun janji itu tinggal janji. Bram tak pernah memenuhi janjinya untuk selalu membuat Huiny bahagia. Untuk selalu menemani gadis itu dalam suka dan duka. Sesuatu yang terjadi saat itu telah menciptakan jarak tak tertempuh antara dirinya dengan Huiny. Hanya dalam hitungan detik, entah sadar entah tidak. Tak ada jalan kembali, meski hanya sekejab.

“Maafkan aku, Huiny. Meski kutahu, segunung kata maaf dariku tak kan mampu mengusir lara di hatimu.”

Selalu ada kalut, saat ingatannya terpaut pada gadis bermata bening itu. Bahkan Bram tidak tahu, dimana dan bagaimana Huiny kini. Andai ia bukanlah seorang pengecut. Andai ia tak harus melukai mata bening itu. Rasa bersalah it uterus mengikutinya. Sangat tidak adil perlakuannya terhadap Huiny selama ini. Tapi sungguh, ia tak berdaya.

“Aku hanyalah seorang pengecut yang tak punya nyali, yang tak pernah berani. Bahkan untuk sekedar menatap mata beningmu. Semoga kau mengerti. Semoga suatu saat nanti. Aku bukan yang terbaik untukmu, meski aku sangat mencintaimu…”

Ada perih saat lamat-lamat dari kejauhan terdengar sepenggal lirik Roman Picisan milik Dewa

“….cintaku tak harus…miliki dirimu….”

Mata Bram berkabut, jiwanya mendung. Ada hampa di ruang hatinya.

8 PERNIKAHAN DINI

“Sah. Ya, hari ini aku telah sah menjadi seorang istri dan tentunya calon ibu dari bayi yang ada dalam kandunganku. Setelah semua kemarahan papa dan kekecewaan mama. Mungkin juga cibiran tetangga. Juga tanya usil teman-teman. MBA. Married By Accident. Nikah karena kecelakaan. Maksudnya bukan kecelakaan di jalan, tapi di kamar. Karena hamil duluan. Mungkin memalukan. Dan mungkin tak seorangpun menginginkan mengalami hal seperti ini. Ya, aku malu. Tapi mau apa lagi?”

Dee memegang kepalanya yang terasa berat. Kata-kata itu masih berputar-putar di kepalanya. Seisi lingkungan gempar. Teman-temannya gempar. Gosip selalu mencuri perhatian. Apalagi bila sudah dibumbui. Tapi ini bukan gossip, ini benar!

Silakan mengatakan apa saja. Telinga Dee sudah kebal. Semua itu jadi cambuk bagi dirinya. Akan dibuktikannya pada semua yang hari ini melecehkannya, menghinakannya. Bahwa suatu saat nanti ia akan menjadi manusia yang berhasil ia akan lakukan apa saja untuk mandiri, tak tergantung pada siapa pun. Tak juga pada papa dan mama.

Dee tak tahu apa yang ada dalam pikiran Mas Tommy. Ada sebentuk rasa bersalah menggumpal di hatinya. Ia pun tak tahu apa yang ada dalam pikiran Bram. Setelah semuanya! Berhasilkah ia?! Berhasilkah ia membuat laki-laki itu mencintainya?! Berhasilkah Dee menempati ruang istimewa di hati laki-laki yang diam-diam amat dicintainya itu?

“Jangan takut, aku akan selalu menemanimu. Aku akan bertanggung jawab. Kau tak sendiri, ada aku yang akan selalu ada di sisimu,” rahang kokoh itu berkata dengan mantap. Sanggup memberi ketegaran pada sebentuk hati yang gamang.

“Biarlah orang mau bilang apa. Biarlah mereka melaknat, menghujat, menghakimi. Aku akan meniti jalanku sendiri,” tekad Dee dalam hati.

Bram, suami. Ya, Bram adalah ayah bayi yang kini ada dalam kandungannya. Laki-laki itu cukup berjiwa besar dan bertanggung jawab. Ada rasa lega akhirnya ia bisa menikah dengan Bram, meski untuk itu pasti ada yang dikorbankan. Tapi tak apa, demi Bram yang diam-diam amat dicintainya. Bram yang hari ini sudah utuh jadi suaminya. Tak ada. Tak ada lagi yang bakal mengambil Bram dari sisinya. Tak juga Huiny. Perempuan yang telah mengobarkan api cemburu itu. Bram kini sudah jadi miliknya. Ayah dari bayi yang dikandungnya.

“Biarlah. Aku akan lalui beban berat ini. Toh aku tak melaluinya seorang diri. Akan ada Bram yang selalu ada untukku.”

Dee tersenyum. Seberat apapun beban hidup yang menghadang di depan mata, semua akan terasa ringan baginya. Selama ada Bram di sampingnya. Cintanya pada laki-laki itu semakin besar. Dee mengelus perutnya lembut. Kini ia sudah siap menjadi seorang ibu. Pun siap menjadi istri Bram. Nyonya Dini Deevianty Bramastya. Dee tersenyum. Adakah yang lebih indah selain mengarungi hidup bersama sang belahan hati?

9 CINTA YANG MASIH BERTAHTA

“Aku ingin menikah dengan Huiny”

Berapa kali sudah kalimat itu mengusik hatinya. Dee sungguh tak mengerti. Apa yang ada dalam pikiran Bram?

“Ya, aku ingin menikah dengan Huiny. Boleh kan, kau tak keberatan?”

Bagaimana mungkin?!

Setelah semuanya?! Kenapa cinta itu masih bertahta di hati Bram?! Mungkinkah karena Bram didera perasaan bersalah. Mungkinkah selama ini Bram merasa tidak tenang karena telah meninggalkan Huiny begitu saja?

Dee sungguh tak mengerti. Sudah hampir lima bulan Bram tidak pulang. Bila memang Bram tidak mencintainya, setidaknya Dee berharap Bram akan berbelas kasih pada bayi mungil darah dagingnya sendiri.

Jika memang atas nama pernikahan, atas nama Vio -buah hati mereka- , sudah tak bisa mempertahankan Bram untuk tetap ada di sisinya, apa lagi yang bisa diharapkan?

Tiba-tiba Dee seperti baru tersadar, kenapa dulu Bram menikahinya. Mungkin bukan atas nama cinta, mungkin hanya sebentuk tanggung jawab. Atas konsekuensi apa yang telah mereka lakukan malam itu. Sesuatu yang memaksa laki-laki itu menikahinya.

Mungkin selama ini di hati Bram memang hanya ada satu nama. Dan itu bukan namanya. Nama itu adalah Huiny. Huiny lagi! Tiba-tiba ia merasa sangat benci pada gadis bernama Huiny itu. Apa sih kelebihan Huiny hingga ia masih saja menempati ruang istimewa di hati Bram!! Dan mengapa juga Bram masih begitu mencintai gadis itu? Rasa cemburu dan kebencian menguasai hati Dee, membuat dadanya sesak. Mengubahnya menjadi amarah. Dee merasa tak berdaya, tapi ia bertekad tak akan menyerah!

“Seharusnya akulah yang paling berhak menempati ruang istimewa di hati Bram. Aku istrinya. Bukan Huiny!”

Perempuan itu benar-benar terluka.

“Baiklah Bram, bila itu maumu, aku akan menerima.”

Perempuan itu meradang.

“Ceraikan aku dulu. Setelah itu, kau boleh menikah dengan Huiny!”

Dengan berat hati, diucapkannya kalimat itu pada Bram. Bila itu memang membuat Pras bahagia. Tak apa. Ia bisa melalui segalanya. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tak ada yang perlu ditakutkan. Keputusannya sudah bulat. Ia sudah sangat siap. Biarlah Bram memilih.

“Bagaimana Bram?!”

Laki-laki yang amat dicintainya itu menggeleng.

“Kau tetaplah istri dan ibu dari anakku. Aku tak mungkin dapat melepasmu.”

Hanya itu. Untuk selanjutnya laki-laki itu terdiam. Entah apa yang dipikirkannya.

Sampai pada suatu ketika, Dee mendengar kabar yang sungguh mengejutkan. Kabar yang sekaligus membuatnya lega.

Huiny menikah. Kabar yang ia dengar, Huiny menikah dengan laki-laki pilihan neneknya dan sekarang Huiny tinggal di kota yang sangat jauh. Mudah-mudahan dengan menikahnya Huiny membuat Bram segera melupakan gadis itu. Mengembalikan perhatian dan cinta Bram utuh padanya. Demi kebahagiaan keluarga kecil yang baru terbina.

Sekuat tenaga Dee berusaha menyimpan rasa cemburu yang membakar. Bagaimana mungkin Bram masih mencintai Huiny? Benarkah karena Huiny adalah cinta pertama Bram? First love is never die. Benarkah?! Atau karena sosok Huiny begitu berkesan di hati Bram?

Dee tak mengerti. Dan wanita itu berusaha tegar saat Bram terluka mendengar berita bahwa Huiny sudah menikah!

10 CINTA DALAM SELEMBAR BIODATA

Huiny menimang amplop putih yang belum dibukanya. Entah amplop yang ke berapa. Amplop yang menuntut jawaban. Tak begitu sulit, ia tinggal mengatakan “ya” atau “tidak”. Namun permasalahannya tak semudah itu. Tak sesederhana itu. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum ia memberi keputusan.

Ada rasa bersalah menggumpal di dadanya. Sudah berapa amplop yang datang kepadanya, dan berakhir dengan jawaban “tidak”. Amplop yang berisi biodata. Yang selalu membuat kepalanya pusing. Yang selalu berujung pada perasaan bersalah. Ia tak bisa menipu hatinya sendiri. Sungguh ia memang belum siap memberi jawaban “ya”. Meski almarhum bapak Huiny pernah menyuruh Huiny menikah sambil kuliah. Tak usah menunggu lulus dulu, nanti keburu tua. Sebaiknya menikah muda dan bisa melahirkan anak-anak sekitar usia 20 sampai 30 tahun. Nasehat itu masih diingatnya betul. Tidak usah khawatir soal rizki, begitu kata bapak, bijak. Saat itu bapak sudah mulai sakit-sakitan. Namun ia masih sangat memperhatikan Huiny dan selalu memberi nasehat. Dalam rasa sakit yang sering tak dihiraukannya.

Tiba-tiba mata bening itu berembun, “Bapak…” Huiny memanggil laki-laki tercinta itu dalam hati. Ada kerinduan menyeruak, dadanya tiba-tiba terasa begitu sesak. Dalam sekejab ia larut dalam isak. Rindu itu membuncah dan mengiris-iris hatinya.

Andai saja bapak masih ada, mungkin ia tak akan sebingung ini. Anda saja bapak masih hidup, mungkin ia bisa bertanya atau sekedar bertukar pikiran,. Kini ia harus menanggung semuanya sendirian. Tak ada tempat untuk sekedar menumpahkan keluh. Andai saja bapak dan ibu masih ada.

“Bapak, siapakah laki-laki yang terbaik untukku? Siapakah laki-laki yang pantas mendampingi anakmu ini? Yang dengannya aku akan menghabiskan sisa hidupku. Laki-laki yang benar-benar mencintaiku secara ikhlas menerimaku apa adanya. Yang bisa menghargai kelebihan-kelebihan dan tak berkeberatan dengan kekuranganku. Apakah ia ada?”

Huiny menghapus air matanya. Dalam hati ia memohon semoga Allah mengampuni dosa-dosa bapak. Doa seorang anak untuk orang tuanya yang sudah tiada, doa yang terucap dari lubuk hati, mudah-mudahan allah mendengarnya. Huiny sadar ia tak boleh larut dalam kesedihan. Meski semua terasa lebih berat.

Dengan pelan diletakkannya amplop itu di atas meja belajarnya. Masih utuh. Karena ia belum ingin membukanya. Meski ada setitik rasa ingin tahu. Mbak Fathya –kakak tingkatnya yang sekaligus pemberi amplop itu- hanya mengatakan bahwa pengirim amplop itu adalah seorang laki-laki sholeh. Seorang aktivis dakwah yang sudah siap berumah tangga.

Huiny menarik nafas dalam. Entah mengapa. Ia belum siap memikirkan untuk mengakhiri masa lajang. Mungkin lebih tepatnya, ia belum siap mencintai. Cinta? Tiba-tiba nyeri itu hadir kembali. Mencabik-cabik.

Cinta itu bunga
Bunga yang tumbuh mekar dalam taman hati kita
Taman itu adalah kebenaran
Apa yang dengan kuat menumbuhkan
Mengembangkan dan memekarkan bunga itu adalah
Air dan matahari
Air dan matahari adalah kebaikan
Air memberinya kesejukan dan ketenangan
Tapi matahari memberinya gelora kehidupan
Cinta dengan begitu
Merupakan dinamika yang bergulir secara sadar
Di atas latar wadah perasaan kita *

Huiny tertegun. Jika cinta itu bunga, ia ingin bunga yang tak hanya indah namun juga harum. Bunga yang akan menyejukkan hati siapa saja yang memandangnya. Bunga yang mampu mengusir pedih. Bunga yang tak berduri, yang tak melukai. Adakah?

Huiny sadar, ia bukanlah tipe perempuan yang mudah mencintai. Bukan tipe wanita yang mudah jatuh cinta. Mungkin karena ia belum menemukan orang yang tepat. Cinta itu –andai ada- mungkin masih tersimpan rapat.

Karena Bram?

Huiny menggeleng, ragu. Mungkin ya, mungkin tidak. Entahlah. Dia hanya tak ingin mengalami nyeri yang sama. Orang yang paling bisa melukai hati kita adalah orang yang paling kita cintai. Nyeri itu masih terasa hingga kini. Ia tak tahu apakah cinta itu masih bertahta di hatinya.

Ia coba yakinkan bahwa Bram tak pernah mencintainya. Jadi ia sungguh ingin memulai semuanya dari awal. Ia ingin melangkah dengan ringan. Jelang hari esok dan hari-hari yang kan hampiri hidupnya.

“Bantu aku ya Allah, tunjukkan yang terbaik untukku. Aku ingin ikhlas jalani semua takdirmu. Berikan yang terbaik, meskipun itu air mata…”

Mata bening itu terpejam. Khusyuk dalam sujud panjang. Sujud cinta. Sujud kerinduan akan bening kasih-Nya…

*) Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga, M Anis Matta

11 SECERCAH BIMBANG

“Bagaimana Huiny, sudah ada keputusan?”

Huiny diam menahan nafas. Di depannya, tampak Fathya, sabar menunggu adik tingkatnya itu memberi jawaban. Ini adalah proposal yang keenam. Perempuan itu berharap suatu hari nanti Huiny segera menemukan jodoh yang tepat. Huiny sudah sering menolak. Tapi ia tak bisa menyalahkan Huiny. Jodoh tak bisa dipaksa, apalagi bila saat istikharah belum mantap.

Huiny menyerahkan amplop yang belum dibukanya. Di depannya Fathya tersenyum bijak. Sejak pertama kali bertemu, Huiny sudah mencuri perhatiannya. Seorang gadis muda yang begitu bersemangat belajar Islam. Tak ada rasa rendah diri meskipun saat pertama kali bergabung Huiny belum bisa membaca Al Qur’an. Dengan tekun ia mulai belajar Iqro’ 1, mengejanya dengan terbata-bata. Namun semua itu tak mengurangi semangatnya. Huiny juga rajin dating ke majelis ilmu. Aktif dalam organisasi kampus dan mempunyai jiwa seni yang lumayan. Dia adalah anggota inti team teater muslimah dan team nasyid muslimah SKI fakultas. Sering membuat naskah drama dan menciptakan lirik nasyid. Aktivitas gadis itu lumayan padat, namun IP-nya selalu beranjak dari nilai 3,5. Subhanallah.

“Belum dibuka?”

Huiny menggeleng. “Saya takut salah langkah, Mbak,” jawab Huiny lirih. Selama ini semua nama yang datang padanya adalah nama-nama yang sudah dikenalnya. Sudah tak asing baginya.

“Bolehkah bila saya ingin menikah dengan seseorang yang belum saya kenal, Mbak?” tanya Huiny hati-hati.

Fathya tersenyum, “Boleh, namun Rasulullah menyarankan kita mengenal calon pasangan kita.”

“Mungkin saya berlebihan, tapi saya khawatir mereka hanya melihat apa yang tampak dari saya. Saya takut mengecewakan Mbak, bila nanti ternyata saya tidak seperti apa yang diharapkan. Apalagi untuk yang sudah ada rasa, bukankah cinta itu sebaiknya hadir setelah adanya pernikahan?”

Fathya tersenyum. Huiny bersikeras ingin menikah dengan seseorang yang belum dikenalnya. Keyakinan itu tak tergoyahkan, meski ada beberapa aktivis kampus yang coba meminangnya. Bahkan ada beberapa yang dengan jujur mengatakan bahwa ia mencintai Huiny dan minta tolong Fathya untuk menyampaikan maksudnya pada gadis itu. Tapi Huiny tetap teguh pada pendiriannya.

“Saya hanya ingin menjaga hati saya Mbak. Saya hanya ingin mencintai suami karena Allah. Saya ingin cinta hadir setelah penikahan. Apakah itu salah Mbak?”

Fathya menggeleng, “Insya Allah yang ada di amplop itu seseorang yang belum kamu kenal, Huiny. Seorang pemuda yang suami Mbak sudah kenal dengan baik. Tidak ada salahnya dibuka, dan istikharahlah. Jangan khawatir, bila kau menolaknya, tak berarti itu menyakiti hatinya. Dia sudah siap dengan jawaban apapun darimu. Itu adalah ujian baginya dan dia harus ikhlas menerimanya. Bila memang Allah memberikan kemantapan, itu juga sebuah ujian bagi kalian berdua.”

“Mbak, maaf boleh saya bertanya?” tanya Huiny hati-hati.

Fathya mengangguk dan tersenyum.

“Apa artinya bila kita menolak pinangan seorang pemuda yang sholeh dan baik akhlaknya? Apakah kita berdosa? Apakah akan ada kerusakan di muka bumi?”

Fathya tersenyum, “Menikah adalah ibadah. Cepat-cepat menikah bila memang sudah siap, adalah bagian dari berlomba-lomba dalam kebaikan. Bila kita menemukan pemuda yang baik, yang menurut kita sungguh baik, dan ada yang menjodohkan kita dengannya, maka kenapa kita harus menolaknya? Kalau kita menolaknya, mungkin pemuda itu akan menikah dengan gadis yang lain. Mungkin juga belum tentu kita menemukan jodoh yang lebih baik. Meskipun jodoh ada yang mengaturnya, yaitu Allah. Tapi kan kita harus ikhtiar. Di antara bentuk ikhtiar, ketika menemukan yang baik kita harus bersyukur. Bagaimana bentuk syukurnya? Menerimanya dan menikah untuk membentuk keluarga yang islami. Berikhtiar dan menikahnya juga harus sesuai ajaran agama.”

“Lalu bagaimana kalau misalnya kita tidak mencintai suami kita atau sebaliknya? Apakah Mbak Fathya pernah mendengar sebuah pernikahan tanpa cinta?”

“Cinta membuat rumah tangga hangat dan hidup. Tapi ada yang lebih penting dari cinta, yaitu komitmen.”

“Bagi saya sendiri, kadang muncul kekhawatiran Mbak. Apakah saya sudah menemukan orang yang tepat atau tidak? Saya ingin menikah sekali saja seumur hidup. Apakah saya akan bisa menghabiskan sisa hidup saya dengan seseorang. Orang yang sama, Mbak. Yang akan jadi imam saya. Yang akan menjadi ayah dari anak-anak saya.”

Fathya tersenyum. “Kekhawatiran itu amat wajar dan manusiawi. Yang penting kita sudah berusaha, selebihnya kita serahkan pada Allah. Karena Dia yang mengenggam hati kita, juga hati pasangan kita.”

“Apa yang harus saya lakukan, Mbak?”

“Huiny, setiap orang yang memasuki usia menikah pasti punya kekhawatiran-kekhawatiran. Sebenarnya yang lebih penting adalah kesamaan misi dan visi. Insya Allah masalah suku, sifat dan latar belakang yang berbeda, semua akan bisa diatasi. Bukan berarti bisa berubah secara tiba-tiba, namun semangat untuk saling memahami, semangat untuk belajar mencintai, belajar menerima pasangan kita apa adanya, Insya Allah semua itu akan menghadirkan ikatan yang kokoh dan kuat. Yang mampu melahirkan kebaikan, tak hanya bagi keluarga itu sendiri, namun kebaikan itu akan memancar ke lingkup yang lebih lebar, yaitu masyarakat dan lingkungan.”

Huiny tampak serius mendengarkan penuturan kakak tingkatnya itu. Sesungguhnya ia juga sedang belajar, berproses memperbaiki diri. Proses yang akan terjadi seumur hidup, hingga tangan maut menjemput.

12 SEBUAH AWAL

Tak ada alasan untuk menolak pinangan seorang pemuda yang baik. Huiny memutuskan untuk menindaklanjuti proposal terakhir yang datang padanya. Meski kadang muncul sebuah rasa bimbang. Berkali-kali ia sholat istikharah, menyandarkan masa depan ke hadapan Sang Khalik. Menyandarkan semua beban kehidupan, harapan dan cita-cita.

Ia memutuskan untuk melanjutkan proses pinangan Fahri Hamzah, setelah melalui pergulatan batin yang panjang. Ia akan coba membuka komunikasi dengan Fahri, pemuda kelahiran Jakarta, baru lulus dari Fakultas Akuntansi sebuah sekolah tinggi yang bernaung di bawah sebuah departemen pemerintah. Selembar foto yang menyertai biodata itu cukup memantapkan langkahnya. Rahang yang kokoh, sepasang mata lembut dan ciri fisik yang lain. Cukup menyejukkan. Huiny tersenyum. Ya, Allah, berilah aku suami yang indah dalam pandanganku. Tak hanya indah fisik, tapi juga akhlaknya. Begitu selalu doanya dulu. Tak perlu ganteng atau tampan menurut orang lain, yang penting menurut pandangan kita cukup menyejukkan. Terserah bila menurut orang lain jelek. Begitu candanya dulu dengan Aisha –teman kostnya- saat Aisha menanyakan kriteria suami idaman. Apakah wajah juga masuk kriteria utama dalam memilih suami?

Tak perlu waktu lama. Di rumah Mbak Fathya, Huiny dan Fahri pertama kali bertemu. Tentu dengan batas hijab. Ia hanya mendengar suara berat Fahri, tanpa bisa melihat sosoknya. Demikian juga dengan Fahri. Mereka berbicara apa saja. Tentang latar belakang keluarga masing-masing, juga harapan-harapan setelah menikah nanti. Fahri ditemani Mas Arif, suami Mbak Fathya. Sedang ia berada di ruang tengah bersama Mbak Fathya dan si kecil Alifya.

“Bagi saya mencari nafkah adalah tugas seorang suami. Saya ingin istri yang di rumah. Seorang ibu rumah tangga. Tak usah bekerja di luar. Menjaga anak-anak saja dan mengurus keluarga.”

Tanpa sadar Huiny ternganga. Dipandangnya Mbak Fathya yang tampak menahan senyum. Tak salahkah pendengarannya?

“Tapi saya ingin menjadi ibu yang juga bekerja. Bila ibu hanya di rumah saja, anak-anak akan manja dan sulit mandiri. Ibu yang bekerja tak selalu harus menelantarkan keluarganya. Justru membuat anak-anak mandiri dan tak tergantung pada orang lain.”

Terlalu banyak perbedaan. Baik dari pemikiran maupun latar belakang. Diliriknya Mbak Fathya, “Pernikahan adalah menyatukan perbedaan menjadi kekuatan yang indah. Saling melengkapi.”

Huiny tertegun. Benarkah keputusannya sudah bulat? Terlalu banyak perbedaan. Dugaannya, calon suaminya adalah anak mama yang mendapat perhatian penuh dari ibunya yang selalu ada di rumah. Yang selalu siap kapan saja anaknya membutuhkan kehadirannya. Ibu yang selalu siap saat anaknya membutuhkan pertolongan. Model ketergantungan yang tinggi. Sementara ia adalah produk ibu bekerja, yang terlatih mandiri sejak kecil. Ibu Huiny bekerja membantu bapak Huiny mengelola penggilingan padi. Waktu kerja orang tua Huiny tidak mengenal waktu. Kadang dari pagi sampai sore. Bila musim panen padi tiba, sering mereka bekerja sampai larut malam. Anak-anak tinggal di rumah dengan nenek ditemani si mbak. Mereka sudah terbiasa belajar mandiri. Kedua orang tuanya selalu menanamkan bahwa mereka harus bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Menekankan pentingnya mencari ilmu setinggi langit. Dalam kehidupan Huiny kecil, naik kelas dan lulus adalah hal biasa. Menjadi kebanggaan kalau bisa menyandang gelar juara dan diterima di sekolah favorit, di universitas terbaik. Kedua orang tua Huiny sangat berharap kehidupan anak-anaknya akan lebih baik dari orang tuanya. Dan hal itu hanya bisa dicapai dengan memberi pendidikan yang baik. Mereka tidak pernah menuntut anaknya harus menjadi ini dan itu. Hanya berharap menjadi yang terbaik. Dengan pendidikan yang juga lebih baik. Kecintaan menuntut ilmu sudah tertanam dalam diri Huiny sejak kecil.

Bapak dan ibu Huiny memang telah lama tiada. Namun hal itu tak menghalangi Huiny kecil untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Kecintaan dan kerinduan itu sering tersalurkan dengan belajar dan belajar. Ia harus lulus dengan cum laude. Memberikan persembahan terbaik untuk orang tua yang amat dicintainya.

Ada kebimbangan. Calon suaminya mendukung penuh ia menyelesaikan kuliahnya. Tapi tidak boleh bekerja. Duh.

Ia memang ingin jadi ibu rumah tangga. Tapi ia juga ingin bekerja. Setidaknya mengamalkan ilmu yang didapat dengan susah payah. Dan yang lebih penting lagi, ia ingin bisa bermanfaat untuk orang lain. Alasan yang lainnya, ia juga ingin punya penghasilan sendiri. Apakah itu salah?

Selama ini ia berpendapat bahwa wanita pun sebaiknya bisa menghasilkan uang, tanpa harus menelantarkan suami dan anak-anak. Meski banyak orang mengatakan bahwa uang bukan segala-galanya, atau banyak hal yang lebih penting dan lebih mulia dari pada uang. Tetap ada rasa tidak enak bila kita tidak mempunyai uang, lebih-lebih dalam kondisi darurat. Huiny sudah teramat sering mengalaminya. Hal itu juga yang memacunya untuk mandiri dan tidak mau tergantung pada orang lain. Baik secara materi maupun emosi.

“Tenang Huiny, semua bisa dibicarakan. Kita tidak harus mendapatkan suami yang sama persis dengan kita,” Fathya berkata lembut, seakan tahu kebimbangan di hati Huiny.

Bagaimana bisa tenang? Ia sedang mempertaruhkan masa depannya. Masa depan dunia dan akheratnya. Bukankah seorang suami adalah imam dalam rumah tangga? Bukankah suami adalah pemimpin istri? Pemimpin yang harus dipatuhi dan ditaati. Yang bisa membawa istrinya pada kebaikan, di bawah kepemimpinannya.

“Dulu Mas Arif juga keras, tapi sabar saja. Kita bisa memberi pengertian sedikit demi sedikit pada suami kita,” kata Fathya.

Benarkah?! Selama ini Huiny percaya, ia tak akan pernah berharap bisa mengubah seseorang. Karena karakter seseorang memang tak bisa diubah. Pun dengan menikah. Karena pernikahan memang bukan untuk mengubah seseorang. Jadi?!

“Akan saya pertimbangkan lagi Mbak,” kata Huiny lirih.

Tak ada yang bisa dipaksakan. Ia hanya tak ingin mengambil keputusan secara gegabah. Baik menolak maupun menerima. Ia harus melakukan istikharah lagi. Kembali mengadukan bimbang itu ke Yang Maha Memiliki Hati. Andai ia menerima, ia harus siap dengan segala konsekuensinya. Pun andai menolak, harus siap dengan segala resikonya.

13 TENTANG CINTA

...........

14 AKU INGIN

.............

15 KARENA ENGKAU ISTRIKU

.............

16 RASA YANG TAK JUA ADA

............

17 YANG DIRINDU

..............

18 JANJI HUINY

.................

19 BUAH HATI

..................

20 RUMAH CINTA

...................

21 LANGIT BENING JOGJA

.............

22 DAHULU SEMUA INDAH

.............

23 SUNYI YANG MENDERA

.............

24 SUJUD CINTA

..................

25 HUTANG AIR MATA

Anugerah yang tersisa bagi pelaku dosa
Seorang hamba meskipun melakukan perbuatan dosa, maka Allah tetap akan menganugerahkan empat hal. Pertama, Allah tidak menutup jalan rejekinya. Kedua, Allah tidak mencabut kesehatan yang diberikan padanya. Ketiga, Allah tidak memperlihatkan rahasia dosanya di depan umum. Keempat, Allah tidak pula menyiksanya dengan segera di dunia, tetapi ditangguhkan agar dia bertaubat.
(Sa'ad bin Bilal ra)

Bram membaca artikel di sebuah majalah yang baru dibelinta. Hatinya tergetar. Apa yang tertulis di majalah itu sangat menyentuh hatinya. Betapa selama ini Allah telah memberikan anugerah itu padanya. Kecukupan materi yang melimpahi kehidupannya kini, kesehatan dan kedudukan sosial di masyarakat. Anugerah itulah yang kini tengah ia rasakan. Padahal bila menengok ke masa lalu, sungguh ia akan merasa malu. Getiran seorang pezina sungguh dahsyat merobek hatinya.

Kebodohan. Kekhilafan. Kesalahan. Dan entah apa namanya. Melemparnya ke jurang paling dalam. Pandangan hina dan kata-kata yang sungguh menusuk jiwa. Pahit yang mesti ditelannya.

Hatinya sungguh tak rela. Saat orang-orang menyalahkan dan menjelek-jelekkan bapak. Bapak yang selama ini sangat dihormatinya, dan juga dihormati warga di desanya. Bapak yang selama ini kata-katanya selalu didengar. Bapak yang selama ini sudah berbuat banyak, sangat ringan tangan dalam menolong warga yang membutuhkan bantuan. Bapak yang sangat sabar dan berhati setengah malaikat. Kenapa mereka menghujat bapak? Menyalahkan bapak? Dirinya yang berbuat salah, mengapa bapak yang menjadi korban?

Hatinya hancur saat melihat derai air mata ibu

26 RASA YANG TERSISA

................

27 JEJAK KAKI SANG PENDAKI

...............

Rabu, 25 Juni 2008

NOVEL YANG BELUM USAI

Saya, mungkin telah kehabisan daya untuk menyelesaikan novel pertama yang -mungkin- tak pernah usai ini...
Jadi, saya persilakan Anda Pembaca, bila ada waktu, ide dan masukan untuk menyelesaikannya... maafkan keberbatasan saya ini, untuk novel yang belum selesai...

Salam sayang
-seliara-