Kamis, 26 Juni 2008

1 ATAS NAMA KENANGAN

Tak ada yang lebih indah selain mengenang masa kecil. Tertawa atau menangis dalam kesendirian. Hanya atas nama kenangan. Merasakan lembut elusan tangan ibunda. Atau isak yang luluh di pelukannya. Ibu. Ia adalah sumber kedamaian dan ketenangan. Sumber cinta dan kasih sayang.

“Ibu. Tak ada yang lebih indah selain mengenangmu. Tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat senyummu. Senyum kebanggaan saat anakmu mampu berbuat sesuatu yang membuatmu bahagia. Ibu, aku datang menjengukmu. Meski di sini kuhanya beremu dengan nisan beku. Diiring desir angina musim kemarau yang kering. Biarlah Bu, kuingin tumpahkan segala rindu itu. Hari ini anakmu datang menjengukmu. Dengan setangkup cinta dan rindu. Andai saja aku bisa memelukmu, Ibu. Mencium tanganmu yang mungkin mulai keriput. Tapi kau tetap cantik, Bu. Kau tak kan pernah keriput.”

Huiny menahan cairan hangat yang tiba-tiba membasahi dua bola matanya. Sudah lama perempuan itu menyimpan keinginan untuk mengunjungi makam ibunya. Wanita yang telah meregang nyawa, melahirkan dan membesarkannya. Wanita yang amat dicintainya, yang hanya tersimpan dalam kenangan masa kecilnya.

Entah sudah berpuluh tahun dipendamnya asa itu. Bukan jarak yang menahan langkahnya. Tapi segala sesak di dada, kenangan yang telah meluluhlantakkan segalanya. Semuanya.

Di sini, matanya menyapu semua yang tampak di sekelilingnya. Kampungnya telah banyak berubah. Jalan setapak itu telah rapi diaspal. Rumah-rumah penduduk pun sudah banyak yang bagus. Bergaya simple minimalis. Tak kalah dengan model rumah-rumah yang ada di kota besar. Jaman memang telah berubah.

Sesungguhnya setiap hari adalah perubahan. Bayi tumbuh menjadi anak, remaja, dewasa dan akhirnya tua. Circle of life. Lingkaran kehidupan yang semua orang pasti menjalani. Takdir alam yang tak bisa dihindari. Bukan masalah suka atau tak suka. Tak ada kesempatan untuk bertanya. Atau sekedar menawar. Atau sekedar menahan meski hanya satu detik. Waktu senantiasa berputar. Dari tidak ada menjadi ada. Dari ada kembali menjadi tiada.

Seperti cinta. Dari tidak ada menjadi ada. Dari ada menjadi tidak ada. Ada dan tiada. Hanya kata semata. Tapi perlu kesiapan lebih untuk mensikapinya. Dari tidaka ada menjadi ada, pun sebaliknya.

Misalnya saja, dari tidak ada cinta menjadi ada cinta. Perlu proses penyesuaian. Dari ada yang dicintai menjadi tak ada yang dicintai. Tepatnya, orang yang dicintai itu pergi, tinggalkan dirinya. Pun perlu proses penyesuaian. Selain ketegaran dan ketabahan. Karena dari ada menjadi tidak ada selalu menyisakan rasa kehilangan. Kecuali memang ketiadaan itu yang diharapkan.

Dari tidak ada kenangan menjadi ada kenangan. Dari ada kenangan menjadi tak ada kenangan. Mungkinkah? Sanggupkah? Bisakah seseorang menghapus sebuah kenangan dalam hidupnya? Kenangan yang telah tertulis pada lembar-lembar perjalanan hidupnya. Kenangan yang telah mengikutinya sekian lama. Seumur hidup itu sendiri?

Seperti tulisan. Jika kenangan tergores tak cukup dalam, mungkin akan cepat terlupa. Tapi jika kenangan terlukis cukup dalam di dasar hati, mungkin selamanya akan terukir. Seperti fosil yang tinggalkan jejaknya hingga kini. Mungkinkah kenangan seperti itu?

Atau, mungkin yang perlu dilakukan manusia adalah jangan sampai kenangan itu mencegahnya melakukan perbaikan-perbaikan dalam hidupnya. Bukankah manusia harus belajar dari pengalaman? Dari sejarah? Agar tak jatuhpada lubang yang sama. Pada penderitaan yang sama.

Wanita itu rela menempuh jarak cukup jauh, untuk melepas semua kenangan. Yang telah meluluhlantakkan hatinya. Ia tak yakin akan mampu lalui semuanya. Karena kenangan itu memang tak pernah tinggal di suatu tempat. Meski ada tempat-tempat tertentu yang menyimpan kenangan bagi seseorang. Sesungguhnya kenangan itu tempatnya di hati. Semua berpulang pada diri sendiri, apakah mau terkunci kenangan atau melepaskan ikatannya. Yang pasti, semua itu tak mudah dan butuh usaha.

Langkah kecil itu tertatih. Dalam ketegaran yang dipaksakan. Huiny berdiri. Senja turun, menyisakan semburat merah indah di ujungnya. Ingin ia nikmati semua kenangan masa kecil yang tersisa. Akhirnya angan mengantarkannya ke sini. Tanah yang menyimpan bayak kenangan. Kebahagiaan masa kecil Kenangan yang selalu membuatnya menangis.

“Ibu, mengenangmu adalah air mata. Meski berat, aku akan berusaha lalui semuanya, Bu. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik, yang mampu aku lakukan.”

Tubuh ringkih itu berjalan, meninggalkan tanah makam yang berangsur sepi. Para peziarah mulai pulang satu persatu. Tinggalkan tempat peristirahatan abadi itu kembali berkawan sunyi.

2 DUNIA YANG BERPALING

Andai saja bisa, ia ingin melupakan semua kenangan itu. Andai saja mampu, ingin ia mengubur semua dalam-dalam. Sekarang ia hanya ingin jalani hidupnya. Tanpa bayang-bayang masa lalu itu. Susah payah ia bangkit dan bertekad akan jalani sisa usia yang mungkin tak lama.

Huiny menarik nafas dalam. Ada rasa perih yang tersisa. Sms-sms Dee masih tersimpan rapi di hand phone-nya. Kenapa jua kenangan itu menyeretnya kembali, memaksanya memasuki lorong-lorong waktu yang telah berlalu. Memaksanya kembali merasakan semua perih jiwa itu.

Harusnya ia tak perlu menanggapi telepon dan juga sms-sms Dee. Toh ia bisa mengabaikannya. Bisa menolak dengan halus, tanpa harus ada rasa bersalah. Harusnya ia tak perlu menjawab telepon-telepon Dee. Toh ia merasa tak punya urusan dan masalah dengan perempuan itu. Perempuan yang telah mengambil Bram dari kehidupannya! Atau Bram yang telah memberikan hatinya pada perempuan itu? Apa bedanya? Apa pedulinya? Toh ia tak pernah kenal dan tak perlu merasa kenal dengan perempuan itu. Siapa pun dia, Huiny merasa tak perlu tahu. Bukan urusannya.

Bukankah Bram telah memilih? Bukankah demi perempuan itu, Bram tega mencampakkannya? Perselingkuhan selalu menyakitkan. Tapi semua tetap lebih baik sebelum semuanya terlambat. Meskipun perih dan amat sakit, dia harus realistis. Kenyataan telah terpampang di depan mata. Semua sudah jelas, sejelas sinar mentari pagi. Apa yang bisa diharapkan dari sebentuk hati yang telah berpaling? Telah mendua?

Samar diingatnya lirik lagu Iwan Fals,

“…tak mungkin menerimamu bila
ternyata kau mendua membuatku terluka…”

Sejatinya ia tak pernah menyalahkan Bram, atau menyalahkan siapa pun. Dia hanya merasa amat bodoh. Seharusnya ia tak perlu percaya pada laki-laki yang telah membuatnya terbang ke awan itu. Yang pada saat yang sama menghempaskannya ke lembah paling menyakitkan. Harusnya ia tak perlu memberikan seluruh hatinya pada laki-laki itu. Seluruh cinta dan kesetiaan. Cinta yang dirasanya cukup kuat. Ternyata ia salah. Bram bukanlah lelaki seperti yang ia duga. Bram yang penuh cinta, penuh perhatian dan lembut. Cinta pertama berakhir sudah. Bram dengan sadar telah menikam hati perempuan itu hingga berdarah-darah. Hancur berkeping-keping.

Bram tak pernah menghargai semua kasih sayang dan kesetiaannya. Sungguh menyedihkan. Amat menyakitkan. Hatinya telah mendua. Entah mengapa. Sebuah syal yang dirajutnya penuh cinta, ternyata tak cukup kuat mnengikat hati laki-laki itu untuk tidak berpaling pada bunga yang lain. Ternyata begitu mudah bagi Bram untuk pindah ke lain hati.

Mengenang semua itu, Huiny merasakan nyeri luar biasa di dasar hatinya. Ia harus berjuang menyingkirkan rasa tercampak dan terbuang. Ia harus meyakinkan dirinya sendiri, bahwa hidupnya masih punya makna. Bahwa dirinya masih cukup berharga. Sesungguhnya saat itu ia berada di titik nadir. Rasa kehilangan, rasa tercampak, rasa terbuang. Semua rasa itu melemparkannya ke jurang paling dalam. Ia sempat kehilangan kepercayaan dirinya. Sempat kehilangan semangat hidup. Saat itu ia merasa dunia telah berpaling darinya.

Setiap bangun tidur, ia selalu berharap bahwa semua itu hanya mimpi. Tapi semua nyata. Inginnya ia percaya bahwa semua nyata adanya. Tak ada lagi Bram untuknya. Setiap malam, hanya air mata yang setia menemani kesedihannya. Ia sembunyikan luka itu seorang diri. Ia tutup hatinya rapat-rapat. Seandainya cinta itu tak pernah mampir di hatinya, mungkin ia tak akan merasakan sakit yang amat.

Atau, mungkinkah ia yang selama ini salah mengartikan semua sikap dan perhatian Bram padanya? Mungkin saja lelaki itu tak pernah benar-benar mencintainya. Mungkin saja hanya sebentuk rasa kasihan, atas nasibnya yang malang. Mungkin saja hanya naluri sebagai seorang kakak yang ingin melindungi adiknya. Ya, mungkin saja. Huiny coba mengingat-ingat.

Lalu apa arti puisi-puisi indah yang terselip dibuku catatan sekolahnya, saat buku itu dipinjam Bram? Apa arti seuntai bunga edelweiss segar yang selalu dibawa Bram? Saat laki-laki itu pulang dari setiap pendakiannya? Hadiah-hadiah ulang tahun yang ekspresif dan setumpuk perhatian Bram pada dirinya?

“Bram, mungkinkah cinta itu memang tak pernah hadir di hatimu? Sementara ruang hatiku telah penuh mencintaimu. Cinta pertama dan satu-satunya. Tak ada nama selain namamu. Mungkinkah selama ini aku yang terlalu berharap, yang salah mengartikan segala perhatian dan kebaikan hatimu?”

Huiny tak pernah tahu.

3 KALA MAAF JADI KOSA TERINDAH

“Biarlah hati-hati yang terluka, mencari kesembuhannya sendiri. Percayalah, waktu pasti akan membantu, sembuhkan luka jiwa itu.”

Huiny membaca coretan pada sampul depan buku tulis sekolahnya. Tulisan tangannya, entah kapan. Sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil, ia suka menulis apa pun di halaman buku-buku sekolahnya. Halaman depan buku tulisnya selalu ia hiasi dengan tulisan-tulisan. Apa saja. Apa yang ada di benaknya saat itu, spontan saja tertulis.

Sebenarnya semua tulisan itu adalah untuk mengemangati dirinya sendiri. Setelah semua kehilangan itu. Setelah orang-orang terkasih itu pergi dari hidupnya. Tinggalkan ia dalam kesendirian. Kesunyian yang hampa. Yang kadang menyakitkan. Ia coba nikmati semua sakit dan perih jiwa itu. Ia coba salami dan pahami semua yang mungkin sudah jadi jatah dalam hidupnya. Luka yang hiasi perjalanan hidup. Pahit yang mesti ditelannya.

Kini mungkin hatinya jauh merasa lebih tenang. Setelah ia coba berlapang dada menerima semuanya. Ia belajar memaafkan Bram. Mencoba empati. Seandainya ia jadi Bram, mungkin ia akan mengambil langkah yang sama, meski dengan itu harus ada sepotong hati yang terluka.

Sejak Huiny tahu bahwa Bram sudah menjatuhkan pilihannya, ia memutuskan untuk mundur dari kehidupan Bramastya. Pun ia memutuskan untuk menutup ruang hati dan hidupnya untuk makhluk bernama Bram. Tak ada kompromi. Ia harus membenahi hidupnya. Men-set ulang semua cita-cita dan harapannya.

Jujur, apa yang telah dilakukan Bram membuat Huiny terpuruk. Namun perempuan itu segera sadar, ia tak boleh larut dan hanyut dalam kesedihan berlama-lama. Perempuan itu coba memahami dan memaafkan semua yang membuat batinnya terluka. Perempuan itu coba menghibur dirinya sendiri. Ia coba yakinkan hatinya, bahwa sebenarnya Bram tak pernah bermaksud menyakiti dan menghancurkan hatinya. Ia yakinkan dirinya bahwa “kejadian" itu bisa terjadi pada siapa saja. Yang kurang hati-hati dalam menjaga diri.

Jauh di lubuk hatinya, sesungguhnya ia merasa tak sampai hati melihat ‘penderitaan’ yang harus dijalani Bram. Tapi ia juga tak tahu pasti, bagaimana perasaan Bram saat itu. Bahagiakah? Atau, mungkin saja Bram menerima semua ‘kejadian’ itu bukan sebagai penderitan, tapi sebuah ujian dan perjuangan. Ya, mungkin saja. Bram masih harus menyelesaikan kuliahnya, sementara ia juga harus bertanggung jawab sebagai seorang calon ayah. Sebuah tanggung jawab dan tantangan yang tak ringan. Perlu perjuangan dan usaha untuk mampu jalani kedua peran itu dengan baik.

Bagaimanapun Huiny tak mengingkari, ia pernah dekat dengan Bram. Dan mungkin, saat itu Bram adalah satu-satunya sahabat terbaik yang pernah ia miliki. Yang telah menemaninya melewati masa kecil yang indah. Bram, telah banyak memberi warna masa kecilnya. Dan, Bram adalah salah satu dari sedikit orang yang mampu memahami dirinya. Seorang gadis kecil yang pendiam dan tertutup, pandai menyimpan perasaan dan sering ragu-ragu karena tak ingin menyakiti orang lain.

“Bram, aku tak pernah menyalahkanmu. Aku berusaha memahamimu. Aku tahu, mungkin saja kau sudah terhukum dengan perasaan bersalah itu. Aku memaafkanmu, saat itu juga, tanpa kau perlu memohon dan harus memintanya dariku –andai kau merasa bersalah, entah andai tidak-. Aku memaafkanmu bukan karena aku orang yang baik, tapi aku merasa mungkin saja ini memang jalan yang harus kita tempuh. Garis takdir yang harus kita jalani sendiri-sendiri.

Kita tak pernah tahu, bisa jadi kita menganggap sesuatu baik buat kita, namun ternyata yang kita anggap baik itu belum tentu baik. Ada kalanya kita menganggap sesuatu itu buruk, namun sesungguhnya ia baik buat kita. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.

Maafkan bila mulai saat itu kau tak akan bisa menemuiku lagi. Aku bukan hendak menghukummu, tapi aku tak ingin menjadi duri dalam kebahagiaan kalian. Aku tak ingin merusak apa yang baru kalian bangun.

Biarlah aku pergi, mencari ketenangan dan kesembuhan perih yang belum jua pudar. Aku akan melangkah sendiri, meneruskan perjalanan dan perjuangan yang belum usai. Yang entah akan berakhir di mana. Dimanapun akhir dari perjalananku ini, aku berharap semoga ini yang terbaik.”

Huiny membaca sekali lagi tulisan yang tertera pada buku diary-nya. Dihapusnya air mata terakhir. Huiny memang sangat kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Bram. Namun ia tak bisa memungkiri, bahwa di sudut hatinya, rasa itu masih ada. Rasa yang dulu terasa hangat dan indah, kini menjelma menjadi nyeri yang mengiris-iris.

Setiap orang bisa saja melakukan kesalahan dan kekhilafan. Ia tak ingin menghakimi, atau menghukum Bram. Tidak. Tak ada seorangpun yang tahu apa yang akan terjadi esok hari.

Dalam hati Huiny berdoa, semoga Pras belajar dari kesalahan yang telah diperbuatnya. Bertanggung jawab dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Bram adalah serpihan masa lalu yang harus segera dilupakannya. Ia tak ingin terjebak dalam luka dan bertekad akan melanjutkan hidupnya. Membuka lembaran baru. Membuang semua yang sudah usang.

Dengan sadar, Huiny menyingkirkan benda-benda yang mengingatkannya pada Bram. Semuanya. Seperti antibiotik yang membunuh semua bibit penyakit sampai ke akar-akarnya. Ia hanya ingin kehidupannya steril dari virus bernama Bram. Itu saja. Ia hanya ingin melanjutkan hidupnya.

Diraihnya diary itu, sebuah perjalanan hati yang harus segera diakhirinya.

‘Cinta adalah pengorbanan
memutuskan mencintai berarti memutuskan berani berkorban
cinta sejati tak pernah egois
pecinta sejati akan bahagia bila orang yang dicintainya bahagia
tak peduli bersama siapa
semoga kebahagiaan akan selalu menyertaimu
siapa pun yang dampingi hidupmu kini
kuharap dia yang terbaik untukmu
meskipun itu
bukan aku

biarlah aku meniti sepi seorang diri
kala mencintaimu adalah perih
saat kusadari bahwa
tak pernah ada
aku
dihatimu

Selamat tinggal Bram
Selamat tinggal kenangan’

Air mata Huiny menetes. Terdengar senandung lirih dari tembang lawas milik Ebiet G Ade, coba menghibur lara di hatinya. Tegarkan sebentuk jiwa yang patah, yang sedang berdarah.

“…ternyata mengagungkan cinta
harus ditebus dengan duka lara
tetapi akan tetap kuhayati
makna sakit hati ini
telah sempurnakah kekejamanmu..”

4 HUINY

Lembut, pendiam, pintar, berjilbab. Dan mungkin juga cantik. Itulah perempuan yang selalu disebut-sebut Bram. Perempuan yang begitu beruntung karena berhasil menempati ruang istimewa di hati Bram.

Dee selalu berusaha menyembunyikan bara yang berkobar di hatinya, setiap melihat binar di mata Bram, saat lelaki tampan itu bercerita tentang Huiny. Kelihatan sekali kalau Bram sangat mencintai gadis itu. Huiny. Huiny. Selalu Huiny. Begitu istimewakah gadis bernama Huiny itu?

Tapi, kenapa ia harus cemburu pada Huiny? Bram bukan apa-apanya, hanya seorang teman, tak lebih. Dan sudah ada Mas Tommy, seseorang yang pasti amat menyayanginya. Meski itu hasil perjodohan antar orang tua. Tapi melihat Bram yang selalu bercerita tentang Huiny, mau tak mau ada juga rasa cemburu terbersit di hati gadis tomboy itu.

“Ini hadiah dari Huiny,” kata laki-laki itu, sambil tangannya menunjuk sebentuk syal. Saat itu mereka sedang melakukan pendakian bersama. Dee melihat syal hijau lumut yang tampak melingkar di leher Bram. Ada nama Bram dan Huiny yang tertera cantik di kedua ujung syal itu. Dee tersenyum, menutupi rasa cemburu yang tiba-tiba memenuhi rongga dadanya.

“Dia merajut syal ini sendiri, katanya sih, neneknya yang mengajari merajut. Lucu ya, hari gini, masih ada gadis yang bisa merajut. Dia bahkan merancang dan menjahit sendiri baju-bajunya,” kata Bram dengan tersenyum. Dee menangkap kebanggaan dalam nada bicara Pras.

“Kok kamu nggak ngajak Huiny naik gunung sih Bram? Apa dia tidak suka?” tanya Dee mengalihkan pembicaraan.

“Huiny? Pasti dia akan senang sekali kalau bisa ikut. Merasakan letihnya pendakian dan menikmati segala keindahan dari puncaknya. Hm…segar sekali di sini, aku janji akan membawakan edelweiss untuknya,” jawab Bram sambil tangannya melihat hamparan rumput menghijau.

“Selama ini ia cukup puas melihat semua keindahan itu melalui foto.Atau lewat majalah National Geographic, majalah kesukaannya. Bapak huiny cukup tegas. Dia amat menjaga dua anak perempuannya, Huiny dan kakaknya. Jangankan naik gunung, dibonceng naik motor sama teman laki-laki saja tidak boleh,” jawab Bram sambil tertawa kecil.

“Masih kolot ya bapak Huiny itu. Kenapa ia tidak dipingit saja sekalian?” kata Dee.

Bram hanya mengangkat bahu. “Mungkin kolot sih tidak ya, malah menurutku cukup demokratis, mau ambil jurusan apa saja silakan, asal bertanggung jawab. Tapi untuk hal-hal tertentu memang agak tegas, misalnya SMA Huiny harus kos, agar belajar mandiri dan belajar hidup terpisah dengan orang tua. Buat latihan karena kuliah kan adanya di luar kota, supaya tidak kaget berjauhan dengan orang tua. Boleh juga sih ikut ekskul pramuka, boleh juga pergi berkemah. Dengan syarat kegiatan itu yang mengadakan pihak sekolah dan ada guru yang ikut serta bertanggung jawab,” kata Bram panjang lebar.

Dee hanya tersenyum. Mencoba membandingkan ayah Huiny dengan papanya. Papa tak pernah melarang sedikit pun. Dee bebas melakukan apa saja yang dia kehendaki. Bahkan papa sepertinya tampak biasa saja, saat Dee minta ijin beliau untuk pergi mendaki gunung dengan Pras dan empat teman lelakinya. Hanya Dee yang perempuan. Papa biasa saja, tidak tampak khawatir dan percaya padanya. Papa percaya Dee bisa menjaga diri, dan Dee juga berusah menjaga kepercayaan yang sudah diberikan papanya. Apalagi bagi keluarga Dee, Bram bukan orang lain. Kebetukan mama Dee mempunyai usaha kos-kosan dan Bram adalah adik kandung Mbak Tiara, anak kos kesayangan mama Dee. Mbak Tiara sangat memperhatikan kebersihan kamar, sikapnya sopan dan lembut. Juga karena Mbak Tiara selalu tepat membayar uang sewa kos, tidak seperti penyewa lain yang harus ditagih-tagih baru bayar. Itulah kenapa mama Dee sangat saying pada Mbak Tiara dan sudah menganggapnya sebagai keluarga sendiri. Apalagi Mbak Tiara sudah cukup lama kos di tempat mama Dee, dari masuk kuliah hingga sekarang hampir wisuda. Jadi, orang tua Dee pun sepertinya sudah menganggap Bram bagian dari keluarga mereka.

Bram sering main ke tempat kakaknya. Saat itulah ia kenal dengan Dee. Meskipun anak orang kaya, Dee tidak sombong. Pembawaannya yang selalu ceria dan supel,membuat gadis periang itu mempunyai teman cukup banyak. Tidak sulit bersahabat dengan Dee, karena ia juga pandai bergaul. Bram merasa cukup nyaman berteman dengan Dee. Dee yang terbuka dan apa adanya. Dee yang ekspresif dan sangat perhatian. Berbeda dengan Huiny yang agak pendian dan sedikit tertutup. Bersama Dee, ia merasa bebas bercerita apa saja. Bebas mengungkapkan segala hal yang menyesakkan jiwa. Dee yang baik dan perhatian, selalu setia mendengar segala ceritanya. Pun tentang hubungannya dengan Huiny yang terasa kian jauh, Bram bebas menceritakannya pada Dee.

Bagi Bram, Dee adalah seorang teman yang menyenangkan. Bram tahu bahwa orang tua Dee telah menjodohkan gadis itu dengan Tommy, anak relasi bisnisnya. Selain itu juga jauh di lubuk hatinya, sudah ada sebentuk nama yang mengisi ruang istimewa di hatinya, nama itu adalah Huiny. Huiny adalah cinta pertama yang singgah di hatinya. Huiny yang pendiam dan sungguh sulit teraih. Huiny, cinta yang membuat malam-malamnya resah dan singnya gelisah. Sungguh sulit rasanya membuka kominikasi dengan Huiny. Mereka kuliah di kota yang sama. Tapi, mereka jarang sekali berkomunikasi kalau boleh dibilang hampir tak ada komunikasi. Kesibukan kuliah? Ego yang masih sulit disingkirkan?

Kadang Bram merasa, Huiny begitu sempurna. Kadang ia merasa Huiny tak pantas untuknya. Bram tidak pernah tahu apa yang ada di hati Huiny. Gadis itu sungguh sulit didekati. Perasaannya sulit ditebak. Kadang ia merasa Huiny sangat sayang dan perhatian padanya. Namun di saat yang sama, ada kekhawatiran bahwa ia tak akan mampu membahagiakan Huiny kelak.

Huiny pun tampak menjaga jarak. Apalagi saat ia mulai aktif ikut kajian di kampus dan memakai jilbab. Hal itu membuat Bram merasa agak sungkan dan kadang terbersit rasa tak pantas.

Bram terpekur, membayangkan percakapannya dengan Ikhwan saat mereka berdua sholat di masjid kampus.

“Kenapa kalian tidak menikah saja?” tanya Ikhwan, temannya yang aktif di rohis fakultas.

“Maksudmu Wan?”

“Kamu lamar Huiny dan kalian menikah, beres kan?”

“Tapi, Wan…”

Ikhwan tersenyum dan menepuk bahunya lembut. Ia mencoba memahami masalah yang membuat kawannya gelisah akhir-akhir ini.

“Aku bisa mengerti mengapa Huiny tampak menjaga jarak denganmu. Bukankah memang sudah seharusnya begitu? Seorang muslimah harus menjaga kehormatannya dari laki-laki yang bukan mahramnya. Bila kamu memang sudah mantap, aku sarankan lebih baik menikah saja. Menikah adalah ibadah, sunnah rasul, jalan untuk memelihara kesucian diri, mengasah tanggung jawab dan akan mematangkan proses pendewasaan diri.”

Sejak itu Bram dan Ikhwan sering terlibat diskusi tentang pernikahan. Selain itu Bram juga menyaksikan sendiri, banyak kakak tingkat dan teman-temannya sesame mahasiswa yang melakukan pernikahan di usia muda. Nikah sambil kuliah. Istilah untuk mereka yang memutuskan menikah sambil meneruskan aktivitasnya kuliah. Dunia yang penuh dengan pernak perniknya. Bukan sesuatu yang mudah, tapi memang setiap keputusan selalu ada konsekuensinya. Setiap pilihan ada resikonya.

Untuk lebih memantapkan hatinya, Bram banyak membaca buku-buku yang berhubungan dengan pernikahan. Hingga suatu saat hatinya sudah bulat. Ia ingin melamar Huiny dan mereka akan menikah. Mengarungi bahtera rumah tangga. Merasakan pahit manisnya kehidupan. Bersama-sama.

Ia ingin memberikan surprise pada gadis itu. Bram sengaja tak menceritakan rencananya itu pada Huiny. Ia sangat mencintai gadis itu dan merasa yakin Huiny juga pasti akan menerima pinangannya. Sikap Huiny sudah jelas. Ia tidak pernah melihat Huiny menjalin hubungan dengan pemuda lain. Bahkan sebelum Huiny aktif ikut kajian dan mengenakan jilbab. Gadis itu sangat menjaga dirinya. Mungkin hanya dialah satu-satunya teman dekat Huiny di masa kecil. Bersama jalani masa SMP dan SMA. Huiny yang tertutup dan pendiam. Entah kenapa cinta itu tumbuh begitu saja. Pada sosok yang biasa dan sederhana.

5 IJINKAN AKU, IBU

“Apa? Menikah?” alis ibu naik beberapa millimeter. Perempuan setengah baya itu tampak terkejut.

“Ada apa sih, Bram? Coba cerita sama Ibu,” dengan lembut direngkuhnya Bram untuk mendekat. Ibu selalu begitu. Hangat dan penuh perhatian.

“Bram ingin menikah, Bu…” suara Bram tercekat di tenggorokan. Wanita yang masih tampak cantik di usia senja itu tersenyum.

“Dengan Huiny?”

Bram mengangguk sambil tersipu. Ada debar di hatinya. Ia tahu ibu sangat menyayangi Huiny. Ibu juga tahu kalau selama ini anak laki-lakinya itu sudah lama menaruh hati pada Huiny, teman SMP-nya. Nalurinya sebagai seorang ibu, mengatakan kalau anak laki-lakinya tersayang itu sedang jatuh cinta.

“Bram,” ibu sengaja menggantung kalimatnya, “Ibu dan juga bapakmu memang sangat mengharapkan suatu saat nanti kamu akan menikah dengan seorang wanita yang baik. Yang kamu sayangi dan pastinya juga wanita yang mencintai kamu. Yang bisa kamu ajak mengarungi suka dan duka. Wanita yang membuat kamu merasa tenteram. Yang akan menjadi ibu dari anak-anakmu.”

Bram tersenyum, namun ia tetap menunggu kalimat ibunya. “Tapi Bram…” ibu tampak menghela nafas dalam-dalam.

“Tapi apa, Bu?” tanya Bram tak sabar. Selama ini ia tak pernah menyela pembicaraan ibunya. Ia sungguh menyayangi dan menghormati wanita yang telah melimpahinya dengan cinta dan kasih saying itu.

“Mungkin waktunya tidak sekarang. Nanti kalau kalian sudah lulus. Kamu baru semester enam. Masih kuliah dan belum bekerja. Mau dikasih makan apa istrimu nanti?”

“Tapi, Bu…” pandangan mata ibu menyiratkan ibu tak mau disela.

“Menikah itu tidak gampang, Bram. Sabarlah dulu. Orang tuanya Huiny juga belum tentu mengijinkan. Kuliah Huiny kan juga belum selesai. Mungkin lebih baik kamu konsentrasi dulu, belajar yang rajin menyelesaikan kuliahmu dan cepat mencari pekerjaan. Mudah-mudahan semua berjalan lancer. Nah, setelah kamu bekerja dan punya penghasilan sendiri, Ibu janji akan melamar Huiny buat kamu.”

“Tapi, Bu…” bibir Bram terasa kelu.

“Tidak ada tapi lagi. Ibu juga malu melamar Huiny, sementara kamunya masih belum berpenghasilan. Kalau bapaknya Huiny tanya, mau dikasih makan apa anaknya, Ibu harus bilang apa? Ibu percaya, huiny adalah wanita yang baik buat kamu. Huiny pasti akan sabar menunggumu. Ibu rasa, dia juga sangat mencintai kamu…”

Bram diam mematung. Ibu tidak salah, Ibu benar. Tapi Huiny. Ia mencintai gadis itu, sejak pertama kali melihatnya. Saat ia masih kelas 5 SD dan sekolah mereka mengadakan pertandingan persahabatan. Cinta pada pandangan pertama. Huiny. Gadis sederhana itu tiba-tiba saja memenuhi ruang di hatinya.

Kebetulan mereka diterima di SMP yang sama dan kebetulan satu kelas saat kelas satu. Dia bisa mengenal gadis itu lebih dekat. Cinta yang hadir semakin tumbuh dan bersemi. Huiny, seorang gadis yang sederhana, pemalu, pendiam dan tidak genit seperti gadis-gadis lainnya. Justru dia cenderung tertutup. Dan mata bening itu. Mata yang menyiratkan sinar kesedihan, sunyi dan murung. Bram ingin sekali tahu, ada apa di balik mata bening Huiny.

Gadis sederhana dan pemalu. Entah kenapa hatinya terpenjara setiap melihat gadis berambut panjang itu. Ada rasa ingin melindungi dan rasa ingin membuat mata bening itu tak lagi murung.

“Ijinkan aku, Ibu. Ijinkan aku merengkuh perempuan terkasih itu. Dalam ikatan suci yang diridhoi-Nya. Aku hanya ingin membuatnya bahagia. Mata bening itu, menyimpan duka yang entah apa. Ijinkan aku, Ibu. Bilakah?”

Bram coba mengurai dadanya yang agak terasa sesak. Hidup adalah pilihan. Dan kini hidup menghadapkannya pada dua pilihan yang begitu berat. Antara dua wanita yang amat dikasihinya. Bram hanya dapat menarik nafas dalam. Keputusan ibunya sudah bulat.

6 DEE, APA YANG TERJADI PADAMU?

Sudah beberapa hari ini Dee merasakan badannya pusing dan berat. Setiap bangun tidur perutnya sering terasa mual dan selalu ingin muntah. Seperti pagi itu, setengah berlari ia masuk kamar mandi. Tak lama kemudian terdengar bunyi muntahan keluar.

Mama Dee bukannya tak memperhatikan perubahan yang terjadi pada putri semata wayang mereka. Nalurinya sebagai seorang ibu mengatakan ada sesuatu yang lain dengan anak gadisnya itu.

“Kamu sakit, Dee?” tanya Mama Dee begitu dilihatnya Dee keluar dari kamar mandi dan berjalan melewati ruang makan.

“Iya Ma, mungkin hanya masuk angin,” jawab Dee. Mukanya kelihatan pucat.

“Sekarang ganti baju dan ikut Mama periksa ke Dokter Basri,” kata Mama Dee lembut namun tegas. Segera wanita paruh baya yang masih tampak cantik dan energik itu menyuruh Pak Bejo, sopir keluarga mereka untuk bersiap-siap.

Di klinik Dokter Basri, Dee segera melakukan serangkaian pemeriksaan dan berbagai tes. Mama Dee sangat mengkhawatirkan keadaan putrinya itu. Sore harinya Mama Dee kembali ke klinik Dokter Basri untuk mengambil hasil tes. Tak seperti biasanya, sore itu Dokter Basri mengajaknya bicara empat mata. Dokter keluarga itu menyuruh perawat yang ada di ruangan untuk keluar.

“Bagaimana hasil tes anak saya, Dokter?”

“Hasil tes darah dan urin semuanya baik. Memang kadar Hb-nya agak rendah, tapi tidak apa-apa. Hal ini biasa terjadi pada pasien yang…” Dokter Basri tampak menghentikan penjelasannya.

“Ada apa dengan aanak saya, Dokter?” Mama Dee kelihatan begitu cemas.

“Dee positif, Bu. Putri Ibu kadar HCG-nya tinggi,” kata Dokter Basri hati-hati, sambil menunjukkan hasil pemeriksaan HCG test pack.

“Apa Dokter?! Maksud Dokter anak saya hamil?! Apa tidak salah?!” Mama Dee langsung histeris.

“Sabar Bu, tenang dulu. Berdasarkan hasil pemeriksaan ini, kadar HCG putri Ibu memang tinggi. Tingginya kadar HCG biasanya terjadi pada wanita hamil dan wanita dengan kelainan hormone tertentu. Coba nanti saya akan memeriksa lebih lanjut. Apakah benar putrid Ibu sedang hamil atau memang sedang mengalami kelainan hormonal…” jelas Dokter Basri panjang lebar. Apapun penjelasan Dokter Basri, Mama Dee sudah tidak bisa konsentrasi lagi.

Nalurinya sebagai seorang Ibu mengatakan kalau Dee sedang hamil. Perubahan bentuk tubuh Dee akhir-akhir ini. Sikapnya yang tidak seperti biasanya. Dee yang biasanya ceria dan periang akhir-akhir ini tampak lebih pendiam. Semula ia mengira Dee sedang tidak enak badan. Semula ia mengira Dee agak stress karena sekarang putrinya sedang mengikuti tes masuk beberapa perguruan tinggi. Dee baru lulus SMA dan begitu bersemangat melanjutkan kuliah. Sebagai orang tua yang baik, Mama Dee sangat mendukung niat putrinya itu.

Mama Dee sibuk mengira-ira. Mungkinkah Dee hamil? Dengan siapa? Tommykah? Orang tua macam apa hingga tak bisa menjaga anaknya? Mama macam apa? Apakah salah bila selama ini ia memberi kebebasan penuh pada Dee? Ia hanya tak ingin Dee merasa terkungkung dan terkurung. Selama ini ia tak pernah membatasi teman-teman Dee. Bahkan Dee pernah beberapa kali pergi keluar kota bersama teman laki-lakinya, selain dengan Tommy. Dee juga sering bepergian dengan Tommy, toh keduanya sudah dijodohkan. Mama Dee sangat percaya Dee bisa menjaga diri. Dia juga percaya Tommy akan menjaga Dee dengan baik. Mama Dee ingat, terakhir kali Dee pergi keluar kota bersama Pras. Saat itu Dee sedang mendaftar kuliah. Bram yang selama ini dikenal baik dan sopan. Mungkinkah Bram?

Mama Dee masih ingat, saat akan berangkat ke Malang untuk mendaftar kuliah di kota apel itu, Dee sempat marah pada Tommy. Bukannya mengantar Dee, saat itu Tommy malah pergi dengan teman-temannya ke Bandung. Akhirnya Dee pergi bersama Pras, yang kebetulan sedang liburan semester. Sepulang dari Malang, Mama Dee merasakan perubahan pada putrinya. Saat itu ia hanya berpikir Dee sedang stress karena memikirkan akan kuliah di mana. Ia khawatir tidak diterima di Fakultas Ekonomi. Ya, sejak kecil Dee memang menyimpan keinginan menjadi seorang akuntan.

Mama Dee tak pernah menduga putrinya mengalami ‘kejadian yang mengkhawatirkan’ selama di Malang. Selama ini ia hanya menduga Dee sedang stress memikirkan kuliah. Itu saja. Bukan hal-hal yang tak pernah dibayangkannya!

“Dee, apa yang terjadi padamu?!” pertanyaan itu bertalu-talu memenuhi pikiran Mama Dee.

Mama Dee memutuskan segera pulang ke rumah. Keinginannya hanya satu, menanyakan kebenaran pada putrinya itu. Jika memang Dee hamil, ia bersiap dengan aib besar yang akan mencoreng nama baik keluarganya yang terpandang.

“Dee, apakah benar kamu hamil, Anakku?! Dengan siapa? Katakan semua pada Mama!”

7 CINTA TAK HARUS MEMILIKI

“Aku ingin jadi dokter,” mata bening itu berbinar.

Bram tersenyum, “Semua cita-citamu akan tercapai. Aku yakin itu.”

Mata bening itu membulat. “Oya, kenapa kau seyakin itu?”

“Karena…” Bram sengaja tak melanjutkan kalimatnya. Di depannya, Huiny tampak tak sabar menunggu kalimat Bram selanjutnya.

“Ayo Bram, kenapa? Karena aku pintar ya…hehe…” kata Huiny sambil tertawa.

Bram menggeleng. Huiny cemberut, dan Bram senang melihat ekspresi perempuan yang amat dicintainya itu. Lucu sekali.

“Ih, jangan terlalu percaya diri. Siapa bilang kamu pintar?”

“Terus, apa dong?”

“Aku yakin, suatu saat nanti kamu akan jadi dokter. Dan aku juga yakin semua yang kau cita-citakan akan tercapai. Karena…” Bram berhenti, mukanya tampak serius.

“Karena kau akan selalu mendoakanku,” lanjut Huiny, sudah hafal dengan apa yang akan dikatakan Bram.

“Ya betul, karena aku akan selalu mendoakanmu…” jawab Bram sambil tersenyum, begitu yakin dan percaya.

Mata bening itu tertawa. Dan Bram senang melihat senyum di wajah Huiny. “Terima kasih Bram, kau baik sekali…”

Bram amat paham mengapa Huiny ingin sekali menjadi dokter. Gadis pendiam itu begitu terobsesi dengan cita-citanya.tak ada yang dilakukannya selain belajar dan belajar. Meraih nilai terbaik dalam setiap mata pelajaran. Hatinya pun mudah tersentuh oleh penderitaan orang lain. Jiwa sosialnya amat tinggi. Jika ada teman yang sakit, ia akan mengkoordinir teman-teman untuk menengoknya. Atau mengumpulkan dana untuk mengadakan bakti sosial pengobatan gratis di tempat-tempat yang membutuhkan. Kebetulan ia kenal baik dengan Dokter Yuniar, dokter puskesmas yang juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Jadilah mereka sebuah tim yang kompak.

Namun yang lebih penting dari semua itu, Huiny kecil pernah merasakan kehilangan yang sangat, saat ibu yang amat dicintainya meninggal dunia. Saat itu kebetulan dokter jaga sedang menolong kelahiran di suatu tempat, dan ibu Huiny terlambat mendapatkan pertolongan . Kehilangan itu amat memukul jiwa Huiny kecil. Saat itulah ia bertekad menjadi dokter. Ia hanya tak ingin ada Huiny-Huiny kecil lain yang kehilangan ibu yang sangat dicintainya, hanya karena terlambat mendapatkan pertolongan seorang dokter!!

“Seandainya saat itu ibu cepat mendapatkan pertolongan dokter, mungkin…..” mata bening Huiny tampak berkabut.

Ingin Bram merengkuh tubuh ringkih yang sedang bersedih itu. Namun seakan ia tak bisa bergerak dari tempat duduknya.

“Aku berjanji akan membuatmu bahagia. Aku akan melakukan apa saja untuk membuatmu tak menangis lagi.” Bram berjanji pada dirinya sendiri. Mata bening itu menyimpan kesedihan, sunyi dan murung. Huiny yang pemalu dan pendiam. Entah kenapa ia sangat mencintai gadis itu. Ia ingin melindungi gadis rapuh itu. Pada saat yang sama, gadis itu bisa tertawa sekaligus menangis bila ingat kesedihannya. Seperti saat itu.

Dan kini, doa Bram terwujud. Sekarang Huiny sedang kuliah di kedokteran, seperti cita-citanya waktu kecil dulu. Seperti keyakinan Bram saat itu. Namun janji itu tinggal janji. Bram tak pernah memenuhi janjinya untuk selalu membuat Huiny bahagia. Untuk selalu menemani gadis itu dalam suka dan duka. Sesuatu yang terjadi saat itu telah menciptakan jarak tak tertempuh antara dirinya dengan Huiny. Hanya dalam hitungan detik, entah sadar entah tidak. Tak ada jalan kembali, meski hanya sekejab.

“Maafkan aku, Huiny. Meski kutahu, segunung kata maaf dariku tak kan mampu mengusir lara di hatimu.”

Selalu ada kalut, saat ingatannya terpaut pada gadis bermata bening itu. Bahkan Bram tidak tahu, dimana dan bagaimana Huiny kini. Andai ia bukanlah seorang pengecut. Andai ia tak harus melukai mata bening itu. Rasa bersalah it uterus mengikutinya. Sangat tidak adil perlakuannya terhadap Huiny selama ini. Tapi sungguh, ia tak berdaya.

“Aku hanyalah seorang pengecut yang tak punya nyali, yang tak pernah berani. Bahkan untuk sekedar menatap mata beningmu. Semoga kau mengerti. Semoga suatu saat nanti. Aku bukan yang terbaik untukmu, meski aku sangat mencintaimu…”

Ada perih saat lamat-lamat dari kejauhan terdengar sepenggal lirik Roman Picisan milik Dewa

“….cintaku tak harus…miliki dirimu….”

Mata Bram berkabut, jiwanya mendung. Ada hampa di ruang hatinya.